Resolusi Jangka Panjang

Imam Nugroho
Karya Imam Nugroho Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Desember 2016
Resolusi Jangka Panjang

Penghujung akhir tahun 2016 dalam hitungan beberapa hari kedepan. Hampir dipastikan, setiap diri bersegera membuat segala resolusi untuk tahun mendatang. Selalu indah dalam kata dan kalimat, biasanya begitulah resolusi dibuat. Tidak lah salah, meskipun pada akhirnya, resolusi tahun mendatang adalah menjalankan resolusi tahun sebelumnya, hehe.

Namun, tidak jarang kemudian, diantara kita memfokuskan diri terhadap resolusi indah yang erat kaitannya dengan urusan duniawi. Seperti, pencapaian financial freedom, kenaikan pangkat atau jabatan, mengunjungi beberapa tempat wisata (baik local ataupun interlokal), kepemilikan rumah beserta perlengkapannya, kepemilikan kendaraan, atau bersegera menikah bagi yang masih belum menikah, dan lain-lain. Tidak salah. Tidaklah mengapa. Namun apalah daya, terkadang disetiap ketidakterwujudan segala resolusi-resolusi tersebut, membawa pengaruh terhadap kelemahan kesyukuran, terlebih jika disandingkan dengan orang lain.

Maka, sebelum resolusi itu diukir indah, sebelum niat dilafadzkan merdu, ikhlaskan atas semua ketidakterwujudan, dan tawakalkan untuk semua keterwujudan itu. Sehingga resolusi tidak sekedar keduniaan. Tapi resolusi yang jauh ber-visi ke depan, ke negeri akhirat.

***

Adalah Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, “Barangsiapa yang ingin meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah mati, yaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati, sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan. Mereka itu adalah suatu kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi para sahabat NabiNya SAW dan bekerja untuk menyebarkan agamaNya. Karena itu, hendaklah kamu mencontohi kelakuan mereka dan ikut perjalanan mereka. Mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdiri di atas jalan lurus, demi Allah yang memiliki Ka’bah!” (Hilyatul-Auliya’ 1:305)

***

Suatu waktu, beberapa orang sahabat yang miskin datang menemui Rasulullah saw. Mereka mengadukan sesuatu. Tapi mereka bukan sedang mengadukan kesulitan hidup, beban ekonomi yang semakin berat atau hutang yang semakin menumpuk.

Mereka kemudian mengeluhkan orang-orang kaya dari kalangan sahabat juga. Apa yang mereka keluhkan? Apakah mereka dizalimi atau direndahkan oleh orang-orang kaya tersebut? Apakah ada hak-hak mereka yang lamban diberikan oleh orang-orang kaya itu?

Ternyata yang mereka kadukan kepada Rasulullah saw dan mereka keluhkan benar-benar berbeda dengan potret kehidupan sehari-hari yang biasa kita lihat dan dengar di masa ini. Mari kita simak riwayat berikut ini:

Abu Hurairah ra menceritakan: “Suatu hari beberapa sahabat yang fakir datang menemui Nabi saw. Mereka berkata: “Orang-orang kaya telah ‘memborong’ semua amal kebaikan dan derjat yang tinggi di sisi Allah swt.” Rasulullah saw bertanya: “Kenapa demikian?” Mereka menjelaskan: “Orang-orang kaya itu shalat seperti kami. Mereka juga berjihad sebagaimana kami berjihad. Tapi mereka bisa bersedekah dan berinfak dari kelebihan harta yang mereka punya. Sementara kami tidak punya kelebihan harta untuk bisa seperti mereka.” (HR. Bukhari nomor 6329 dan Muslim nomor 595).

Ternyata yang menjadi keluhan para sahabat yang miskin-miskin itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah uang atau hutang piutang. Yang jadi masalah ternyata adalah ‘persaingan’ dalam beramal. Mereka memang bisa setara dengan orang-orang kaya itu dalam sebagian besar amal saleh; shalat, puasa, jihad dan sejenisnya. Tapi orang-orang kaya itu berhasil mengungguli mereka dalam amalan-amalan yang butuh pada harta; zakat, sedekah, menyantuni orang lain dan sejenisnya. Para sahabat yang miskin ini tidak tinggal diam melihat hal tersebut. Mereka mengadukan ‘kekalahan’ mereka dari sahabat-sahabat yang kaya dalam perlombaan mendapatkan keridhaan Allah dan derjat yang tinggi di sisi-Nya. Sebuah persaingan dan perlombaan yang luar biasa dan sangat menyentuh.

Setelah mendengar pengaduan dari sahabat-sahabat yang miskin ini Rasulullah saw kemudian memberi tahu mereka sebuah amalan yang kalau mereka lakukan mereka akan bisa mengejar ketertinggalan mereka dari sahabat-sahabat yang kaya.

Rasulullah saw bersabda: “Maukah kalian aku beri tahu suatu amalan yang kalau kalian lakukan maka kalian akan dapat mengejar keunggulan orang-orang sebelum kalian dan mengungguli orang-orang yang datang sesudah kalian.” Mereka menjawab: “Mau ya Rasulullah.” Rasulullah saw bersabda: “Kalian bertasbih (membaca subhanallah), bertahmid (membaca alhamdulillah) dan bertakbir (membaca Allahu akbar) setiap selesai shalat masing-masing sebanyak 33 kali (dalam riwayat lain sebanyak 10 kali).”

Pulanglah para sahabat yang miskin itu dengan perasaan lega dan jiwa penuh semangat. Mereka merasa yakin mampu menyaingi amal sedekah dan infak yang selalu didominasi oleh sahabat-sahabat yang kaya.

Tapi ternyata informasi dari Rasulullah tersebut sampai juga ke telinga sahabat-sahabat yang kaya. Mereka pun tak mau ketertinggalan. Mereka juga mengamalkan pesan Rasulullah itu setiap selesai shalat. Akhirnya para sahabat yang miskin kembali mengadu kepada Rasulullah saw. Mereka berkata: “Ya Rasulullah, sahabat-sahabat kami yang kaya juga mengetahui pesan yang engkau sampaikan pada kami. Akhirnya mereka pun melakukan seperti yang kami lakukan.” Akhirnya Rasulullah saw bersabda: “Itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Orientasi pada Akhirat

Orientasi pada akhirat. Itulah yang senantiasa berkecamuk dan membara dalam diri para sahabat Nabi. Mereka tidak akan pusing dan iri melihat orang lain unggul dalam harta dan posisi. Tapi mereka ‘tidak terima’ jika orang lain lebih unggul dalam amal saleh dan investasi akhirat. Alangkah jauh pandangan mereka. Alangkah bersih jiwa dan hati mereka. Alangkah indah hidup dalam masyarakat seperti itu. Ketika setiap orang berpikir dan merencanakan untuk kehidupan yang lebih abadi serta mengabaikan kekurangan-kekurangan yang mereka alami dalam kehidupan yang fana ini.

Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa ada seorang arab badui datang kepada Rasulullah saw. Ia berkata: “Beritahu aku amalan yang kalau aku kerjakan maka aku akan masuk surga. “Rasulullah saw bersabda: “Beribadah kepada Allah dan jangan sekutukan Dia dengan apapun, dirikan shalat-shalat yang fardhu, tunaikan zakat dan lakukan puasa di bulan Ramadhan.” Arab badui itu berkomentar: “Demi Allah, aku tidak akan menambah amalan lain dari yang engkau sebutkan.” Setelah ia pergi Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: “Kalau kalian ingin melihat seorang penduduk surga maka lihatlah orang itu.” (HR. Bukhari nomor 1397).

Seorang sahabat Nabi yang terkenal; Muadz bin Jabal juga pernah bertanya kepada Nabi hal yang serupa. Ia menceritakan: “Suatu ketika aku ikut dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah saw. Ketika jarakku dekat dengannya, aku berkata: “Ya Rasulullah, beritahu aku amalan yang bisa mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.” Rasulullah saw bersabda: “Engkau telah menanyakan sesuatu yang luar biasa. Tapi ia sangat enteng dan mudah bagi orang-orang yang Allah kehendaki. Engkau mesti beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun, dirikan shalat, tunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji.” (HR. Tirmidzi nomor 2616).

Demikianlah seharusnya seorang muslim. Obsesi dan orientasinya selalu akhirat. Resolusinya untuk akhirat. Tak ada yang mesti dirisaukan dalam kehidupan dunia yang sementara ini selain kehilangan kesempatan memperbanyak bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi. Orientasi yang selalu kepada akhirat akan tumbuh dengan menyadari hakikat kehidupan dunia yang sebenarnya. Kehidupan dunia bagi seorang muslim hanya ibarat sawah ladang untuk menanam amal saleh dan kebajikan untuk dipanen di akhirat nanti. Orang yang tidak menjadikan dunia sebagai peluang untuk memperoleh derjat yang tinggi di sisi Allah pada hari kiamat nanti berarti telah tertipu dan merugi. Mumpung masih di dunia mari jadikan obsesi, orientasi, dan resolusi kita selalu untuk mengejar kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.

Wallahu a’lam.

Imam Nugroho

  • view 172