Sapardi Djoko Damono dalam Puisi-Puisi Imam Budiman

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Sapardi Djoko Damono dalam Puisi-Puisi Imam Budiman

Tuan Tuhan

; jawaban puisi Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Tuan’

 

aku tak sedang berada di luar

tuan, tuan tunggulah sebentar, biar kuseimbang jalanmu

adakah tuan mau bertemu dan berbincang sebentar pada Tuhan?

di dunia ini yang semestinya tak boleh tua itu siapa?

di hidup ini yang semestinya tak boleh lancang itu siapa?

 

dengarlah

tuan ini Tuhan bukan?

Tuhan ini tuan bukan?

 

2014

(Sepilihan sajak “Kampung Halaman”, hlm. 19)

 

Puisi Untuk Sapardi Djoko Damono

; Genap usia ke-75 perayaan si pemilik Hujan Bulan Juni

 

usiamu kini di pucuk puisi, telah menggantung di ranting senja

mari kita rayakan sejenak, di batas napas kian ternak

di sisa sajak dan puisi yang tak  tak lagi memiliki jarak

 

mari kita, aku-kau-dia bermain dan bertengkar pada bahasa

untuk bersimbah kalimat, bait dan larik memintal sulam-sulam sapa

 

“Menyatulah pada tongkat puisi-puisi”

 

di hari kelahiran Soekram, aku ikut serta datang dan kau terlihat bahagia

tetapi ia merasa jenuh dan justru melompat dari karangan cerita

kaukabarkan pada rumah kediaman kami, bahwa tak lama lagi

hujan yang kerap kauceritakan tak sekadar menjadi jelmaan puisi

melainkan akan berbentuk kembang-berbunga prosa

 

“Saya berjanji pada diri sendiri,

untuk menyelesaikannya setiba bulan Juni nanti

persiapkan tisu sehabis-habisnya,” katamu sembari bersiul.

 

“Maka, menarilah bersama puisi-puisi”

 

20 Maret, 2015

(Sepilihan sajak “Kampung Halaman”, hlm. 95)

 

Ruang Tamu Sapardi, I

     ; satu jam berbincang bersama SDD

 

aku suka sekali ruang tamu ini

sebuah wayang berdiam kaku di dinding sepi

 

tiada maksud kedatanganku kali ini, tuan, untuk

meminang kata-kata bersitindih di hurufmu

melainkan mengemuka tanya,

siapa yang tengah berbisik di balik kabut yang

tempo hari pernah kaukisahkan dulu?

 

aku datang kemari dan mencatat apa saja

yang melompat, tersedak, luap-ledak

dari sarang suaramu, tuan

kuraba-raba serak napas dan masa lalu, hingga

aku merasa segan mempersoalkan mengenai

‘nokturno’-mu dan ‘nocturno’ kepemilikan

si jalang kata; Khairil Anwar

 

kuhabiskan jamuanmu, tuan, kemudian

meminta diri untuk undur pamit

 

aku takut lebih banyak bertanya lagi

sebelum kau padam berucap,

 

“Sontoloyo sekali pertanyaanmu!”

 

2015

(Sepilihan sajak “Kampung Halaman”, hlm. 118)

 

Ruang Tamu Sapardi, II

     ; ketika menyerahkan buku “Perjalanan Seribu Warna”

 

From: Sapardi Djoko Damono-

“Datanglah besok pagi. Pagi-pagi sekali.

Sebelum saya berangkat mengajar di Pascasarjana IKJ

(Institut Kesenian Jakarta)”

 

untuk yang ke sekian menghadap, tuan, di gembala pagi

sepanjang jalan ciputat belum tercemari debu api

suatu hal purna bersejarah;

demi meminta kau menerima sajak-sajak picisan

 

jelang pagi teramat khidmat itu,

kita bertukar sehimpun sajak dan tanda tangan

 

hanya kita berdua

di ruang tamu

berdua

kata

 

2015

(Sepilihan sajak “Kampung Halaman”, hlm. 119)

  • view 312