Nguli-ah Kerja Nya[n]ta[i] (Bag- II)

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2016
Nguli-ah Kerja Nya[n]ta[i] (Bag- II)

Warna-Warni Sebelas Mahasiswa Beragam Fakultas

Kami dikumpulkan menjadi satu kelompok secara acak. Tidak ada yang pernah mengenal satu sama lain sebelumnya. Jauh sebelum dimulainya kegiatan KKN, kami melakukan pertemuan secara rutin seminggu sekali untuk membicarakan tentang keberlangsungan selama KKN. Mulai dari penyusunan proposal, proker selama satu bulan, survey lokasi, dsb. Pertemuan itu tidak hanya untuk membicarakan hal-hal serius, namun lebih kepada untuk mengenal karakter satu sama lain. Dan saya rasa, dari situlah solidaritas dan rasa saling memiliki terbentuk.

Saya bersama teman-teman membagi fokus program pekerjaan pada beberapa bagian. Beberapa diantara kami diserahi tanggungjawab penuh untuk pelaksanaan proram fisik. Sedangkan sisanya, diserahi tanggungjawab pada kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, seperti mengajar di sekolah dasar, TPA, pengenalan kesenian daerah, perlombaan 17 Agustus, dsb.

Untuk lebih mengenal mereka, berikut rangkuman singkat dari saya:

Gaung Malik Akbar Azaning Jagat

Pria yang berasal dari Fakultas Ilmu  Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Sosiologi. Ia didaulat menjadi ketua kelompok (dan entah karena kami tak ingin repot mencari nama kelompok, maka jadilah nama panggilannya disepakati menjadi nama kelompok KKN). Secara keseluruhan, ia cukup bertanggung jawab dalam berbagai hal, terutama soal pengerjaan program fisik. Tak jarang pula ia bekerja hingga larut malam dan menginap di rumah Ketua RT Kampung Baru demi menyelesaikan program fisik dan hal-hal urgent lainnya.

Di balik namanya yang bisa dijadikan nama bagi dua anak manusia sekaligus, terdapat karakter “kewanita-wanitaan” dalam kesehariannya, hal itu terbukti dari lamanya durasi mandi setiap harinya. Selain itu, bagi saya, ia ketua yang memiliki kenarsisan tingkat dewa.

Anggi Giovani

Bila ada perempuan yang paling vokal membahas proker dan menyinggung soal aturan di suatu rapat atau evaluasi, itu pastilah dia, Anggi Giovani, Mahasiswi Fakultas Sains dan Tekhnologi  (SAINTEK) Jurusan Agribisnis. Saya menyukai gaya kritisnya menanggapi statement kawan-kawan. Bagi saya, ia termasuk galak sekaligus kawan yang asyik. Dan di kelompok, ia diserahi posisi sebagai Sekretaris. Hal yang kadang membuat ilfil dari dia adalah: buang angin sembarangan.

Anies Nur Fiitriani

Ia bendahara yang super protektif menjaga keuangan. Tidak salah bila ia yang paling memusingkan soal nota yang lupa tercatat ataupun pengeluaran dana yang boros. Ia mahasiswi Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi (FIDKOM). Tidak dipungkiri bila gaya komunikasinya termasuk yang paling baik diantara kawan-kawan lain, caranya bercakap, berbaur degan masyarakat, dsb. Selain itu, sama seperti Anggi, ia paling rajin bersih-bersih di kontrakan. Kawan berantem setiap hari, sebab badannya kekar seperti Hulk.

M. Syaifuddin

Lebih familiar disapa Ate, seorang kawan berperawakan kekar dari bagian Timur Indonesia. “Pelobi” berbakat dalam banyak urusan. Ia Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Ia lebih banyak terjun dalam kegiatan kemasyarakatan dan pengerjaan program fisik selama KKN. Lucu dan loyal walau porsi tidurnya lebih banyak dari teman-teman.

Afdi Syahreza

Pria paling protektif untuk urusan keamanan, baik dikontrakan maupun selama dalam perjalanan. Ia mengaku sebagai anak touring yang katanya, mesti siap dengan berbagai kendala di setiap saat. Ia mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Jurusan Management Pendidikan. Pria yang memiliki postur paling tinggi diantara kawan-kawan lainnya ini, untuk urusan ibadah harian, patut diacungi dua jempol.

Reyza Cucunya Haji Saman

Pria yang memiliki hobi travelling ke berbagai daerah di Indonesia. Untuk urusan logistik seperti mengantar barang-barang ke kontrakan tempat kami tinggal, pengadaan beberapa hadiah perlombaan dsb, dikerjakaan penuh oleh lelaki berperawakan kurus ini. Bahkan ia tak segan-segan meminjamkan mobilnya untuk digunakan mengantar barang, demi meminimalisir pengeluaran dana kelompok. Ia mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). Karakter yang lucu dan suka bersih-bersih.

Deni Ramadhani

Pria yang paling pandai soal perangkat komputer. Selama KKN, ia lebih banyak bertugas sebagai dokumentator. Ia mahasiswa Fakultas Sains dan Tekhnologi (SAINTEK). Ia pula yang berjasa dalam pengerjaan blog desa Tegallega dan pembuatan film Dokumenter. Ia yang pertama kali memperkenalakan aplikasi menyanyi asyik “Smule”.

Ismail Faruqi

Ia dinobatkan sebagai kawan paling tidak jelas selama KKN. Alasannya sederhana, yakni karena sering muncul secara tiba-tiba, dan pergi tanpa pamit secara tiba-tiba pula. Ia mahasiswa Fakultas Ushuludin (FU) Jurusan Tafsir dan Hadis. Namun sebenarnya ia kawan yang asyik diajak ngobrol dan ngopi-ngopi. Ia kawan yang paling bagi saya.

Fita Safitri

Ia kawan kelompok yang paling sedikit bicara, kecuali untuk hal-hal penting. Mengenali Fita, tak jauh seperti mengenali Ismail. Mereka berdua hampir sama; kerap muncul dan hilang tiba-tiba. Ia mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Jurusan Tarjamah. Perempuan yang kalau mengajar, sering korupsi waktu. Dan di waktu-waktu tertentu, mengeluarkan “kata-kata mutiara” yang tidak dapat dirangkum dalam deskripsi singkat ini.

Vika Fatimatuz Zahra

Kawan yang rutin bangun paling pagi demi buang air. Katanya, memang sudah menjadi rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan. Ia mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ia berasal dari Bengkulu, menempuh SMA di Surabaya dan kuliah di Jakarta. Kebiasaannya buang angin sembarangan adalah bakat yang diberikan Tuhan sejak lahir. Mungkin.

Demikian rangkuman singkat dari saya, meski di beberapa bagian, dirasa kurang penting untuk diceritakan.

SDN Nunggaherang; Secercah Harapan Anak-Anak Desa Pertambangan

Selama hampir satu bulan, saya berkesempatan untuk menemani kegiatan belajar anak-anak kelas VII SDN Nunggaherang 01. Bahagia sekaligus miris. Bahagia karena melihat dan merasakan langsung antusias belajar mereka yang menggebu-gebu, menempuh perjalanan jauh pulang-pergi dengan berjalan kaki, dan keceriaan mereka menerima pelajaran dari guru. Dan miris karena keterbatasan pihak sekolah menyediakan dalam buku-buku pelajaran, jumlah guru yang tak memadai, perawatan sekolah yang nampak kurang maksimal, juga orang tua yang tidak bisa berbuat banyak untuk keberlangsungan pendidikan anak-anak mereka karena terkendala ekonomi, membuat saya prihatin tentang bagaimana kelanjutan pendidikan mereka kelak.

Dalam beberapa kesempatan, tidak bosan-bosannya saya coba memberikan pengertian kepada anak-anak bahwa pendidikan, di jenjang apapun, sungguh penting dan sangat bermanfaat untuk masa depan (sebab sebagian besar mereka, terutama dari kalangan anak-anak lelaki, seusai menamatkan Sekolah Dasar, mereka lebih memilih menjadi ikut membantu orang tua menjadi buruh kasar atau kuli bangunan). Sulit memang, tetapi tak banyak pula yang dapat dilakukan mahasiswa yang sekadar menunaikan tugas dengan tenggat waktu yang amat singkat.

Hal lain yang membuat saya prihatin adalah soal standar pendidikan di sekolah dasar. Di sekolah ini, barulah saya mengerti tentang maksud program pemerataan pendidikan yang digagas oleh pemerintah. Dulu, saya tidak mengerti maksud sebenarnya dan mengira bahwa standar pendidikan kota dan desa itu sama saja. Saya mengira, semua sekolah di manapun, sama seperti sekolah dasar saya dulu di Samarinda. Kenyataannya tidak, di desa ini saya menemukan hal yang di luar persepsi saya selama ini mengenai pendidikan di Indonesia. Pendidikan layak terhadap anak-anak belumlah merata sepenuhnya. Berangkat dari pengalaman singkat mengajar di sekolah tersebut, setidaknya itulah yang dapat saya simpulkan.

Keluarga Bapak RT Adalah Keluarga Kami

Pada bagian akhir ini, saya ingin menceritakan pula tentang Pak RT Suhanda, seorang tokoh kampung sekaligus ayah angkat kami yang telah berbaik hati menerima kami di Kampung Baru untuk pertama kalinya. Ia banyak memberikan usulan serta bantuan terhadap pengerjaan program-program fisik yang kami canangkan. Dengan dibantu warga sekitar, atas intruksinya pula, pekerjaan kami terasa lebih ringan.

Selain itu, perhatian keluarga Pak RT sangatlah penuh kepada kami, terutama Bu RT. Atas tawarannya untuk meyediakan makanan kami, sebab padatnya jadwal kegiatan dari pagi sampai sore hari, selama satu bulan kesehatan kami terjamin. Tidak ada yang sakit, apalagi kelaparan karena tidak ada yang masak.

Kami semua berterimakasih sekali kepada keluarga Pak RT yang telah berbaik hati kepada anggota kelompok selama kami berada di sana.

Bagian Akhir Catatatan Ini

Tegallega berisikan kenangan-kenangan. Tentang keramahan warga-warganya yang saling bersapa setiap kali bertemu. Keceriaan anak-anaknya yang menghabiskan separuh waktu untuk bermain dan mengaji. Suasana malam yang sunyi dan kelam. Tegallega adalah candu untuk dapat merasakan suasana serupa di sana pula kelak, entah dimana, di waktu dan di tempat yang berbeda.

  • view 182