Nguli-ah Kerja Nya[n]ta[i] (Bag- I)

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 September 2016
Nguli-ah Kerja Nya[n]ta[i] (Bag- I)

 

Nguli-ah Kerja Nya[n]ta[i] (Bag- I)

Oleh: Imam Budiman

 

Tegallega; Desa yang Terjajah Truk-Truk Raksasa

Jauh sebelum saya membayangkan lokasi dimana kelak saya akan ditempatkan bersama kawan-kawan satu kelompok, saya sudah banyak mendapat kabar dari senior-senior yang sudah lebih dulu melaksanakan KKN di tahun-tahun sebelumnya. Saya menanyakan hal yang sama, setidaknya kepada dua tingkat almameter di atas saya yang kini sedang menggarap skripsi dan telah diwisuda. Apa yang mereka ceritakan, tak jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan sebelumnya; sebuah desa yang terpencil, desa yang kesulitan mendapat air, akses jalan yang rusak, pendidikan masyarakatnya yang minim, dsb.

Sehingga bukan hal yang mengejutkan lagi setibanya saya di sana. Dengan perbekalan informasi yang ada, saya bersama kawan-kawan satu kelompok, memantapkan hati untuk berangkat setelah acara pelepasan yang dihadiri langsung oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, M.Ed usai dilaksanakan.

Tegallega, sebuah desa kecil di bagian sebelah barat kota Bogor, yang dikelilingi perusahaan tambang besar batu dan pasir, tempat yang menurut saya kurang nyaman untuk ditinggali oleh penduduk sekitar. Bagaimana tidak, sebuah desa kecil dengan jalan utama yang digunakan sebagai perlintasan truk-truk raksasa pengangkut batu dan pasir membuat risih warga dengan suara derunya yang keras dan membuat was-was keselamatan warga dengan kapasitas angkutan truk yang amat besar.

Bila cuaca sedang terik, debu-debu berterbangan memerihkan mata, membuat kita harus menahan napas beberapa detik agar tidak terhirup debu-debu yang cukup membuat dada sesak. Begitu pun ketika hujan, debu-debu yang semula berterbangan tak tahu arah, sekonyong-konyong menjadi lumpur di sepanjang jalan. Ini merupakan pemandangan yang amat lumrah di desa ini.

Tidak ada kendaraan bermotor atau pun roda empat yang benar-benar bersih “kinclong” di desa ini, sebentar saja, bila hujan deras mengguyur desa, semua terlihat nampak kotor di sana-sini. Membuat warga yang berjalan kaki mesti melepas sendal dan menggulung celana hingga ke lutut, menggendong anak-anak mereka dengan hati-hat agar tak terjerembab jatuh. Anak-anak sekolah dasar pun tak luput dari problem “jalan setan” ini, tak jarang seragam merah-putih mereka, sesampainya di sekolah, telah bercampur dengan warna lumpur.

Butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan darat dengan menggunakan sepeda motor dari kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Satu jam pertama ditempuh dengan jalan yang mulus kisaran waktu 60 Km per-jam, dan satu jam berikutnya ditempuh dengan jalan terjal berbatu kisara waktu, paling cepat 40 Km per-jam. Di tengah perjalanan untuk mencapai desa, tak jarang pula kubangan lumpur pekat yang kami lalui. Cukup melelahkan untuk perjalanan yang sebenarnya, tak begitu banyak memakan waktu, hanya saja dipersulit dengan problem yang paling klasik bagi sebuah desa pinggiran, yaitu: akses jalan utama.

Speaker Masjid; antara Mirip Moncong Babi dan Bid’ah

Ada hal unik dan jarang saya jumpai di desa-desa kecil lain umumnya, salah satunya adalah, masyarakat yang anti speaker. Tidak ada suara azan yang dikumandangkan setibanya waktu salat lima waktu. Setelah beduk ditabuh bertalu, sebagai tanda masuknya waktu salat, suasana desa kembali senyap. Lebih-lebih pada tiga waktu: Maghrib, Isya dan Subuh. Mulanya, saya cukup heran, begitu banyak pertanyaan yang muncul.

1) Apa pihak mesjid tidak mempunyai daba kas mesjid? Padahal ketika salat Jumat setiap minggunya, seperti yang saya ikuti beberapa kali, kotak amal diedarkan kepada seluruh jamaah.

2) Apakah tidak ada anggaran dari Kelurahan atau Desa untuk membeli perangkat pengeras suara? Ah tidak mungkin, terakhir saat saya dan kawan-kawan sekelompk menyambangi Balai Desa untuk acara penutupan, saya melihat estimasi anggaran dana yang cukup fantastis untuk ukuran pembangunan desa, dana yang dianggarkan tidak kurang dari 1,2 Milyar! Sangat tidak masuk akal dengan dana anggaran sebesar itu, perangkat pengeras suara tidak dapat terbeli.

Jawaban sementara dari saya, jelas, pihak pengelola masjid dan desa memang sengaja tidak menganggarkan hal tersebut untuk alasan yang akan saya paparkan di belakang nanti.

***

Bukankah azan merupakan suatu yang lazim dikumandangkan di tempat-tempat peribadahan umat muslim? Lagi, sebuah pertanyaan lain muncul. Mengingat, mayoritas atau bahkan boleh dikatakan seluruh masyarakat di desa Tegallega beragama Islam. Tapi mengapa masyarakat justru nampak abai dengan hal ini. Tidak ada inisiatif dari masyarakat sendiri, entah untuk alasan apa. Sebagai pendatang, saya semakin ingin tahu. Menyimpan banyak pertanyaan ganjil.

Pernah pada suatu malam, Mantan Kepala Desa Tegallega dua periode yang meminjamkan rumahnya –yang sedianya diperuntukan bagi anak sulungnya kepada kami untuk ditinggali selama KKN, Bapak Haji Gunawan, menyambangi kami di awal-awal kedatangan kami di sana. Rumahnya persis berhadapan dengan rumah kami. Di antara isi obrolan dan perkenalan kami dengan beliau, adalah soal masyarakat yang anti terhadap speaker. Beliau mengatakan, kalau masyarakat yang anti speaker memang sudah terjadi sejak lama –entah kapan bermulanya dan menjadi tradisi di setiap tempat peribadahan yang akan dibangun untuk tidak memasang pengeras suara.

Mendengar penuturan dari Haji Gunawan tersebut, tidak membuat saya puas. Saya rasa ada penyebab lain yang lebih masuk akal tentang tradisi ganjil tersebut. Kegiatan agama masyarakat Tegallega, terutama dari kalangan pria dewasa, dapat dikatakan berjalan sangat baik. Pengajian-pengajian di malam hari bagi kalangan bapak-bapak di mesjid. Di lain tempat, masih di waktu yang sama, anak-anak belajar mengaji al-Quran setiap malam di surau-surau. Masyarakat Tegallega, meski sebagian besarnya dengan pendidikan terbatas, memiliki karakter masyarakat yang cukup agamis dalam menjalankan ibadah.

Keheranan saya semakin bertambah, ketika pada suatu waktu, saya bersama seorang teman memenuhi panggilan tim monitoring dari PPM untuk melaporkan hasil kegiatan dan proker di Desa Sukaraksa, desa yang berdekatan dengan kantor Kecamatan Cigudeg. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke sana –dengan jalan yang lagi-lagi membuat saya sering menggerutu sendiri di jalan--. Ketika baru menempuh perjalanan setengah jam, tepatnya di Kampung yang masih belum begitu jauh dari Tegallega, saya memperhatikan masjid-masjid warga yang dibangun, kesemuanya menggunakan speaker! Masih di kampung yang belum begitu jauh, mengapa di sini justru masjid-masjidnya, dengan leluasa menggunakan speaker?

Saya semakin tidak mengerti. Kebingungan saya bertambah-tambah.

***

Belakangan, di suatu obrolan santai, saya menanyakan hal ini kepada Anies, seorang teman perempuan satu kelompok. Saya mendapatkan jawaban yang agak lucu dari dia, namun setelah saya desak dengan penuh keragu-raguan atas jawaban nyeleneh itu, dia mengatakan kalau jawaban itu tidak main-main.

“Masyarakat sini nggak pakai speaker, soalnya itu loh, TOA-nya mirip moncong babi,” ujarnya dengan mimik wajah serius. Spontan saya terbahak-bahak mendengarnya. Namun ia buru-buru menambahkan, kalau jawaban itu ia peroleh dari salah satu masyarakat desa yang bercerita padanya, kalau ada seorang tokoh sesepuh ulama kampung yang memfatwakan, haram menggunakan pengeras suara, karena TOA-nya mirip moncong babi.

Hidung babi? Saya tak habis pikir mendapat jawaban menggelikan itu.

Kalau memang cerita ini benar adanya, yang patut disayangkan adalah yang membuat aturan tidak tertulis ini adalah ulamanya sendiri. Lucu. Saat seluruh umat muslim mensyiarkan agama dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan dikumandangkan azan, namun mereka memfatwakan apabila azan dengan pengeras suara (yang mirip dengan moncong babi itu tadi)  tidak diperbolehkan.

Sepemahaman pendek saya, bentuk syiar, apa pun sarananya, selama tidak melanggar ketentuan syariat, tentu diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan. Tidak ada yang salah untuk menggunakan pengeras suara untuk kegiatan keagamaan. Justru akan lebih memudahkan untuk banyak hal. Urusan bentuk pengeras suara yang menyerupai moncong babi, tentu tidak dapat dijadikan alasan kongkrit sebuah hukum diterapkan, lebih-lebih hukum agama. Kasihan masyarakat, memiliki persepsi yang keliru terhadap speaker, dan dibiarkan terus-menerus tersesat dalam persepsinya.

***

Dan pada akhirnya, saya mengusut persoalan ini dengan mencari informasi yang lebih detail di internet. Barangkali ada seseorang atau tim yang pernah membahas persoalan ini dan sedikitnya bisa menjawab kebingungan saya.

Benar saja, saya menemukan sebuah catatan perjalanan wartawan Tempo ke daerah-daerah di mana masyarakatnya anti terhadap speaker. Rupanya, masyarakat anti-speaker tidak hanya terbentuk di Kampung Desa Tegallega, tapi juga di desa lain, seperti Cibalung, Legok Bean, Ciapok, Kamung Mara Cideung, Jaonggo, dan Jonggol. Beberapa kampung lain juga masuk kategori anti-speaker, yang tersebar di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Ditanya soal alasan mengapa masyarakat anti terhadap speaker, berikut penuturan sesepuh desa yang tidak ingin disebutkan namanya:

 “Sebagian besar warga kampung menganggap speaker, radio, dan televisi merupakan barang yang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.
Menggunakan speaker di masjid dianggap sebagai bid’ah (tata cara peribadatan yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad).”

Mendapat jawaban ini, setidaknya membuat saya agak tenang. Lebih logis dan masuk akal. Meskipun tentu saja, definisi dan pengertian bid’ah yang dipahami oleh masyarakat aspek, dapat dikiritisi lebih jauh di ranah kajian yang lebih mendalam. (Imam Budiman)

 

  • view 244