Balada Ramadan dan Syawal [Puisi Imam Budiman]

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 05 Juli 2016
Balada Ramadan dan Syawal [Puisi Imam Budiman]

Balada Ramadan dan Syawal

Ramadan telah usai bersinggah ke pelataran hari dan lambung kita; membiak sekian makna, mencari hikmat di balik lapar dan dahaga.

Ramadan mendedah isyarat pisah,
"Bila tiba waktuku, aku akan datang di tahun depan sebagai peziarah yang kembali dititah," ujarnya sembari melambaikan kedua tangan ke segala arah.

Sebelum bergegas kembali menuju ufuk, Ramadan sempat bersalaman dan menyapa Syawal yang akan mengemban tugas dari sang Khalik.

"Saudaraku yang baik, di harimu esok penghuni langit dan bumi bersuka cita. Anak manusia akan saling menerakan kata maaf pada purba bebatu, hutan kelayang, arus sungai tak berhulu, putik bunga di padang rimba dan ruas-ruas tulang dedaunan." Ramadan memeluk Syawal. Menahan tangis yang nyaris buncah.

Syawal kehilangan kata. Dan ia turun ke Bumi, disambut jutaan takbir yang melesat menuju arasy-Nya.

Samarinda,
Ied Fitr, 1437 H.

  • view 287