Membangun dunia kedua, merekonstruksi dunia pertama

ilma illiyyin
Karya ilma illiyyin Kategori Motivasi
dipublikasikan 23 Maret 2016
Membangun dunia kedua, merekonstruksi dunia pertama

Bagiku, salah satu terapi menenangkan diri ditengah sibuknya hegemoni dunia adalah dengan menulis. Ia terapi yang ampuh to heal bad mood condition. Kita ga perlu rekreasi jauh-jauh keluar kota saat sedang penat menghadapi dunia. Bagi sebagian orang yang menyukai sastra, dalam tulisan itu mengandung imaji dan keajaiban, yang mana tafsirannya sendiri-sendiri tergantung sudut pandang masing-masing. Tidak ada adu argumentasi, tidak ada urat yang tegang, ketika menulis, itu terapi refleksi diri.
Menulis, bagiku menunjukkan eksistensi diri, orang bisa mati, tapi tulisan tidak sama sekali, berapa ribu penulis yang jasadnya sudah menyatu dengan tanah bumi tetapi tulisannya masih terus menerus di perbarui dan di jadikan materi diskusi. Itulah magisnya tulisan, ia berdiri sendiri. Tulisan beribu tahun yang lalu tidak pernah lekang oleh waktu, karena yang tadinya menjadi headline berita akan menjadi sumber saduran sejarah pada masa itu. Tulisan itu tak ada batas waktu, ia redudansi.
Pernah membayangkan? Satu penulis dengan penulis lainnya memiliki gaya kepenulisan yang berbeda, mereka mengambil kesimpulan yang berbeda . Angkat satu tema, diskusikan dengan sekelompok penulis, pasti mereka meresponnya dengan berbeda, karena Tuhan menciptakan otak yang sama bobotnya, hanya saja memiliki perkembangan yang berbeda. Itu yang namanya pluralisme dalam berfikir, melahirkan wacana-wacana baru.
Menulis itu membangun dunia kedua setelah dunia yang pertama, ia mengkontruksi dunia pelarian dibalik realita dunia. Maka dari itu, banyak dari penulis yang tidak dapat ditebak cara berfikirnya serta nalarnya. Keinginan menulis itu muncul dari dalam diri. Awalnya mungkin paksaan bagi para pemula, tetapi sampai bertemu titik nyamannya, ia akan menjadi kebiasaan bahkan menjadi candu.
Menulislah, agar yang tak bisa disuarakan dapat tersampaikan. Agar yang tak bisa di sebutkan bisa terjelaskan, agar yang tak paham menjadi paham. Agar yang tadinya tak tahu menjadi tahu, agar yang tadinya tak berilmu menjadi berilmu. Tidak ada yang sia-sia ketika menulis, karena ilmu pun tidak hanya riwayat melainkan diroyah, ilmu tidak hanya disampaikan melalui lisan akan tetapi juga melalui tulisan.

  • view 116

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Menulis bagi saya pribadi terkadang seperti mengurai benang kusut menjadi untaian yang terpisah, terlihat jelas. Pikiran yang tadinya rumit menjadi longgar, masalah bisa dipandang dengan sudut yang lebih obyektif dan terang. Setuju sekali sama isi tulisan ini. Menulis banyak manfaatnya, termasuk membuat kecanduan, haha! Kalo kecanduan menulis boleh lah asal nggak lupa makan dan tidur.