Menuba Laut; Racun Diksi yang Menjelma Keterpukauan dalam Puisi

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 06 April 2016
Menuba Laut; Racun Diksi yang Menjelma Keterpukauan dalam Puisi

?..Lama sebelum akhirnya HN menemukan metafor-metafor yang nantinya dilekatkan pada dirinya sebagai sebuah ciri khas. Lama sebelum akhirnya HN? mengenalkan kita pada diksi-diksi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya bahkan mungkin luput dari perbendaharaan kebahasaan kita. Adalah sesuatu yang menarik bahwa, kita pun bisa terseret menikmatdiksi yang tak kita pahami. Menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang secara psikis menarik kita pada puisi-puisi itu..?

Barangkali, pada bagian paragraf yang ditulis oleh Mbak Dewi Alfianti dalam prolognya di atas, cukup atau bahkan sudah sangat lebih, untuk mewakilkan pembacaan saya yang masih terbilang baru sebagai anak ingusan yang menggeluti dunia kesusasteraan dan masih harus banyak belajar dari sosok yang ingin saya bahas dalam tulisan singkat ini; terhadap 57 judul puisi yang terdapat di dalam Menuba Laut, Hudan Nur.

?Ka Hudan,? saya kerap menyapanya demikian melalui akun media sosial, adalah satu dari sekian banyak ?nyonya-nyonya pemilin kata? berasal dari Kalimantan Selatan yang saya kenal namanya dan cukup intens saya ikuti pemuatan karya-karyanya yang sebagian besar berupa sajak (terakhir sekali, yang sempat saya baca dan simpan format ISSUE-nya, yakni pemuatan beberapa puisinya di Sastra Sumbar beberapa bulan lalu). Bermula dari pemuatan puisinya, pada suatu waktu di rubrik Puisi Hari Ini, Media Kalimantan, (kalau saya tak salah ingat, pemuatan itu di pertengahan tahun 2012). Puisinya yang secara kebetulan saya baca hari itu berjudul ?Yom Riau IV? membuat saya tertarik untuk mengkaji lebi jauh. Dan entah, sejak saat itu, diam-diam saya menyukai cara pemaknaan, gaya penulisan dan tentu saja, yang khas sekali padanya, yakni cara mengolah diksi.

Banyak diksi, mulai dari yang lazim, bahkan hingga yang tak lazim kita temui, diramunya sedemikian rupa menjadi serangkaian utuh bentuk puisi yang tak hanya sekadar dipahami maksudnya, namun sekaligus dinikmati pelan-pelan, larik ke larik, secara apik dan pukau.

Dan sampai hari ini ?bila mengingat-ingat hal itu lagi, saya masih merasa berdosa soal undangannya tempo hari yang urung saya hadiri pada pertengahan Februari lalu; launching Komunitas Teras Puitika & Menuba Laut (berbarengan 2 buku lain milik Ibu Agustina Thamrin dan Ibu Rini Intama), karena tiket bis antar-provinsi Banjarmasin ? Samarinda yang terlanjur saya pesan, jadwal keberangkatannya, tepat 2 hari sebelum acara tersebut.

Selamat atas kelahiran anak rohani terbarunya, Menuba Laut, --walau sudah kepalang terlambat sekali mengucapkannya, tak apalah, setidaknya kata tahniah tak pernah mengenal masa. Semoga puisi-puisinya terus tumbuh berbiak, mencari makna dan menghidupi kedalaman laut yang tak sekadar luas padang samudera, melainkan laut hakiki yang tak mengenal dasar; laut kata-kata.

Terakhir, ada baiknya tulisan ini saya tutup dengan salah satu penggalan akhir puisinya:

sudah di bait terakhir / kejalanganku tak bisa dihindari / sadak ke lebaran itu / tak usah menembis, dinda / sajakmu, kopulasi lirih!

(Menuba Laut, Suatu Hari Membaca Sajak, hlm. 48)

??????????????? UIN Syarif Hidayatullah, 5 April 2016

?

  • view 200