Perempuan yang Mendekam dalam Tubuh Beringin

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2016
Perempuan yang Mendekam dalam Tubuh Beringin

Usia pohon-pohon adalah rahasia, ratusan atau bahkan ribuan tahun lamanya. Sedangkan rahasia umat manusia adalah aroma busuk kedengkian, kebencian, kenyinyiran yang diwariskan; turun-temurun. Betapa manusia tak lebih mulia dari sebuah riwayat pepohonan. Pohon, dalam cerita dan keyakinan orang-orang di kampung kami, mengajarkan arti kesabaran berlebih bagi makhluk lain.

***

Pohon beringin itu seukuran kira-kira tiga rentang pelukan orang dewasa –atau lebih sedikit. Entah berapa usianya, tiada seorang pun yang tahu dan tak ada pula yang berniat menanyakannya. Namun, menurut penuturan engkong Madi, lelaki tua berdarah Betawi asli yang tinggal tepat di belakang kampus ini, di usianya kini yang menginjak hampir delapan puluh tahun mengatakan, kalau pohon besar itu sudah ada jauh sebelum bangunan pertama kampus ini didirikan, kira-kira 59 tahun silam. Sebelum wilayah Ciputat seramai sekarang.

“Dulu nih ye, waktu masih bocah kaya mereka ntuh,” engkong Madi menunjuk ke arah anak-anak kecil yang sedang bermain kelereng. “engkong sering banget main petak umpet bareng ame bocah seumuran engkong di bawah pohon ntuh yang sekarang di taman UIN,” ujarnya, mengenang masa lalu.

Setidaknya, kita bisa tahu, bahwa kampus besar dan engkong Madi memiliki sejarah sendiri mengenai pohon beringin tersebut.

Pohon beringin itu pula menjadi saksi dari pergantian nama kampus besar ini dari waktu ke waktu. sudah tiga kali, kalau ia tak salah ingat, kampus ini berubah nama. ADIA-IAIN-UIN. Perubahan itu, jika boleh dianalogikan, sama halnya dengan metamorfosis ulat-kepompong-kupu-kupu. Menyempurnakan berbagai macam aspek keilmuan secara bertahap, sedikit demi sedikit.

Namun tidak baginya, di balik semua perubahan itu, daun-daunnya semakin meranggas, rantingnya acapkali gemeretak, batang tubuhnya kian berlumut, si beringin itu rupanya menyimpan kesedihan tak berbilang oleh waktu.

Kira-kira kurang dari seabad lalu, kampus ini dipenuhi semak belukar.

Beringin itu menyoal sebuah peristiwa yang tak mungkin dapat ia lupakan. Seorang perempuan campuran Sunda-Betawi, Euis namanya, di masa penjajahan Belanda dahulu silam, seusai diperkosa bergilir oleh empat orang serdadu Belanda, ia dibunuh oleh Bousten, salah seorang serdadu paling penakut di antara mereka dengan menorehkan sebilah pisau komando dan meninggalkan luka gorokan yang menganga di lehernya, ia kemudian jatuh bersimbah darah di kaki pohon. Lalu keempat serdadu itu meninggalkannya yang sekarat.

Akar-akar beringin menyerap darah segar yang mengalir dari leher si perempuan. Ia ingin meraih tubuh yang sempat terhuyung sebelum jatuh itu. Para serdadu belanda, seperti kerasukan setan alas, tanpa kasihan melucuti kain yang dikenakan oleh si perempuan. Ia berteriak meminta tolong, namun tak seorang pun mendengar. Terlalu sepi suasana dinihari kala itu.

Dan pohon beringin, sampai saat ini sulit sekali melupakan kejadian tersebut. Tak sampai hati ia menyaksikan bajingan-bajingan kulit putih itu secara bergantian, tanpa ampun, melimpahkan berahinya serupa srigala kepada Euis.

Perempuan itu, kini, tengah terjebak; mendekam dalam tubuh pohon beringin itu. Tak ada yang tahu, sebab kejadian itu berlangsung cepat dan rahasia. Tak ada yang mengusut ihwal tersebut, selain para orang-orang kampung yang menduga, kalau Euis tengah diculik lalu dipersunting bangsawan kompeni dan dibawa menyeberang negeri ke tanah kincir angin.

Euis mendekam di dalam tubuh pohon beringin itu. Ia tinggal di dalamnya.

***

Aku bukan sebatang pohon penyelamat yang dijadikan persembunyian oleh seorang pemuda yang didaulat menjadi nabi, Yahya, dari orang-orang yang mengejar-ngejar, dan berniat ingin membunuhnya. Ia pun anak dari seorang ayah yang juga nabi mulia, Zakaria, beserta istrinya yang sungguh penyabar dan tabah, yang semula diduga mandul. Hingga pada akhirnya, ia terbunuh juga dengan cara yang amat sadis dan tak terduga; pohon persembunyiannya itu digergaji oleh para pembangkangnya yang tak lain adalah umatnya sendiri. Tak pelak, tubuhnya terpisah menjadi dua bagian; atas dan bawah. Pohon bersimbah darah sang nabi.

Menjadi seorang  nabi pun bukan berarti menjadi jaminan akan mati di atas permadani. Seumpama Yahya, misalnya, yang mati dengan cara anarkis dan membabi-buta. Kemuliaan dan kenikmatan surga dipastikan baginya.

Nasibku pun tak jauh berbeda dengan leluhurku itu. Aku adalah sebatang pohon yang menyimpan jasad. Tepatnya, jasad seorang perempuan.

***

Aku adalah pohon. Ya, aku sebatang pohon beringin yang mengakar kokoh di kampus berlabel islam ini, berpuluh atau bahkan beratus tahun lamanya.

Hari ini, aku menjadi sebatang pohon besar yang setiap harinya, ranting tua dan daun-daunku berjatuhan, berserakan di bawah taman tempat para mahasiswa biasa berdiskusi atau sekadar ber-haha-hihi. Lalu tanpa bosan, di jam-jam tertentu, terutama pagi dan sore hari, disapu dan dibersihkan oleh petugas kebersihan kampus ini. Kampus yang belakangan melakukan banyak pembenahan di sana-sini demi ingin menunaikan ambisi kampus bertaraf Internasional seperti kampus-kampus di luar negeri. Setidaknya, begitu yang kudengar dari mereka.

Dan kau, sebagai mahasiswa yang tengah membaca cerita pendek ini, mesti turut menyambut ambisi baik tersebut dengan reaksi positif. Kau tentu boleh saja melakukan aksi turun ke jalan, seperti demo, misalnya, dan itu harus kau lakukan jika ada suatu hal ataupun kebijakan yang tak pro dengan mahasiswa sebayamu. Di bumi ini, perlawanan akan selalu ada di balik setiap kesewenangan.

Dan barangkali, tak banyak dari mereka yang tahu bagaimana riwayat asal-usulku. Dan lagipula, aku tak ingin mengingat kembali soal peristiwa yang membuatku berkali-kali terpaksa mengumpat dengan puluhan kalimat serapah.

Aku ingin melindungi mereka dan perempuan dalam tubuhku.

***

Senja semakin luruh. Membentuk komponen warna merah-jingga yang memukau di cakrawala Ciputat. Jalan di depan kampus kian memadat oleh para pekerja dan mahasiswa yang baru pulang. Macet tak terhindarkan.

Tak lama berselang, azan maghrib terdengar sayup-sayup menyapu pendengaran. Suasana kampus sepi bagai tak berpenghuni.

Dua orang petugas kebersihan, Karman dan Asep, lepas maghrib itu baru saja menyelesaikan tugas hariannya. Lalu keduanya memilih untuk melepas penat dengan duduk santai di landmark besar bertuliskan “UIN Syarif Hidayatullah Jakarta”. Asep menyalakan sebatang kretek, lalu mengisapnya. Sedang Karman, yang sedari awal sengaja membeli 2 bungkus plastik kopi panas di warkop, menuangkan ke dalam gelas plastik dan menyeduhnya.

Keduanya bercakap mengenai banyak hal, mulai dari yang sepele soal anak-anak mahasiswa yang mengabaikan soal kebersihan dan acuh terhadap pelarangan jam malam, hingga problem dalam kehidupan keluarga mereka.

“Selama kita dekat dengan Tuhan. Selalu akan ada jalan keluar untuk setiap masalah,” ujar Karman, mengembuskan asap kreteknya, perlahan.

“Benar, Man. Tinggal kita yang mesti rajin ibadahnya.” Asep menimpali.

Tiba-tiba mereka mendengar suara. Entah darimana asalnya. Sayup-sayup, namun sangat jelas terdengar oleh mereka berdua.

“Masalah kalian tak serupa apa yang kualami berpuluh tahun lalu. Kalian bisa saja memilih mati dengan cara yang baik. Tetapi tidak denganku.” Suara itu terdengar haru. Ia setengah terisak, menahan tangis yang nyaris pecah.

“Bisakah kalian menolongku?”

Keduanya beradu pandang. Mengarahkan pendengaran ke asal suara yang ternyata berasal dari pohon beringin besar di depan mereka.

“Keluarkan aku dari pohon ini. Jika aku mati dengan cara buruk. Setidaknya, tanamkan jasadku, sisa tulang-belulangku, sebagaimana mestinya. Benar, pohon ini memberikan aku kenyamanan layaknya seorang anak dalam dekapan ibunya. Tetapi aku ingin menuju Tuhan dengan prosesi dan pakaian  yang layak. Aku tak bisa berlama-lama di sini!”

 

***

Suatu malam, udara membeku. Hening. Perempuan dalam tubuhnya tengah tertidur nyenyak. Mengigaukan masa lalunya ketika masih perawan.

Sejak seminggu setelah kejadian ganjil tersebut, saat dimana perempuan dalam tubuhku mencoba untuk meminta pertolongan, kedua petugas kebersihan itu tak lagi pernah terlihat. Entah. Alih-alih menjadi semakin bersih, taman rindang ini justru semakin kotor diseraki daun-daunku. Tak ada petugas baru yang menggantikan mereka. Menurut kabar yang kudengar, keduanya memilih berhenti bekerja sebagai petugas kebersihan dan memilih menjadi kuli serabutan.

Ah, kau perempuanku yang malang. Bagaimanapun juga keadaannya, tetaplah semayam dalam  tubuhku. Sebab, aku pohon yang mencintaimu.

Darus-Sunnah, Mei 2016

       Imam Budiman, Pegiat Komunitas Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

  • view 162