Ketika Kau Telanjang Seorang Diri di Kamar Mandi

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juni 2016
Ketika Kau Telanjang Seorang Diri di Kamar Mandi

Karena kehidupan itu telanjang, tubuh yang telanjang merupakan simbol kehidupan yang paling benar dan mulia. –Kahlil Gibran

Aku menamai diriku Be. Kau bisa memanggilku dengan sebutan apa pun. Aku bukan jenis manusia sepertimu, bukan pula hewan, tumbuhan ataupun jin. Aku baru saja diciptakan dengan tergesa dan asal-asalan oleh si penulis renungan ini, yang menurut kabar sepintas yang kudengar, kerjanya suka begadang dengan bergelas-gelas kopi sepanjang malam. Tujuannya jelas, agar cacat cela yang ditulisnya nanti dalam catatan ini, menimpaku sebagai pelaku. Saking tergesanya, ia lupa menamaiku, sehingga aku mesti menamai diriku sendiri. Ia memang penulis yang lalim, diktator ulung. Padahal, sebagian besar apa yang ditulisnya berasal dari pengalamannya sendiri. Dasar, ia tipikal penulis yang pengecut bukan?

Tapi ya sudahlah. Aku patut bersyukur. Setidaknya aku merasa bahagia dapat menjadi bagian ceritanya. Setelah itu, tentu, aku akan dibebaskannya dari tudingan cerita ini, dan ia akan menciptakan kembali tokoh-tokoh lain yang senasib denganku.

Baiklah, untuk melengkapi penjelasan tentang diriku, akan kuberitahukan padamu darimana aku berasal. Begini, aku berasal dari perkampungan tak berpenghuni di sudut bantal usang yang tempo hari pernah terkena air liurmu ketika kau lelap sembari menggaruk-garuk pantatmu yang terasa gatal, boleh jadi karena digigit kutu kasur, dan mulutmu yang sebelumnya lupa disikat, mengigaukan hal ganjil agar dapat menyantap testis unta jantan tanpa berlelah-lelah pergi ke timur tengah yang terik cuacanya nyaris menyamai sepertiga uap neraka.

Absurd ya?  Sungguh malang sekali nasibku.

***

Atas instruksi dan kemauan dari penulis catatan ini pula, kali ini akalku dibuatnya hilang separuh dan keadaaan ini akan terus berlanjut hingga esok hari. Sebelum kesadaranku kembali utuh sepenuhnya, dan sebelum semua yang berakal akan dituntut untuk mengerjakan hal-hal yang logis dan sesuai norma, aku ingin sekali menanggalkan baju, celana, juga celana dalamku; ya, aku ingin telanjang.

Ah, tidak, biar kujelaskan. Begini maksudku, bukan berarti telanjangku ini telanjang tanpa rasa malu di depan orang-orang –meski hal tersebut juga bukan masalah, sebab orang yang hilang akal tak akan disalahkan atas perilaku ganjilnya tersebut— aku ingin mandi telanjang. Cukup, keinginanku sesederhana itu saja.

Keinginan yang tak begitu aneh. Mengingat telanjang adalah sebuah kegiatan yang wajar, dan orang yang melihat segala perkakas yang ada pada tubuhmu adalah dirimu sendiri pula, lantas apa yang dipermasalahkan? Tidak ada. Kau bisa melakukan apa pun dengan tubuhmu sendiri, dan kau bisa memperlakukan tubuhmu sebaik dan seburuk apa pun. Itu hakmu. Segala resiko kau yang menanggung.

Aku masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Klek. Terkunci. Hanya tinggal aku, gayung, bak mandi dan kloset jongkok. Seekor kecoa lewat, aku tetap tak bergeming. Kusiram kecoa dekil itu dengan segayung air, dan ia buru-buru kabur, menyusup keluar melalui celah yang terdapat di bawah pintu.

Keinginanku untuk telanjang hanya tinggal beberapa kali gerakan. Olala. Mandi tanpa sehelai benang pun di tubuh pasti sangat menyenangkan, pikirku. Tanpa membuang waktu, tanganku mulai melucuti satu persatu benda yang ada di tubuhku, mulai dari baju kaos yang bercampur bau keringat dan berlanjut pada benda-benda setelahnya, yang kau sendiri pasti sudah dapat menerkanya.

***

Ketika melepas kaos, aku teringat sesuatu. Soal kebiasaan buruk, sebenarnya.

Aku memiliki kebiasaan yang terbilang aneh, aku tak suka mengenakan baju, bahkan sekadar kaos tipis kala sendiri maupun ketika banyak orang. Kalaupun ada yang dijadikan penutup tubuh, paling hanya sekadar handuk. Tak sedikit orang-orang menghardik, “Pakai bajumu, enggak enak dilihat, telanjang mulu!”

Rupanya, tanpa kusadari, selama ini aku sudah sering telanjang. Ya meski tak sepenuhnya telanjang.

Kebiasaan itu bukan karena tubuhku yang besar berotot. Apalagi, konon katanya, lelaki yang berotot tidak banyak membuat para wanita jatuh hati, melainkan kaum gay sejati yang justru dibuat terkesima dan ingin menjamah lekuk-lekuk menggiurkan itu. Tapi konon tinggallah konon, tak lebih dari mitos, tak selalu dapat dibenarkan. Kau boleh percaya, boleh juga tidak.

Sedang aku jauh dari gambaran tersebut. Tubuhku kurus kering, namun belakangan, demi ambisi ingin menggemukan badan –dan buruknya, tanpa diiringi olahraga yang rutin, perutku justru terlihat buncit.

Kembali soal tak mengenakan baju tadi, aku hanya merasa gerah, meski kipas angin (bukan AC) dengan power yang dinyalakan paling kencang, tetap saja sama, dan aku merasa risih dengan bau badanku sendiri.

Lamat-lamat kuperhatikan badanku sendiri. Naik-turun napas mengisi rongga dada. Pusar yang tak ubahnya bagai sumur kering yang sejak lama terbengkalai. Dua puting kecil yang saling berseberangan. Dan terakhir, tatapanku terfokus pada  perut yang semakin hari kian membukit. Serupa perempuan yang tengah hamil tua, aku berbisik, melucu dalam hati:

“Duh, anakku, kapan kau ingin melihat dunia yang penuh kecamuk ini. Tapi tenang, aku ayahmu, ayah yang kelak akan melahirkan dan merawatmu, aku akan selalu melindungimu.”

Tetapi aku sungguh tak sedang mengandung. Aku lelaki tulen. Kalau pun iya, anak-anakku ya cuma tai. (maaf agak kurang sopan, mulanya aku ingin menulis “kotoran” tapi rasanya kurang greget).

Aku tak ingin terburu-buru pada prosesi selanjutnya, yakni melepaskan celana, menanggalkan semuanya. Melanjutkan penghayatan singkat ke setiap bagian tubuh satu persatu. Cukup lama terdiam sembari berulang-ulang menyusuri tubuh bagian atas, kuputuskan saja untuk segera menyudahinya.

Kemudian dengan gerakan halus namun cukup terlatih, aku melonggarkan ikat pinggang, menarik resleting celana ke bawah, dan dengan sedikit tarikan kecil, celana yang tak lagi mencengkeram kedua pangkal paha itu pun melorot, jatuh.

Gerakan yang amat mudah dilakukan. Seorang amatiran, bahkan anak kecil pun, tak perlu bersusah payah diajari hal demikian, panggilan alam seperti buang airlah yang akan menuntunmu untuk menanggalkan celanamu tanpa diperintah oleh siapa pun. Lebih-lebih jika kelak kau sudah menikah, kau akan menjadi “pelepas celana” yang andal dan profesional.

***

Kini, hanya tertinggal kain berbentuk persegi yang menutup daging lucu milikku. Ia mati, seperti tak bernyawa. Tak ada pula alasan untuk membangunkannya tanpa sebab. Lagi, aku pun tak ingin terburu-buru menanggalkannya. Aku teringat sesuatu. Tepatnya, aku terkenang kejadian masa kecil.

Dulu, sewaktu usiaku belum genap delapan tahun, tanpa ada aba-aba dan perintah, aku segera menanggalkan celana dan hanya mengenakan celana dalam ketika hujan deras mengguyur kampungku. Mandi hujan, hal itulah yang aku lakukan bersama teman-teman. Bukan berarti bak air di rumahku kosong tak berisi, melainkan ketika mandi hujan, aku bisa bermain kejar-kejaran, berlari kesana-kemari sesuka hati, sepuas-puasnya.

Meski sepulang dari itu, rotan yang biasa ditaruh ibu di belakang lemari untuk menghukumku, akan bersiap menghadang di depan pintu. Dengan wajah ibu yang penuh murka, berkali-kali rotan itu mendarat di pantatku karena aku yang nekat mengendap keluar diam-diam dari rumah dan tak diizinkan untuk ikut mandi hujan.

Kau tahu apa yang terjadi setelah itu? Balur-balur merah memanjang pun menghiasi paha dan pantatku, seperti jalur perlintasan mobil tamiya. Terasa agak perih ketika terkena air sabun, tapi aku merasa bahagia. Dan kini, setiap kali mengingat kejadian itu, aku sering tertawa sendiri dibuatnya.

Satu langkah terakhir, hanya tinggal memelorotkan kain persegi yang satu-satunya melekat. Maka, sempurnalah telanjangku. Telanjang yang penuh rasa bahagia dan lega. Telanjang yang membuatku terkenang, jauh sebelum aku dapat mengingat segala yang berlalu. Telanjang yang memang kurencanakan sedari awal.

Aku ingin telanjang, mengerdilkan tubuh, dan kembali menggeliat perlahan melewati rahim, masuk ke dalam perut ibu. Aku ingin tenang dalam kesunyian rahim ibu. Kusebut telanjang jenis itu sebagai telanjang impian. Telanjang yang suci dan tak digenangi anyir dosa. Bukan telanjang yang disesaki dengan kehinaan.

Aku tak jadi telanjang. Niatku untuk mandi urung terlaksana. Sebab telanjangku kali ini, telanjang yang sungguh menjijikan. Bukan seperti telanjang yang kuinginkan.

***

Nampaknya, sebaik-baik makna telanjang yang dapat direnungi dengan baik sepenuh penghayatan, ketimbang cerita ngelantur ini adalah bagian intro lagu Ebiet G. Ade yang cukup familiar:

“kita mesti telanjang dan benar-benar bersih

suci lahir dan di dalam batin

tengoklah ke dalam sebelum bicara

singkirkan debu yang masih melekat..”

 

***

 

Namaku Be. Tunai sudah tugasku untuk mengantarkanmu ke bagian akhir cerita ini. Namun kau bisa sesekali mencoba, mandi telanjang, memperhatikan anggota tubuhmu satu persatu hingga kau teringat kebiasaan burukmu, atau dengan telanjang, kau jadi dapat mengenang masa lalumu yang lucu.

Sekarang, telanjang seperti apa yang kau pilih? Setengah telanjang atau benar-benar telanjang?

 ----------------------------------------------------------------------------------------------------

*) Catatan ngelantur ini dibuat iseng-iseng satu malam penuh tanpa semenit pun tidur. Nampaknya, si penulis tengah mengidap gejala insomnia tingkat lanjutan. Mohon doakan ia yang ingin sekali memiliki pola tidur seperti kebanyakan orang pada umumnya. Doakan ia yang sulit tidur.

Jelang Subuh, Minggu, 12 Juni 2016

  • view 1 K