Kebisuan Masyarakat Tambang Batu Tegallega - Imam Budiman

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Kebisuan Masyarakat Tambang Batu Tegallega - Imam Budiman

Kebisuan Masyarakat Tambang Batu Tegallega

; selama satu bulan dalam kegiatan KKN

 

kepul debu yang dibawa oleh truk-truk besar yang setiap hari berlalu di pelataran gubuk, sudah menyatu dengan kulit kami yang legam dan penuh luka; luka apatis juga luka kebodohan. kepul debu yang menyesakkan rongga dada kami. kepul debu yang membumbui jajanan anak-anak kami. kepul debu yang kapan pun dapat merenggut nyawa kami.

akses informasi sengaja dihalang-halangi masuk, tak boleh ada televisi di rumah-rumah warga, tak boleh memasang speaker di surau-surau! jangan ada seorang pun yang mengkritisi aturan yang sudah sejak lama diberlakukan dan dibuat oleh orang-orang berseragam di balai desa. aturan ini disampaikan pula oleh kyai-kyai kampung –yang anehnya- mengharamkan apa yang diperbolehkan dan sudah lumrah di kalangan luas. bila menentang, berarti sama saja kualat. tak ada yang berani membantah, sebab kami mesti dituntut untuk menurut saja, tanpa diizinkan bertanya, mengapa harus demikian?

jalan-jalan kami bukan jalan yang sengaja diperuntukan untuk kegiatan manusia, kami hanya sekadar menumpang beraktifitas di jalan yang apabila becek, sungguh bisa menenggelamkan mata kaki. jalan-jalan kami lebih dikuasai besi-besi beroda besar yang dari waktu ke waktu, meruntuhkan gunung-gunung kami satu persatu.

kami tahu, pendidikan kami tentu tak sebaik yang tinggal di perkotaan. selepas tamat sekolah dasar, sebagian besar diantara kami, lelaki-perempuan, memilih untuk bekerja atau nyantren. tidak sedikit diantara kami, para dewasa berkepala empat yang buta huruf. kami terlalu polos untuk dicekoki segala macam bentuk doktrin. kami sepenuhnya percaya kepada yang mengenyam pendidikan, lebih-lebih yang memiliki embel-embel titel di belakang namanya, meski kami sebetulnya menyadari, tak jarang kami dibodoh-bodohi dengan berbagai macam dalih ini-itu. namun, daya kami terlampau lemah untuk membantah.

namun, meski kejanggalan demi kejanggalan belum juga terjawab, sampai hari ini kami tetap mengajarkan anak-anak agar berupaya mencintai kampung kecil di pelosok barat ini sepenuh penghayatan jasad-jasad yang kian renta oleh kesewenangan aparatur desa.

kami tak boleh melawan. kami tidak diperkenankan untuk menentang. entah sampai kapan.

Ciputat, 2016

  • view 206