Sekotak Kenangan Kiai Ali Mustafa Yaqub

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Tokoh
dipublikasikan 30 April 2016
Sekotak Kenangan Kiai Ali Mustafa Yaqub

Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub,

Putik kamboja di taman pesantren tempat kami biasa berteduh diri, Darus-Sunnah, yang semula hanya sekuku, kini telah sempurna menjadi serangkaian bunga yang tumbuh merimbun. Indah, menyibakkan wangi tatkala melaluinya. Pesantren yang asri dan menyedapkan mata. Taman indah yang kau konsep dulu, beberapa tahun lalu, membuat terkesima siapapun yang pertama kali melihatnya. Dan hari ini, kelopaknya binar menyilap, harumnya ikut mengantarkan kepergianmu sampai ke pembaringan terakhirmu yang beralaskan tanah. Alangkah rimbun kamboja pun turut berduka atas kepergianmu yang dirasa terlalu dini untuk seukuran ulama tegas nan moderat yang masih sangat dibutuhkan oleh umat.

Kepergianmu untuk bergegas menjumpai orang yang acapkali kausebut namanya, keseharian hidupnya, tutur ucapannya, tingkah perangainya, kekasihmu, Rasulullah, kini telah purna terwujud. Betapa bahagia. Betapa kau telah meraih apa yang kauangan-citakan selama ini. Kami iri terhadapmu yang telah menemukan sebenar-benar kekasih sejati. Kami ingin sekali sepertimu, Yayi. Kami ingin sekali.

Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub,

Dengan segala keterbatasan, banyak sekali yang ingin kukisahkan tentangmu. Tentang kesan-kesan pribadi selama dalam bimbingan serta asuhanmu. Catatan kecil ini tentu tidak dapat mengurai kebaikan serta jasa-jasamu satu per satu. Telalu kecil. Terlalu sederhana.

Kau adalah penuntun ruh kami dalam hal-hal kebaikan; mendekatkan diri pada Tuhan. Kau adalah ayah yang bijak bestari, ketika kami jauh dari ayah kami  di kampung halaman yang menyerahkan anaknya padamu untuk dididik dan diayomi. Kau adalah panutan kami, tingkah laku nabi, seutuhnya ada pada keluhuran dirimu. Keikhlasan. Kesabaran. Ketawadhu’an. Kezuhudan. Kewara’an. Lebur menjadi satu dalam keseharian hidupmu, Yayi.

Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub,

Kami menangisi kepulanganmu menuju alam di mana kau dan kekasihmu hanya tinggal sejarak gapaian tangan. Dekat. Dekat sekali. Bertemu dan saling sapa. Tanpa harus saling berkenalan, sebab kau dan dengannya sudah sangat dekat sedari alam fana’. Kekasihmu, Rasulullah, tentu mengenal baik dirimu selama di dunia. Ia lah orang yang paling sering kau sebut-sebut setiap hari. Setiap waktu dan kesempatan.

Kau berbincang banyak hal dengannya. Sesekali candaan terlontar, yang kemudian disambut tawa kecil. Kami dapat membayangkan kebahagiaanmu di sana, kami hafal selengkung bentuk senyummu yang rekah bila dihadapkan pada suatu yang menyenangkan. Meski senyum itu, kini, hanya tertinggal dalam ingatan kami semata. Tak pernah kurang kecintaan kami padamu, Yayi.

Dan bersama kekasihmu, kemudian kau menemui para ulama’ salafus as-shaalih yang kerap kau ceritakan biografi hidupnya kepada kami; Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Abu Daud, Imam Ibnu Majah. Mereka mengucapkan terimakasih yang tiada berbilang, sebab kau meninggalkan dua warisan besar bagi umat: Pengetahuan luas tentang Hadis dan ilmu Hadis kepada segenap umat muslim yang tak hanya di Indonesia, bahkan dunia, beserta sebuah Pesantren Hadis yang diperuntukan bagi thaalib al-hadis nusantara. Kedua hal itu hanya sebagian kecil dari jasamu bagi umat dan bangsa. Semoga semua itu bernilai jariyah bagimu. Tak lupa pula, sampaikan salam kami pada mereka, Yayi, sampaikan rindu kami yang barangkali, memang tak sebesar kerinduanmu terhadap mereka.

Namun sekali lagi, tanpa bisa dipungkiri, kami menaruh rasa iri kepada bentuk kecintaanmu yang tiada dapat diukur dengan jenis takaran duniawi. Kami ingin menyamaimu atau setidaknya hampir menyetarai kecintaanmu. Semoga kami mampu. Semoga kami dapat menjadi penerusmu.

Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub,

“Allahumma faqqih man yadrus fii hadzal ma’had, wa allimhu at-ta’wiil,” doamu seusai mengajar sahih al-bukhari dan sahih muslim. Kau senantiasa meresapi doa yang kau baca. Memejamkan mata. Khidmat.

Masih lekat dawuh-dawuh serta candaanmu kepada kami, anak-anakmu, tatkala halaqah maupun di liqa-liqa penting lainnya. Kedekatan emosional kau dan kami, sama persis seperti seorang ayah kandung kepada anaknya. “Anaa abuukum. Wa antum abnaa’i jami’an,” katamu di berbagai kesempatan. Kami yang mendengar ucapanmu itu, diliputi rasa haru. Kami seutuhnya merasa menjadi “anak-anak hadis” di bawah asuhanmu. Walau kami tahu dan sadar betul, bahwa kami kerapkali membuatmu kecewa dan marah karena kesalahan yang kami perbuat, tetapi kau tak pernah merasa bosan untuk membenarkan serta mengarahkan diri kami untuk banyak hal, yang tentu saja, tak dapat kami balas. Jasamu bagi kami, bahkan bagi umat ini, sungguh besar, Yayi.

Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub,

Dalam keseharianmu, kau juga suka sekali berguyon. Guyon yang mampu sedikit meregangkan saraf-saraf tegang kami karena dihajar banyaknya kegiatan kampus dan pesantren. Tak jarang pula, dari guyonmu itu, menimbulkan gelak tawa diantara kami. Nasehat-nasehatmu, sungguh menyejukan. Tatapan kasih sayangmu, sungguh meneduhkan. Ah Yayi, meski lagi-lagi, itu semua hanya sebatas ingatan kami yang saat ini seringkali bercampur dengan sengguk dan tangisan yang sukar terbendung.

Umat ini merasa kehilanganmu. Semua kalangan, baik para ulama, tokoh-tokoh besar sampai masyarakat biasa, dirudung duka mendalam melepas kepulanganmu menghadap Tuhan. Dan di sana, sembari melambaikan tangan, kau melepas segurat senyum kepada kami, senyum yang kami hafal sekali bentuknya, namun keterbatasan kami mejamah alammu yang tak mampu dicapai oleh pancaindra, membuat airmata kesedihan tak henti-hentinya berlinang. Kau tenang di sana. Surga bagimu, Yayi. Surga menantimu.

Pak Kiai Ali Mustafa Yaqub,

Kami benar-benar kehilangan sosokmu. Kami tidak tahu, siapa yang kelak dapat menggantikanmu. Hanya doa-doa kebaikan yang dapat kami bacakan. Hanya lantunan ayat-ayat Quran yang dapat kami daraskan. Semoga keberkahan hidup juga terlimpah kepada kami, sama halnya sepertimu. Semoga, kami kelak dapat menjumpaimu pada sebaik-baik tempat yang telah diperuntukan Tuhan. Kami merindukanmu, Yayi. Kami mencintaimu.

IB, Darus-Sunnah,

Dinihari, 30 April 2016