Menjaga Aroma Pandan Tanah

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Puisi
dipublikasikan 14 Mei 2016
Menjaga Aroma Pandan Tanah

Fragmen, I

cara paling arif meneduh seutas ranum hujan ialah dengan meminakkannya pada sepadang rumput bertubuh semak yang bermuasal dari pendar-pendar titah dewata. anak-anak tanpa pernah mengenal alas saling menghalau dengan sebegitu lincah arah ke mana terbang sekelompok cecapung dewangga. dahan pepohon yang menerbitkan suara gemerisik adalah ayat-ayat yang lebih nyata dari sekadar kitab suci yang ditafsirkan secara membabi-buta oleh mereka yang pura-pura paham beragama. induk pohon masih purna merajut tabah dengan memeranakkan segala macam jenis dedaun surga dan akar-akar petala setiap waktu. serunai laut yang dilenguh oleh sekerat prajurit angin adalah bentuk sabda yang usai bermuara pada arus-arus berpangkal kemahaluasan.

maka, tidak seharusnya kita meranggaskan serampai kata pada sahih cuaca. menuding sepihak musim yang mendadak berubah dengan amat tiba-tiba. tidak pula selaiknya mendengkurkan keserakahan lambung-lambung kita pada tubuh bumi yang harum pandan tanah. betapa jika demikian, sungguh kita rupa hamba yang tak tahu diri.

Fragmen, II

setiap berlalu wajah ladang dan sawah di petang senja yang saga, anak-anak selalu ingin memilih tak ingin pulang ke bubungan demi mengejar mata lelayang. lelayang tangkai bambu. lelayang yang hidup dari gumam-gumam lembu. mereka penjaga tanah-tanah huma dari kepungan kemarau. mereka penandas bebatukisaran manakala hujan menempur lorong-lorong penduduk akar. anak-anak dusun dilahirkan di hariba dunia menjadi juru selamat hutan jejaka dan bukit cendara. tidaklah laik sesekali kita caci rambut gimbal mereka.

di remang sudut rumah bercermin anyaman bambu, para perawan enggan terlelap setelah menahan nyeri dalam dada yang buncah. setelah menyasak rambutnya, mereka memutuskan untuk bungkam. betapa hutan sudah tak lagi nyaman untuk memberi isyarat tentang sebab menelungkup ilalang sebagai pertanda datangnya haturan jiwa dari tempat nun jauh kelam belantara. hutan yang kini ditebang-tumpas keji budak-budak proyek demi memuaskan orgasme mereka terhadap jelita tubuh pertiwi. mereka pemerkosa perawan-perawan kami!

maka, tiba saatnya kita menyemai kesadaran dalam benak, dengan segala tulus yang perdu. bumi tak sekadar merupakan tempat kita melabuh sebaya luka. bumi adalah semangkuk wadah untuk meminumi janin-janin kasih kita. sungguh.

Ciputat, 2015

*) Naskah puisi berjudul “Menjaga Harum Aroma Pandan Tanah” meraih terbaik pertama dalam rangka ulang tahun ke-III Rumahkayu Indonesia dan dibukukan dalam antologi puisi "Mata yang Bercerita" (Rumahkayu Publishing, 2016)