Puisi Kematian Penyair Sapardi

imam budiman
Karya imam budiman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Maret 2016
Puisi Kematian Penyair Sapardi

Sapardi, berhentilah menulis cerita.

Seorang penyair muda, menjelma setitik cahaya di balik lubuk-lubuk hujan. Meringkuk, mengecil, menggulung di antara ruas-ruas dedaun Hebras. Ia murid si pemilik nama yang ditujunya, datang nun jauh dari selasar mimpi, di suatu malam demi untuk menyatakan langsung hal itu kepada Sapardi. Tetapi, si pemilik nama menunjukan tampakan tuli, buta, kelu. Sehingga penyair muda itu harus menjelma suatu yang lebih dekat dengan Sapardi. Dekat dengan hengal napasnya. Dekat dengan rasa takut yang dimilikinya: kematian.

***

Sapardi, berhentilah menulis cerita.

Dalam cerita-cerita yang sengaja kauranum dan kaupetik dengan penekur masa dari setungkai kata, kuperdapati pendar-pendar cahaya dirimu menjadi baharu, berkeping dan pecah. Entah cerpen, mantra narasi ataupun novel. Ladang sajakmu seolah diberi jalan leluasa untuk masuk bagi air keruh yang kemudian, di waktu redam, dapat menenggelamkan larik demi larik, perlahan. Entah apakah ini hanya sekadar kerisauanku yang gulita. Aku benar-benar tak paham.

Tetapi sungguh, aku tak ingin kau memfokuskan diri untuk menulis sebuah cerita lagi. Sudah banyak para kritikus yang melayangkan kekecewannya terhadap buku novel terbarumu dalam banyak bentuk, media cetak hingga sosial. Aku tak tahu apakah kau membacanya atau tidak, peduli atau tidak, entahlah. Tuah puisi yang kaualih-wahanakan dalam bentuk cerita, tak sekeramat sajakmu sebelumnya, begitu kukira yang dapat kusimpulkan sementara dari “kicauan-kicauan” mereka. Ada baiknya, Sapardi, kumohon, mulai sekarang kau selesaikan aku dan beberapa kawan-kawan lain untuk satu buku puisi terakhir. Sebelum tiba waktu di mana kau hanya tinggal mendengarkan puisi-puisimu dilagukan sebagai doa.

Aku adalah puisi yang  dulunya sempat terbesit untuk kautulis, dulu, lama sekali, aku lupa kapan tepatnya. Namun kau justru urung sebab kelahiran saudara puisiku yang lebih romantik, lahir dari ternak alam katamu. Ya, aku puisi yang bagimu, tentu bukanlah apa-apa. Puisi yang sejak lama terendap dalam sepetak ruang yang hampir tak terjamah. Atau barangkali kau  memang benar-benar tak lagi mengingatnya, Sapardi?

Kau tak sedikit pun berniat ingin segera menggarapku. Tak perlu lah terburu-buru, katamu. Serupa Chairil, namapaknya kau pun memiliki kehendak yang tak berlainan, yakni: ingin hidup seribu tahun lagi. Dan kau lebih mujur ketimbang Chairil yang mati baru hendak berkepala tiga, “seribu tahun”-mu terwujud di usia sesenja ini, kau masih tetap berpuisi.

Tetapi sedikit pun aku tak ingin mengeluh perihal itu. Percuma. Kau juga masa bodoh. Tesisihkan adalah satu dari sepersekian rasa haru dan duka yang sudah sejak lama kutempuh dalam kepalamu, sudah kurasakan pula berkali-kali. Ada baiknya mengalah untuk waktu yang tepat, lirihku, membesarkan hati.

Untungnya aku dibuat tak berkelamin, sehingga aku tak laik menudingmu semena-mena. Meski aku sadar, aku ini puisi penyemburu yang suka kalap. Kalau saja aku perempuan, barang tentu sudah merasakan patah hati yang amat sangat. Kemudian sesegera letupan kecil di ambang kolam, umpan bama yang diterkam ikan, aku mengambil pisau dapur, meminta waktu untuk bertemu denganmu sebentar dan menusukmu berkali-kali. Kau roboh, tersungkur. Mengiba-iba. Sehingga, di ujung sekaratmu, aku kaubacakan untuk yang terakhir kali.

Aku tenggelam bersama geladak paling dasar dari gelas kopi yang kau seduh dengan sedemikian khidmat setiap pagi. Kata yang tak pernah kauumbar, barangkali karena bagimu, aku janin puisi yang prematur. Kau ini penyair tua yang lupa mati, Sapardi. Bertaubatlah dengan puisi.

Di lain waktu, kau  juga pernah sesumbar pada seorang anak muda yang tak kalah kurus keringnya sepertimu. Tempo hari ia datang menyambangi rumahmu dengan merumuskan decak kagum, bahwa kau, penikmat musik klasik yang amat candu. Semacam orgasme alam bawah sadar, mungkin, kalau aku boleh mengistilahkan kegemaranmu itu.

“Kau bisa lihat sendiri koleksiku, anak muda,” katamu, penuh bangga. Tanpa kata, anak muda itu ternganga, membentuk huruf O di antara dua tanjung bibirnya.

***

Wajah senja mengapung ronta dalam kesakralan secangkir teh. Teh, bagi penikmatnya, adalah suatu kenikmatan yang sukar diterangkan seluk muasalnya. Wajah itu seolah terjebak dalam lingkar yang tak pernah disetujuinya. Ia bergerak, ke kanan—ke kiri. Di dalamnya, ada wajah lain penuh guratan serta cekung di sepasang mata yang tergerus waktu; wajah Sapardi.

“Sunyi adalah tempat terbaik untuk mengabdikan diri pada puisi,” katamu di suatu sore, sembari menyeduh ringan segelas teh hangat dangan sepiring pisang goreng tepung. Kau lebih memilih berkawan dengan segelas teh ketimbang pahit kopi, saat menghabiskan senja yang luruh di pekarangan depan rumahmu yang penuh kenangan. Ya, kenangan masa muda ketika seluruh waktu kauhabiskan sepenuhnya untuk mengajar mata kuliah Sastra di dua Universitas besar sebagai pengajar tetap dan beberapa universitas luar kota sebagai dosen tamu.

Kau suka sunyi. Kau suka kehilangan bunyi. Sesaat. Itu katamu, aku ingat.

“Saya ini pengajar, dosen. Suka menulis berbagai macam hal.” Selorohmu. Dan aku sudah sangat hafal, itu adalah kalimat andalan yang paling sering kauucapkan berulang-ulang kali, baik ketika mengisi seminar ataupun ketika launching buku terbarumu. Bagimu, setiap tempat adalah bertemu dengan orang-orang baru, sehingga penting untuk mengenalkan diri. Semacam perkenalan singkat yang dapat menghantar pendengarmu, agar mereka meyakini, bahwa kau bukan orang yang main-main bicara soal sastra; teori dan praktek.

Tetapi, Sapardi, kau ini sudah renta, tak bisa sering kelelahan. Bisa menjerit-jerit payah persendianmu itu. Jangan banyak keluar rumah. Tak baik untuk kesehatan. Mendekamlah dalam sunyi. Rampungkan aku, Sapardi. Selesaikan!

 

***

Sapardi, berhentilah menulis cerita.

Aku tahu, selama ini kau telah banyak menulis beragam hal. Kalau kau sedang tak ada acara keluar kota, di usia seringkihmu itu, kau bisa menghadapi komputer hingga berjam-jam. Kegilaanmu terhadap menulis memang tak dapat terbantahkan. Dari yang paling ilmiah, penuh kata-kata baku, makna tersirat hingga yang paling imajiner, penuh rangkaian metafor, makna tersurat. Dua hal yang berbeda bahkan bertentangan. Kau dapat menyelesaikannya dengan amat apik.

Tetapi kau mesti ingat, ini penghujung usiamu, Sapardi! Alangkah lebih baik kau mengabdikan dirimu sepenuhnya pada puisi. Siang-malam, puisi. Lelap-jaga, puisi. Makan-minum, puisi. Gerak-diam, puisi. Sebab puisi, pengakuanmu, telah menjadi darah dan daging.

“Tetapi aku seorang yang hanya pandai menulis puisi, sedang pembacaanku sungguh sangat buruk sekali.” Kau mengaku di sela ceramahmu di salah satu event sastra terbesar tahunan negeri ini. Untuk setiap pembacaan, kau cenderung meminta dibacakan saja. Sebab bagimu, seorang penyair dan pembaca puisi adalah dua hal berbeda. Tentu pendapat ini dibantah mentah-mentah oleh para penyair lain. Barangkali, ini menjadi kekuranganmu yang selama ini fokus untuk hal lain.

Tetapi aku tak berhak menuding apalagi menyalahkanmu, Sapardi. Maafkan aku yang terlalu banyak mendiktemu seperti kaum penyuruh. Aku tak bermaksud begitu.

Aku paham, apa yang kaulakukan berdasarkan tuntutan pekerjaan yang kadangkala menyibukkanmu untuk mengurusi ini itu. Sibuk. Pikiranmu bercabang-cabang. Termasuk pula diantaranya, mahasiswa yang disertasinya di bawah bimbinganmu (Oh ya! Dari sekian banyak mahasiswa yang kaubimbing, kau juga sempat menyinggung soal SGA yang kini, menurut pengakuanmu, telah lebih hebat dari dirimu sendiri).

Tabahlah, Sapardi. Kau patut berbangga atas puncak pencapaianmu membimbingnya. Lagi pula, ini bukan perkara siapa yang lebih hebat, melainkan soal selera. Sebagian orang memilih untuk mencintai karangan siapa yang lebih berkesan dan membekas. Setiap karya memiliki pembaca sendiri-sendiri. Ah, maaf Sapardi, aku jadi sok mengajarimu di paragraf ini.

“Aku kerontang sebab puisi menghisap saripati tubuhku,” lagi, kau mengeluh. Anak muda ingusan yang kauajak bicara, melongo. Atau mungkin ia berpura-pura menahan tawa. “Makanya, jangan sok muda,” kira-kira itu yang ada dalam benaknya. Beberapa waktu lalu, setelah bangun pagi, kau terjatuh dari ranjang. Cukup lama kau mendekam di ruangan serba putih dengan aroma racikan obat yang tak mengenakkan. Vonis dokter, tulang lututmu ambyar. Dan sejak itu, tertatih kau lebih sering kemana-mana menggunakan tongkat.

Kau bersyukur karena kurus, satu-satunya hal buruk yang kausebut sebagai penyakit. Kurus yang membawa keberuntungan, mungkin. Jika tidak, barangkali proses penyembuhan akan memakan waktu yang lebih lama, jika seandainya kau mengalami obesitas.

***

Suatu pagi, setengah tertatih, setelah sedikit meregangkan sendi-sendi tubuhnya yang ringsut, Sapardi menjemput koran Minggu yang disangkutkan oleh loper koran langganan di pagar rumahnya. Rutinitas harian yang sama halnya dengan membaca kitab suci; tak boleh ketinggalan. Koran adalah kitab suci kedua bagi seorang Sapardi. Ia membacanya, perlahan. Halaman ke halaman. Hingga diperdapatinya rubrik Sastra koran itu yang diterbitkan rutin seminggu sekali. Ia setengah terkejut. Mengulangi pembacaan beberapa paragraf yang dirasa menohok kesadaran. Air wajahnya seketika berubah mendung. Masam.

“Sontoloyo sekali rupanya anak muda itu,” hardiknya. Mendadak teringat olehnya sesuatu. Ia menutup lembaran-lembaran koran, meletakkan di atas meja, kemudian bergegas menuju kamar. Terburu-buru. Di sana tengah mendekam komputer tabung miliknya. Ada yang ingin segera ia selesaikan.

Ya, segera. Puisi terakhir jelang kematiannya. Puisi yang tak lagi dimaknai oleh kata, melainkan keabadian.

SDD, Ciputat, 2015

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Tulisan yang sungguh membuai. Kata-kata indah membuat tulisan ini enak dibaca dari awal hingga akhir. Pilihan kata yang tepat dengan menggunakan teknik penulisan yang bagus berhasil membawa pembaca turut menyelami emosi si penulis, entah kagum, kecewa, atau marah dengan pujangga favoritnya yaitu Sapardi, dalam level yang pas. Yang menarik dari teknik penulisan di sini adalah penulis lihai memadukan hasil percakapan dengan sang penyair dengan suara batinnya hingga menjadi tulisan yang lumayan berkelas.
    Karya ini menceritakan kekaguman seorang penulis muda terhadap panutannya. Ia mengharapkan idolnya, sastrawan Sapardi, lebih baik berfokus saja dalam menciptakan epik puisi dibandingkan turut sibuk mengurusi aktivitas lainnya yang seabreg atau menulis cerita yang terkadang menuai tanggapan negatif. Tetapi Sapardi tentunya lebih tahu apa yang dia lakukan. Tak hanya melulu memuji, tulisan ini juga kritis dilihat dari kacamata penggemar yang biasanya hanya mengangkat yang baik-baik saja alias terlalu subyektif. Hebat!

    • Lihat 1 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.

  • Muhammad Idris Lubis
    Muhammad Idris Lubis
    1 tahun yang lalu.
    luar biasaa, terhanyut dalam cerita, seakan aku adalah puisi, yg belum selesai di tuliskan. Ah Sapardi, sungguh bahgia engkau punya saudara yg mengingatkanmu akan kematian, walaupun hanya sebuah puisi.

    • Lihat 1 Respon