Kehidupan Sebuah Puisi Setelah Ditulis

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 April 2016
Kehidupan Sebuah Puisi Setelah Ditulis

Sebuah puisi ditulis, lalu kemudian teronggok sebagai “barang mati” dalam sebuah buku catatan. Sendirian. Ia mengasihani dirinya yang malang dan berulang-ulang, hampir di setiap waktu, mengutuki si pengarang yang telah menuliskannya.

“Ia telah berlaku semena-mena terhadapku,” lirihnya.

Sejujurnya, seorang penyair yang menulisnya pun kerap merasa bingung dan tak tahu cara.

“Mau diapakan puisi-puisi yang terkumpul ini? Berguna apa puisi-puisi ini bagi orang lain? Mencerahkan, atau justru malah terkesan seperti ‘onani’ kata-kata? Nikmat sendiri, sedang orang lain merasa muak.”

Bagi yang tak pandai membacakan atau mementaskannya di atas panggung, boleh jadi demikian. Bagi mereka, puisi ditulis untuk sekadar menyampaikan apa yang ingin dikatakan dengan cara yang berbeda, diksi-diksi indah penuh metafor (yang diharamkan dalam metode penulisan ilmiah yang membuat dahi kita berkerut), lebih artistik dan juga apik melalui serangkaian padanan kata-kata. Mereka hanya menuliskannya, tidak lebih. Dan seusai ditulis, puisi itu menjadi mati suri. Mendekam dalam waktu yang lama sebagai kata yang tersusun serta terbingkai tanpa pernah diperdengarkan sama sekali kepada dunia luar.

Tidak sedikit penyair, atau setidaknya pengarang puisi amatiran seperti saya, misalnya, merasa sulit untuk membacakan puisi secara atraktif dan memukau di hadapan penonton. Saya lebih suka bila puisi yang saya tulis, dibacakan oleh orang lain. Ada kebahagiaan tersendiri yang saya rasakan sebagai penulisnya.

Bahkan tidak hanya bagi pengarang-pengang puisi amatiran, dua penyair kawakan seperti Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo pun hingga hari ini, memilki masalah serupa (tanpa maksud membanding-bandingkan kwalitas yang amatiran dan yang kawakan, tentunya). Dalam berbagai kesempatan pementasan, mereka seringkali menyampaikan terlebih dulu sebelum membawakan puisinya, jikalau pembacaannya terhadap puisi, bahkan puisi-puisinya sendiri, sangatlah biasa saja atau bahkan tak sesuai ekspetasi. Ekspresi mimik, intonasi suara datar dan “seadanya” mereka tampilkan untuk sekadar memenuhi hajat para penggemarnya.

Mereka memiliki kekhawatiran sendiri terhadap puisi-puisi yang mereka tulis, diantaranya juga, bagaimana cara membacakannya. Adakah kadar memukaunya lebih, atau setidaknya sama seperti mereka menuliskannnya?

Sejauh ini, kita bisa maklum, untuk menikmati secara utuh sebuah puisi, antara menulis dan membacakan atas panggung adalah dua hal yang terlampau berbeda dalam penguasaan, penghayatan serta tetek-bengek lainnya yang berkaitan dengan hal tersebut. Masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri. Sehingga wajar, tidak banyak yang dapat secara total menguasai keduanya sekaligus.

“Menulis ya menulis, sedang membacakannya adalah hal yang berbeda. Biarkan orang lain yang membawakannya dengan lebih baik. Sedangkan si penyair sendiri menikmatinya melalui perantara orang lain yang lebih lihai ‘berliak-liuk’ dengan mimik, intonasi suara dan gaya yang atraktif,” gumam mereka suatu waktu, mengenai diri dan nasib puisi-puisinya.

Namun ada banyak pula tokoh sastrawan Indonesia yang dapat menguasai keduanya sekaligus, seperti W.S Rendra, misalnya, selain puisi-puisinya yang berisi metafor-metafor memikat, ia juga dapat membawakannya dengan sangat apik dalam berbagai pementasan yang dilakoninya sebagai seorang penyair yang juga bergelut pada dunia teater. Penonton diajak untuk mengikuti isi kandungan puisi yang terkadang berisikan kemarahan seorang miskin, satire terhadap pemerintahan, kesedihan anak pada ibunya, percintaan dua sejoli, dan masih banyak lagi.

***

Demikianlah nasib sebuah puisi. Puisi ditulis, terkadang, tidak untuk dibacakan –atau bahkan tak pernah terpikir sama sekali bagaimana cara terbaik ia dibacakan. Ia menemukan maknanya sendiri di sejumlah perenungan-perenungan singkat pembacanya. Tanpa mengenal suara, pun intonasi. Puisi yang bergerak untuk mencari ruhnya sendiri dalam kesunyian.

Puisi model ini (sepakat atau tidak) boleh dikatakan sebagai puisi yang egois. Puisi yang tak pernah mau tahu bagaimana keinginan dan keadaan pembacanya. Terkesan gelap, kabur makna dan dibuat semaunya sendiri. Subjektifitas si pengarang amat kental. Namun demikianlah adanya puisi, sebuah karya sastra yang dinilai paling otoriter dibanding dengan jenis karya sastra yang lain. Pembaca tak harus sepenuhnya paham, melainkan dituntut untuk terus meraba-raba, menerka, mencari makna dan maksud isinya sepanjang hayat, bahkan hingga jasad si pengarangnya sudah terkubur menyatu dengan tanah. Pembaca dituntut untuk terus mencari.

Bahkan tak sedikit pula puisi yang sengaja ditulis tidak untuk benar-benar dipahami seutuhnya. Dan pembaca diliputi rasa penasaran yang tak kunjung berkesudahan.

“Untuk apa puisi ini ditulis? Apa maksudnya?” tanya seorang pegiat sastra ingusan kepada si pengarang puisi.

Entah, aku juga tidak tahu. Tidak ada tujuan jelas megapa aku menulis itu. Ada yang sukar untuk diterangkan. Perasaanku saja yang tiba-tiba mendorongku untuk menuliskan kata-kata itu,” jawabnya sederhana. Karena seorang pengarang pun merasa gagap dan kelu untuk menetapkan sebuah pemaknaan terhadap puisinya sendiri. Sebab sebuah puisi, sebagaimana yang selama ini banyak diketahui, bahwa pada dasarnya bersifat multi-tafsir. Setiap orang berhak untuk menafsirkan serta menilai melalui perspektifnya masing-masing sejauh pengamatannya sendiri.

Sebuah puisi, ketika selesai ditulis, disadari atau tidak, bahwa seorang pengarang telah purna meniupkan padanya ruh. Ruh yang bersemayam dalam tubuh puisi. Puisi itu hidup dan menggantungkan nasibnya. Adakah ia diakui keberadaannya atau justru hanya menggelandang di alam antah berantah dalam kepala si pengarang. Ia, sebagai kata-kata, hanya bisa pasrah.

Di malam lepas dinihari ini, sebuah puisi datang dengan amat geram, bait-baitnya compang camping, larik-lariknya tak beraturan; menggugat keberadaannya yang merasa ditelantarkan oleh pengarangnya.

Dan pengarang itu, adalah saya sendiri.

Merlion, 14 April 2016


  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Puisi adalah tempat kita menyembunyikan tabu-tabu yang coba kita lepaskan.

    Bahkan, puisi akan tetap berguna untuk pengarangnya jika ia menuliskannya di atas air, atau sesobek kertas lalu membakarnya setelah puisi itu jadi.

    *sok serius juga ah

    • Lihat 2 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sepakat dengan Mba Ayin, ia cukup mengikuti karya Inspirator lain. Mantap Mba Ayin.

    Catatan ini padat. Tata bahasanya 'formal' tapi dalem. Bnyk org yg berkata, "org lain yg dapat mengenal siapa kita sebenarnya." Itu salah menurutku, "kitalah yg dpt mengenal diri kita sebenarnya, bukan org lain."

    Seandainya puisi itu 'hidup' pasti ia dpt memaknai dirinya, tapi sayang, ia hanya 'hidup' jika dapat dimaknai oleh pembacanya. Selain itu, ia 'mati'.

    Aku tak suka 'onani' kata-kata itu tak dapat menyampaikan maknanya. Hanya merangkai saja, paya terlihat bagus. Keren. Tapi miskin makna karena pembacanya tak mampu memaknainya.

    *edisi serius komen. Entah nyambung ato gak
    Tulisannya juga serius.


    • Lihat 4 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    keren pak salam kenal saya suka

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Setidaknya puisi-puisimu bisa kau jadikan mahar untuk meminang si "Dik" mu itu.

    • Lihat 4 Respon