Salah Sedekah

Imam Nugroho
Karya Imam Nugroho Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 24 Februari 2016
Salah Sedekah

Aku iri padamu. Ya, aku iri padamu, ibu penjual tisu. Bukan untuk merendahkanmu, tapi bisa aku tebak, penghasilanmu dari jualan tisu tidaklah seberapa. Satu paket tisu, kamu jual dua ribu rupiah. Yang biasa aku temui di supermarket, tisu yang kau jual harganya bisa mencapai empat ribuan. Entah berapa rupiah keuntungan yang kau dapatkan, dari setiap paket tisu yang terjual.

Sementara itu, tidak selalu terjual laris tisu yang kau dagangkan itu, bahkan aku pun belum pernah membelinya. Pernah aku lihat, tisu yang terjual hanyalah satu paket dari satu bus yang kau masuki. Dan lagi-lagi, tidak semua bus yang kau masuki ada penumpang yang membelinya. Ah, entah berapa keuntungan yang kau dapatkan.

Tapi aku lihat kau selalu ?sumringah? menjalani kondisi itu. Tidak aku lihat guratan kesedihan ataupun kekecewaan dengan jalanan nasibmu seperti itu. Namun kau selalu tersenyum, selalu menyapa sesama penjual (asongan) yang lain. Padahal, idealnya seorang ibu, di waktu pagi seperti itu, harusnya berada di rumah, mendampingi suami dan anak yang hendak beraktivitas. Ah, mungkin kau adalah tulang punggung keluargamu.

Aku iri padamu. Mengapa bisa? Ya, dalam kondisimu seperti itu, aku melihatmu memberikan sedekah kepada ibu pengemis tua (sama-sama perempuan), yang jujur, aku sendiri sangat tidak bersimpatik terhadapnya (ibu pengemis tua itu). Engkau tidak berpikir apapun, selain menyedekahkan uang (harta) yang kau miliki. Berbeda denganku, kadang ku selalu berpikir ketika hendak memberikan sedekah kepada seorang pengemis. ?Benarkah dia seorang pengemis yang benar-benar membutuhkan bantuan?? ?Jangan-jangan, ia hanya berpura-pura cacat.? Dan lain sebagainya. Namun ketika aku melihatmu memberikan uang, tak terlihat kau berpikir lama seperti yang biasa aku lakukan.

Ah, kau benar-benar menunjukan sebuah keikhlasan dalam bersedekah. Tak terlihat kau khawatir jika uang yang kau kasihkan itu akan disalahgunakan, karena ia pengemis yang berpura-pura. Tak terlihat kau khawatir salah memberikan sedekah.

Aku jadi teringat sebuah kisah, tentang tidak ada yang sia-sia dengan amal kebaikan yang kita lakukan. Berikut kisahnya:

Al kisah ada seorang dermawan yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan. Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya. Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kabar ini si dermawan hanya mengatakan? Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat?

Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orng tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kpd seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata ?Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor?.

Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ? Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya?.

Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang ?Ceroboh? Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia? lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.

Tapi ternyata suatu niat yang baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan ?kecerobohan? si dermawan.

Uang yang diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha.

Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yang diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah.

Sementara itu pemberian yang diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yang kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.

Kau benar ibu penjual tisu, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap suatu kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan.

Dan semakin besar rasa iriku padamu, yang berlum bisa sepertimu!

?

#catatanpagimenjelangberangkatkerja

?

Imam Nugroho

  • view 232