Dik, Kupinang Kau Dengan Mahar Draft 1000 Puisi

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 April 2016
Dik, Kupinang Kau Dengan Mahar Draft 1000 Puisi

 

Jangan terlalu serius. Ini hanya semacam curhatan –atau bahkan igauan (?) dari seorang mahasiswa yang hatinya kalut di sela-sela aktivitasnya yang kepalang membosankan. Kau bisa mengawali dengan menyeduh segelas kopi pahit.

Judul tersebut ditulis, lagi-lagi oleh seorang mahasiswa slengean, jomblo akut, agak mulai jarang masuk kuliah, berstatus pengangguran yang bekerja serabutan di beberapa awak media cetak; apalagi disebut-sebut sebagai lelaki mapan, oh, sungguh jauh sekali. Selain satu-satunya, ia memiliki hobi iseng-iseng yang tak juga menjadikannya layak dilirik banyak wanita (betapa miris!), yang telah digelutinya selama 5 tahun terakhir yakni, menulis puisi –yang sekali lagi, tak juga untuk kekasihnya dan tak juga dari hasil menulis tersebut, mendapat income sepadan yang kadang, justru malah di luar ekspetasinya.

Suatu malam, seusai diskusi rutinan di lembaga kajian Hadis yang diikutinya, ia merasa ditimpa celaka, manakala tanpa sengaja menemukan dan membaca sebuah artikel lepas dari satu portal ternama yang berseliweran di timeline Twitternya, berjudul: 5 Daerah Meminang Wanita Temahal di Indonesia. Lima daerah tersebut, jika diruntutkan, ada Bugis, Aceh, Banjar, Batak dan Nias. Celaka, sebab ia yang membaca artikel itu, selama ini kerjanya lebih sering bermalas-malasan. Dan bukan masalah pelik, bagi mereka yang hidupnya mapan, orang-orang berpunya.

Membaca itu, dengan rincian budget yang dikalkulasi oleh si penulis artikel, membuat nyalinya benar-benar ciut.

Lelaki, dimanapun berada, berasal dari suku dan kalangan manapun, hari ini, semakin gemetar lututnya ketika mengetahui dan secara sadar bertanya dalam hati, “Biaya untuk mempersunting si eneng bemata padang bulan sekarang kisaran berapa ya?” Cukup dilematis. Melihat kenyataan, bahwa sekarang mencari pekerjaan layak di desa maupun kota, dengan standar-standar yang ditetapkan oleh pemerintah sekarang, kian sulit. Beruntung kita punya Tuhan tempat menggantungkan segala sesuatu serta menjadi penunjuk jalan terbaik. Sebab bisa kita lihat, tidak hanya satu-dua kasus yang diberitakan di televisi, akhir-akhir ini, yang membuat seorang kepala rumah tangga mesti mengakhiri hidupnya dengan gantung diri akibat mengalami frustasi dan tekanan menjalani hidup.

“Modal dengkul dan cinta saja mana cukup. Bisa-bisa, diusir calon mertuamu nanti, Bro,” tukas seorang kawan dalam sebuah perbincangan di kedai kopi. Saya menyesap sebatang kretek, hati semakin kalut.

“Menikah itu sunah nabi, upaya memperbanyak ummat dan menarik rezeki dalam hidup,” begitu kata orang-orang tua zaman dulu. Tidak ada alasan untuk takut menikah. Rezeki, Tuhanlah yang menjamin. Bahkan, saking dianjurkannya, Nabi yang mulia juga pernah bersabda: “Menikahlah, walau dengan mahar dari setuas cincin besi”. Ya, cincin besi, murah atau bahkan tak seberapa nilainya di mata manusia yang menandakan kesederhanaan sebuah pertalian sakral sehidup-semati yang sering kita sebut: Pernikahan.

Tetapi, belakangan, bagi lelaki khususnya, urusan menikah tidaklah semudah dan sesederhana itu. Syukur kalau ada calon mertua (semoga itu termasuk bapak dan ibumu juga ya, Dik) yang tidak banyak mensyaratkan macam-macam dan mengingankan ini-itu. “Yang penting sudah punya pekerjaan tetap dan siap menjaga anakku”, kata seorang bapak yang bijak bestari dalam khayalan setiap lelaki. Yang penting mau serius bekerja, bertanggungjawab,  berupaya menghidupi dan membahagiakan istrinya. Soal sukses dan layak, itu urusan Tuhan, bisa menyusul di belakang.

Namun terkadang, demi menjaga gengsi keluarga, marga atau nama baik, pernikahan yang digambarkan sederhana oleh orang-orang tua dulu, justru menjadi amat menyeramkan bagi lelaki yang kuliah saja, mesti dibiayai oleh pemerintah dengan bantuan beasiswa. Mahar harus segini. Biaya resepsi segini. Catring segini. Peminjaman tenda, bangku, tata rias, segini. Sanggup tidak? Pekerjaanmu sekarang bisa menutupi semua pembiayaan itu tidak? Dan kita, dalam catatan ini tidak membahas lebih jauh soal dengan apa nanti kita akan menjalani hidup bersama.

Berbeda halnya kalau kau anak orang berada, yang bagimu, uang 100 juta dengan sekejap ada di depanmu dengan sekali menadah kepada orang tua. Ah, tetapi laki-laki, terlebih dari kalangan biasa-biasa saja seperti kita, umumnya selalu ingin mandiri dan tak ingin menyulitkan orangtua bukan?

Dan pada akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan sangat menjengkelkan. Boleh sepakat atau tidak. Kembali ke diri kita masing-masing. Masih banyak hal dibiarkan menggantung dan belum terjawab. Entahlah. Saya hanya coba menyarankan: kita sebagai lelaki yang hari ini ditakdirkan sebagai lelaki –lebih-lebih pandai dalam hal agama, jangan terlalu banyak bergelut di atas sajadah saja. Bekerja segiat-giatnya. Berpenghasilanlah sebanyak-banyaknya. Sebab bermodalkan ibadah, doa dan ilmu agama saja tak akan pernah cukup. Sungguh. Kedua-duanya mesti berjalan seimbang. Selaras. Bersikap realistislah sedikit. Agar tak lagi dipusingkan soal meminang kekasihmu yang sejak lama, telah siap menjalani hidup bersamamu. Susah-senang. Dunia-Akhirat.

Oh iya, maafkan saya kalau di bagian akhir catatan ini agaknya jadi melankolik dan terkesan serius.

Penutup:

Dan kau, Dik, aku yakin kau telah membaca catatan “kecengengan” abang ini. Bilang kepada orangtuamu, “bolehkah abang kelak datang meminangmu dengan membawa draft 1000 puisi?” Barangkali puisi tak menjadikan kita, juga orangtuamu, kaya raya secara materil. Tetapi puisi, Dik, beserta penghayatan makna yang terkandung di dalamnya, setidak-tidaknya dapat menjadikan kita lebih tabah dan tenang menjalani hidup, sesulit apapun. Sebab yang haru kautahu, bahwa puisi adalah doa yang paling sejati. Percayalah. Maafkan abang yang dalam catatan ini, betul-betul terkesan pengecut.

Merlion, 6 April 2016