Seseorang yang Ingin Menjadi Pengarang

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juli 2016
Seseorang yang Ingin Menjadi Pengarang

Menjelang Pagi, Kamar 10, Darus-Sunnah

Dinihari selalu memberikan kita perenungan panjang, di balik sunyi dan tanpa kegaduhan suara. Embun turun, perlahan, dan itu tak segaduh hujan besar yang acapkali memekakkan telinga –meskipun suatu kali kau pernah bilang, hujan, bagaimanapun bentuknya, merupakan keindahan yang paling arif.

Aku masih terjaga, prihatin pada diri sendiri, terlebih pada cerita-cerita yang kuketik melalui keyboard netbook-ku. Mempertanyakan satu hal: Aku ini pengarang bukan?

***

Perkenalkan, Saudara, namaku Atmopini. Seorang pengarang yang tak pernah dapat menyelesaikan tiap karangan dengan sempurna. Ya, karangan apapun, barang satu cerita pendek. Apa pasal? Entah, aku juga tak mengerti. Semoga ini bukan semacam kutukan. Aku saja tak berminat membaca lebih jauh tulisanku sendiri. lucu bukan? Pengarang yang tidak dapat menghargai karyanya sendiri.

Jadi, jika di akhir cerita ini nanti, kau merasa tak terpuaskan dengan apa yang  kini tengah kaubaca, ya terima saja. Setidaknya kau tidak menggugat pada redakturnya, “Tulisan sejelek ini kok dimuat?” Toh, aku sudah bilang kan? Jangan ngedumel. Tak perlu berwajah masam begitu.

Begini, biar kuceritakan sedikit padamu. Sebenarnya aku ini sudah berusaha mengarang dengan baik, fokus, sefokus-fokusnya, agar cerita yang kutulis, dapat rampung dengan plot, alur cerita dan juga ending yang baik. Pengarang mana yang tak ingin cerita disukai oleh pembacanya? Itu impian. Itu adalah puncak kepuasan seorang pengarang. Aku sudah berusaha melakukan itu. Tapi apa daya, memang begini adanya, hargai saja sedikit usahaku ini.

Pernah suatu kali, aku berpikir untuk berhenti dari kegiatan mengarang. Tentu bukan tanpa alasan. Aku sudah lelah. Payah rasanya menghabiskan waktu berjam-jam -bahkan hingga sepanjang malam kulalui di hadapan laptop butut pemberian Pak Sukiman- untuk mengetik beberapa karangan-karangan. Merelakan diri untuk tidak tidur. Setelah terkumpul beberapa karangan yang kubuat, segera kucoba mengirimkannya pada beberapa surat kabar.

Mulanya aku masih bisa bersabar, “Mungkin masih dalam daftar tunggu pemuatan,” tebakku dalam hati, menerka-nerka. Namun setelah menunggu selama sebulan, dua bulan hingga memasuki bulan ketiga, hasilnya nihil. Lima karangan yang kukirimkan kepada lima surat kabar yang berbeda tak ada yang dimuat, barang satu pun jua. Kecewa? Sangat. Bagi pengarang ingusan sepertiku, aku terpukul sekali.

Pernah pula aku berkutat dengan setumpukan buku-buku teori tentang menulis. Kurasa, semuanya tak berpengaruh banyak. Dan di salah satu buku filsafat yang kubaca, kuperdapati Emmanuel Kant berpendapat –ia tentu saja serupa nabi bagi pengagum-pengagumnya: 1) Teori tanpa kenyataan adalah bayangan, 2) Kenyataan tanpa teori adalah buta, 3) Tanpa kenyataan dan tanpa teori adalah ketiadaan, 4) Adanya kenyataan dan teori adalah rasionalitas.

Lantas bagaimana? Jadi, apa aku harus paham teori dulu baru mengarang? Atau aku harus menulis dulu baru paham teori? Atau apakah sebaiknya, aku tak usah mengarang dan tak perlu repot-repot paham tentang teori? Mungkin. Kepalaku terasa semakin berat.

Tapi ya sudahlah, ini hanya soal keinginanku. Boleh jadi kau malah teramat muak mendengarnya. Mungkin aku yang terlalu tinggi ditimang ambisi buta. Ingin menjadi pengarang hebat kok karangannya begitu-begitu saja. Aku, hingga kapan pun, memang tak layak –tak seharusnya- menjadi seorang pengarang.

Lebih baik aku bercerita saja ya? Boleh toh? Lupakan soal keinginanku menjadi pengarang itu.

***

Aku berasal dari suatu kampung, kampung yang teramat latah. Kampung di mana anak-anak mudanya serba ingin mengikuti arus zaman dan gaya hidup modern. Padahal mereka berstatus sosial rendah, kalangan menengah ke bawah. Hingga akhirnya aku berpikir dan memutuskan untuk pergi ke ibukota, melanjutkan kuliah.

Namun, penilaianku selama ini justru salah besar. Ternyata kehidupan ibukota tak kalah latahnya. Aku bertemu anak-anak kampung serupaku pula di sini. Entah kenapa pula aku menjadi sangat muak pula mendengar, ketika antar sesama mereka saling bersapa dengan mengucapkan ‘elu-gue’ dengan dialek yang menggelikan.

Ah, apa bedanya kalau begini? Kampung dan kota sama saja. Kita ini sama-sama anak kampung, Bung! Jangan sok. Lauk makan kita masih ikan asin. Tempat kita bermain juga masih di persawahan cukong Cina.

Kini statusku adalah salah seorang mahasiswa di kampus besar kota ini. Kampus yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Kalau bukan karena beasiswa, tentu aku tak sampai kesini. Beasiswa? Tidak, tunggu dulu. Perlu kuklarifikasi, semua sebab keberuntungan saja, beasiswa kurang mampu tepatnya, bukan prestasi. Ya, tak patut berbangga diri.

Sedangkan di kelas, dibanding dengan kawan-kawan sebaya dari daerah lain, aku tergolong yang biasa-biasa saja. Kaya? Tidak, di kampung, bapak hanya seorang pandai besi dengan gajih yang cuma cukup beli tusuk gigi.

Adapun Ibu, ia memilih sibuk dengan urusannya di rumah mengurusi adik-adikku yang masih kecil, sembari mengambil upah mencuci baju tetangga dengan upah alakadarnya. Bicara kelebihan, mungkin tampan? Ya, aku tampan, itu kata ibu dulu sewaktu aku masih SMA. Terlebih ketika aku mematut diri di cermin belakang pintu rumah kontrakan kami; rambut klimis dengan minyak urang-aring dan kancing seragam sekolah putih abu-abu yang sering kukancingkan hingga seleher. Melihat itu, ibu selalu bilang:

“Tampan sekali kau, Nak.” Aku limbung. Seketika merasa tersanjung bak seorang pangeran negeri dongeng. Meskipun terkadang, aku tak suka dengan kelanjutan ucapan ibu yang berupa pujian itu, “Setelah kau pulang sekolah, jangan lupa jualan kue kelilingmu mesti habis terjual ya.”

***

Kenalkan, aku Atmopini. Saudara sendiri siapa? Saudara belum menyebut nama sedari tadi. Oh ya, aku lupa kalau sudah memperkenalkan diri di awal tadi. Saudara masih berkenan mendengarkan‘ocehan’-ku? Baiklah, sebentar dulu, perkenankan aku ke belakang, biar kuseduhkan kopi pahit untukmu. Kalau saudara suka, biar kutambahkan pula sedikit crimer di atasnya.

***

Anyelir terserupa wewangi senja di ladang peziarah kampung bunga. Malam kian naik, seekor pungguk memicing mata. Terheran-heran pada tingkah tanduk seorang lelaki yang membusurkan tatap ke arah bulan, menerawang sesuatu. Lelaki itu, aku.

Mungkin pungguk itu sama herannya denganmu, melihat aku yang berbeda dari biasanya. Akhir-akhir ini aku kerapkali merasa risih, gelisah dan tak keruan. Nampaknya, aku tengah jatuh cinta pada seorang perempuan, namanya, Amaliah. Nama lengkapnya Amaliah Fitriani Noor.

Sepintas, nama yang anggun bukan? Seanggun pemiliknya. Namun, jangan bertanya arti nama padaku, yang jelas, setahuku itu berasal dari susunan aksara Hijaiyyah. Benar, itu nama yang berasal dari bahasa Arab. Kau mengerti bahasa Arab? Sama, aku tidak juga, aku hanya bisa sedikit-sedikit. Jelek-jelek begini, dulunya aku pernah mengenyam bangku pesantren.

Sudahlah, ke mana arah pembicaraan kita?

Mula-mula, kami bertemu saat acara buka puasa bersama di organisasi tempat di mana kami ditugaskan. Ia seorang anak Kyai besar di kota ini. Cantik rupawan, cerdas, dan tentu saja memesona. Untuk alasan se-klasik itu, aku mencintainya.

Sebenarnya, sudah lama aku memendam perasaan ini. Semenjak purnama bulan sekedirian cengkih mengandung anak si mata wayangnya. Pun semenjak hujan dan gerimis menjadi berbeda dalam penyebutannya. Tapi memang dasar aku yang pengecut. Aku tak cukup berani mengatakannya.

Namun ada hal lain selain itu yang mesti kau tahu, Saudara. Aku cukup sadar diri dengan keadaan dan kedudukan yang serba kurang ini. Seperti yang sudah kuceritakan di awal, aku ini hanya seorang pengarang. Pengarang yang seringkali karangannya tertolak oleh eksekutor berwujud redaktur halaman sastra. Pengarang yang merasa dibodohi dengan hasil karangannya sendiri.

Mana mungkin pula aku nekat meminangnya. Kalaupun ingin, aku harus menjadi hebat di mata ayahnya, melebihi atau setidaknya sepadan. Sekurang-kurangnya, aku mesti memiliki pekerjaan tetap. Bukankah begitu? Halah, urusan pinang meminang di masa sekarang ini tuntutannya macam-macam. Tak sesederhana membeli anak ayam di pasar becek kampung kami.

Konon, kerumitan-kerumitan itu perlu dilakukan karena alasan pernikahan adalah suatu yang sakral. Padahal, toh prostitusi dilegalkan di mana-mana oleh pemerintah. Kalau hanya sebab ingin ‘mengenyangkan’ peliharaan di bawah pusar itu, aku bisa saja pergi ke lokalisasi. Tetapi untungnya, aku penganut agama yang (cukup) taat. Aku takut dosa.

***

Aku sadar, Saudara. Sadar sesadar-sadarnya. Ceritaku ini tak semenarik pengarang-pengarang lain di luar sana. Kau lebih baik dariku. Mereka lebih baik dari kita. Begitu seterusnya. Itulah permasalahanku selama ini. Aku tak pernah menghasilkan apa-apa dari cerita-cerita yang kutulis. Mendapat honor? Tidak.

Ada yang membaca pun sudah syukur sekali. Cerita ini belum berakhir. Aku pun tidak tahu, kapan akan berakhir dan  dapat menyelesaikannya dengan baik. Kau terpuaskan? Apa sekarang aku sudah pantas disebut pengarang, Saudara?

Ciputat, 2015

*) Imam Budiman, Penikmat sepi dan Pegadang garis keras.

  • view 299