Perempuan yang Bersemayam dalam Sebuah Puisi

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Mei 2016
Perempuan yang Bersemayam dalam Sebuah Puisi

Aku ingin tidur dan lelap dengan sebegitu nyenyak dalam basah kelopak matamu yang ranum. Bola mata yang mengakar pada kenangan masa kecil. Bola mata yang mengingatkanku pada banyak hal di masa usia kita masih berkisar lima-enam tahun. Di antaranya, tak lain tentang bubungan rumah yang menjadi saksi permainan kita, baajakan tungkup. Aku berjaga, menutup mata, menghitung mundur dari bilangan sepuluh hingga satu. Sedangkan kau berlari, mengendap tanpa suara, bersembunyi ke suatu tempat, tempat di mana aku tak pernah dapat menemukanmu.

Manakala giliranmu berjaga tiba, dua-tiga langkah saja, dengan mudahnya kau menemui persembunyianku. Mudah sekali. Seolah matamu terus membuntuti ketika aku mengambil tempat untuk bersembunyi dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara.

Aku suka protes dengan cara bermain kita, yang bagiku, tidak fair. Entahlah, barangkali emosi anak kecil yang kerap tidak mudah menerima begitu saja. Namun, alih-alih kau memberitahuku di mana kau bersembunyi, dan bagaimana kau bisa dengan sebegitu mudahnya menemuiku, aku semakin penasaran. Kau justru kerap menjawab rasa penasaranku dengan hanya tersenyum.

“Aku bersembunyi di balik setiap bait dalam puisi-puisimu. Kau tak akan bisa menemukanku. Sedangkan aku dapat dengan mudah menemukanmu dari isyarat rasa gelisah yang kaubuat dan kautulis ke dalam puisi-puisimu.” Kau menarik segaris senyum. Manis sekali.

Aku semakin bingung dengan ucapanmu. Sejurus kemudian, tanpa berkata apapun, kau berbalik badan, berjalan membelakangi dan lenyap di ujung belokan jalan. Rambutmu tergerai sepinggang, sesekali dibelai angin hingga membuatnya seolah menari. Tatapanku membuntutimu dari belakang. Dan pertanyaanku selalu sama, entah dari mana kau bermuasal. Aku tak pernah tahu.

Kau nampaknya telah lama dan kepalang kerasan bertempat tinggal dalam sebuah puisi yang kutulis. Kau selalu hadir, datang dan pergi dengan cara yang tak lazim.

Perkenalan yang aneh, menurutku. Aku menemuimu –atau sebenarnya kau yang mendatangiku (?),  manakala aku selesai merampungkan sebuah puisi. Puisi yang di dalamnya terdapat kata ganti Kau. Dan kau, perempuan tanpa asal, tiba-tiba saja muncul. Mengajakku bermain, hingga tak jarang lupa waktu. Acapkali pula sepulang ke rumah, aku dipukuli ibu dengan akar rotan yang sakitnya minta ampun, karena aku yang baru datang ke rumah sehabis Isya’ dan tidak ikut mengaji bersama anak-anak lain seusiaku.

“Kau ini, lelah ibu mencarimu ke rumah tetangga, tak seorang pun tahu. Ke mana saja kau?” Sebelum ibu mendapat jawaban, aku sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi. Mengguyur segayung air bak mandi ke tubuhku yang kotor.

***

Kini aku sudah dewasa, perlahan puisi-puisiku mulai diterima pembaca, sudah cukup sering puisiku aral melintang di pelbagai surat kabar setiap minggunya, lokal maupun nasional. Kebiasaanku menulis puisi dari kecil masih terus berlanjut hingga sekarang.

Tapi keberadaan kau, perempuan puisiku, sungguh menjadi misteri. Aku ingin menemuimu sekali lagi. Barang kali ini saja. Lupakan soal kekasihku yang selalu ngoceh sebab keinginannya tidak kunjung dituruti. Lupakan juga soal ibu yang suka sekali memarahiku –karena kini aku sudah kuliah di luar daerah, sehingga dapat lebih bebas-

Aku ingin menjalin hubungan imaji lebih dekat denganmu. Hubungan yang tak sekadar bersapa. Aku ingin mencintaimu dengan sebaik-baik khayali. Corak puisi yang dianut oleh para kaum penyepi dan pemimpi yang tak berkesudahan.

Dimana kau, perempuan puisiku?

Ciputat, 02:21 - 21 Mei 2016


  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Tulisannya mas Imam, seperti biasanya, selalu membuai.. hehe.

    • Lihat 2 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ?Aku bersembunyi di balik setiap bait dalam puisi-puisimu. Kau tak akan bisa menemukanku. Sedangkan aku dapat dengan mudah menemukanmu dari isyarat rasa gelisah yang kaubuat dan kautulis ke dalam puisi-puisimu.?

    Karya bagus, izin simpan buat pribadi, Makasih sebelumnya, Bro... ^_

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Padahal, aku tunggu cerpen Penulis Empat Mazhab... mmmm