7 Sajak Imam Budiman di SKH Riau Pos Tahun 2015

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 06 Juni 2016
7 Sajak Imam Budiman di SKH Riau Pos Tahun 2015

 

Kotak Mainan

di sepetak tanah ujung kampung yang tak seberapa luas samping kandang
(konon sepetak tanah itu dulunya adalah bekas tanah kubur yang diratakan)
masa kecil kita saling berebut, siapa yang lebih akhir melempar gundu
dalam otak kita, giliran akhir dapat jauh lebih leluasa menyeteru garis

masa kecil kita, dalam gelinding kelereng yang sepi di kotak mainan itu

2015



Kotak Mainan
; jatuh cinta pada bab pertama The Highest Tide

di usia ke berapa dalam hidup menjejak di paya asin
seekor kupu-kupu pemilik rumbai tanduk berwarna senja
sembul muasal dalam tubuh seolah menyalak-nyalak

ia hinggap ke sana ke mari,
mengepak di kotak akuarium; mencumbu bunga laut
tak cukup kah Jim Lynch yang mengatakan,
bahwa ini kali pertama ia melihatnya di alam bebas?

napasnya air! geraknya usai!
gumamnya berupa molek celoteh terumbu

2015



Lukisan Abu

lukisan itu seumur penjajah yang mati tertusuk runcing bambu
ia diam dan kelu merutuki tentang nasibnya yang haru

kuamati ada yang hidup dan tinggal di dalam lukisan keruh itu
bergerak-gerak, mengepak-ngepak tak keras serakan batu
seorang perempuan kuning langsat berlari di antara ilalang bukit
sebuah gubuk yang dipenuhi oleh mimpi-mimpi kaum pesakit
orang-orang sial seketika tengah malam melarung perangai
bersama anak-anak yang menombaki ikan di dangkal sungai

ibu yang membesarkan tetuah datu; tersedu-sedu
kalau kau bertemu dengan anakku, katakan padanya. tiadakah ia rindu,
sedang aku telah merasa letih menunggu.

2015



Selembar Kertas

mereka yang meyakini bahwa seonggok matahari
merupakan kotoran para dewa yang bernyala
dan menghidupi seisi semesta

Ck, kita tak percaya itu

selembar kertas sibuk dengan pikirannya sendiri
petang dan pagi resah mengigaukan tubuh kenari
cintakah ini yang serupa lambai kepak bidadari?

Ck, kita paham tentang itu

2015



Fasal Kopi

Kopi, 1

semua orang tahu, secangkir kopi tidaklah pandai bicara
terlebih hingga duduk bersama menmilin-sulam cerita
sebalik aroma, ia menjadi tokoh yang tak hitung pusara

pagi ini kuseduh lagi
dan namamu memanggil-manggil di dalamnya

Kopi, 2

hubungan apa yang terjadi antara kau dan warna kopi?
tengah resah sejumlah kata dan titik keinginan debu kota
tentang hidup yang senantiasa diperbincangkan; ladang-warung

kaukah yang mencemari udara dengan derai suasana?

Kopi, 3

tak seperti cuaca di dalam kopi kita
yang hilang di balik rerimbun toska

seperti hujan yang berdebar antara mereka
potongan kuku jarimu tersisa di dedak paling usia

2015



Pembatas Buku

aku terhenti di halaman ini
tak kulipat; huruf sudah tak sepakat

tak sekadar pembatas, kau buku bernapas
aku berjaga setiap helai, justru kau meminta lerai
aku hanya batas ingatan yang tak pernah kaucari

2015



Kota di Atas Tubuh

ada yang mengapung-ngapung di atas tubuhku-tubuhmu
di telapak malam, kota ini akan segera tenggelam

karena dari tanganku,
kau selalu pergi sebelum aku menyematkanmu sebuah nama
sebelum aku tahu, dari mana kau datang
dan siapa yang telah mengutusmu

jauh di bawah karang
aku menyimpan pecahan sisa tubuhmu yang malang

2015



Masa Jenuh

kopiku mengepul, otak ini tumpul
ke mana lagi memulung kata?
apa benar penyair mesti –selalu-
bergumul dalam duka?

rambutku masai, sajak ini usai
di mana lagi memilin renta?
apa salah penyair terkadang –selalu-
berhimpit pada nista?

2015

*Imam Budiman, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media lokal dan nasional. 

  • view 201