Rindu Pantai

Ilma Alfia
Karya Ilma Alfia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Rindu Pantai

?Aku kangen pantai,? katamu sore ini, saat kita duduk berhadapan di sebuah caf? toko buku favorit kita. Kamu dengan chocholate milkshake kesukaanmu yang masih setengah terisi, dan aku dengan teh manis dingin yang hampir tak bersisa. Ucapmu memecah sunyi yang membuatku tak nyaman sedari tadi. Kini aku tahu dari mana asal perasaan itu.

??Apa yang terjadi? Kamu ingin ke mana? Kita bisa ke sana bersama-sama,? kataku dengan sungguh-sungguh. Kamu terdiam, kemudian menyeruput minuman di depanmu, membasahi kerongkongan yang tidak kering. Hanya mempermanis getir yang ikut tertelan.

?Aku tahu, aku sungguh tahu rasa rindumu pada pantai adalah lebih dari kerinduan akan sebuah dimensi ruang. Pantai bagimu adalah kesatuan sebuah rasa. Saat birunya laut meneduhkan badai yang bergejolak jauh di sana. Saat nyanyian ombak mampu menjadi irama penawar luka. Saat sepoi angin membelai lembut goresan yang tersembunyi. Saat teriknya matahari menyadarkanmu bahwa ada gulita yang meminta untuk diterangi, ada dingin yang rindu akan kehangatan.

?Anehnya, saat semua itu memadu, bukan segaris senyum yang tampak. Yang ada adalah titik-titik air yang berebut untuk tumpah dari celah mata itu, dan kamu merasa butuh laut yang luas untuk menampung alirannya. Demi itulah kamu merindukan pantai.

??Aku kangen pantai. Pantai yang biru,? ucapmu lagi. Kamu ingin menuju tempat yang tak bisa kita dapatkan di kota ini. Sejauh apa kamu akan pergi?

?Aku menggenggam tanganmu. ?Kamu tidak perlu mencari pantai. Aku akan menjadi muara atas segala aliran rasa yang bergejolak dalam hatimu,?

?Kamu tertawa. ?Bagaimana kamu bisa menjadi muara? Sedangkan kamu adalah mata air dari segala gemericik yang ada di sana.?

Seketika dingin menyergap. Ada rasa sakit yang menyelinap. Kulepaskan genggamanku. Kamu kembali meneguk milkshake itu, mencoba melenyapkan pahit yang tak bisa begitu saja hilang dari matamu. Sunyi kembali membungkus, dan kali ini lebih erat.

?