Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 19 April 2018   14:09 WIB
Ayah Rumah Tangga Paruh Waktu

Ayah rumah tangga mungkin adalah istilah yang masih agak aneh didengar telinga kita. Kita biasa dengan istilah ibu rumah tangga, namun tidak dengan ayah rumah tangga. Belum lagi ada tambahan ayah rumah tangga paruh waktu. Lalu apakah itu ayah rumah tangga paruh waktu?

Sebagai seorang ayah, kita memiliki kewajiban mencari nafkah untuk anak dan istri kita. Andai kata kita seorang pegawai kantoran, maka kita bekerja dari pagi hingga sore hari. Rata-rata seorang yang bekerja sebagai pegawai akan berangkat kerja mulai dari pukul tujuh pagi (atau bahkan lebih pagi lagi) dan baru akan kembali ke rumah setelah pukul lima sore (atau bahkan lebih malam lagi). Jika ditotal, maka seorang ayah akan bekerja di luar rumah selama sepuluh jam. Dari 24 jam yang kita miliki selama satu
hari, sepuluh jam sudah kita gunakan untuk bekerja, bahkan ada yang lebih dari sepuluh jam. Maka dapat kita hitung kita mempunyai waktu empat belas jam untuk dihabiskan di rumah. Belum lagi itu terpotong waktu untuk tidur malam. Jika ditotal, kita akan mendapatkan waktu yang sangat singkat untuk keluarga kita dalam seharinya. Tapi alhamdulillahnya kita memiliki dua hari libur pada hari sabtu dan ahad, yang bisa kita manfaatkan untuk membangun kehangatan dan keharmonisan keluarga.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membangun kehangatan dan keharmonisan bersama keluarga? Keluarga pada umumnya akan menghabiskan waktu senggang untuk jalan-jalan bersama ke tempat wisata, belanja di mall, menonton bersama di bioskop. Hal yang seperti itu perlu, namun tidak setiap libur kita bisa melakukannya, terlebih jika hal yang demikian dilakukan maka akan banyak memerlukan biaya. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Mari coba kita tengok bagaimana rumah tangga dari sosok terhebat yang selalu kita jadikan panutan dan teladan, rumah tangga Rasulullah. Apakah yang Rasulullah lakukan saat di rumah di tengah kesibukan beliau sebagai seorang Rasulullah, sebagai seorang pemimpin negara, sebagai seorang pemimpin perang.

Dari Al Aswad, ia bertanya kepada ibunda ‘Aisyah, “Apa yang nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?”
‘Aisyah menjawab, “Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (Hadits diriwayatkan Bukhari)

Di tengah kesibukan beliau berdakwah dan juga memimpin negara, Rasulullah masih sempat untuk sekedar membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah tangga. Ya, Rasulullah sang suri teladan, mencontohkan kepada umatnya untuk menjadi seorang ayah rumah tangga paruh waktu. Kenapa ayah rumah tangga paruh waktu? Karena Rasulullah mempunyai tugas yang sangat penting di luar rumahnya, dan sesekali ketika Rasulullah berada di rumah maka Rasulullah membantu menyelesaikan pekerjaan yang biasa diselesaikan oleh ibu rumah tangga.

Mungkin jika kita sebagai suami ikut menyelesaikan pekerjaan rumah tangga akan disebut dengan sebutan suami-suami takut istri. Padahal kita melakukan hal itu bukan karena kita takut kepada istri kita, namun kita berusaha menjadi orang yang baik terhadap keluarga kita.

Teringat pesan Rasulullah kepada para sahabat yang mulia,

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku.” (Hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Dan Rasulullah mencontohkan perilaku yang baik kepada keluarga adalah salah satunya dengan menjadi ayah rumah tangga paruh waktu. Apakah para sahabat mengejek Rasulullah sebagai suami-suami takut istri? Pada akhirnya justru para sahabat berlomba-lomba untuk meneladani apa yang Rasulullah lakukan di rumah tangganya. Lalu apakah yang menghalangi kita untuk menjadi ayah rumah tangga paruh waktu?

Pekerjaan rumah tangga bukanlah pekerjaan yang ringan. Kita tidak akan tahu beratnya pekerjaan rumah tangga hingga kita melakukannya. Mulai dari menyiapkan sarapan, seragam untuk kita dan juga anak kita, membersihkan rumah, merapikan perabotan rumah, mencuci pakaian kotor, menyetrika cucian yang sudah kering, menyiapkan makanan untuk makan siang atau malam, mencuci peralatan dapur, belum lagi jika kita memiliki anak balita. Dan bagaimana jika hal itu adalah hal rutin yang dilakukan istri kita tanpa bantuan asisten rumah tangga? Apakah kira-kira kita sanggup melakukannya?

Ketika kita pulang dari bekerja dan kondisi rumah masih berantakan, maka kita akan mudah menyalahkan istri jika tidak tahu betapa beratnya pekerjaan istri kita di rumah. Cobalah sesekali di tengah capeknya kita sebagai seorang ayah yang habis bekerja, bantulah istri kita untuk sekedar mencuci piring kotor atau merapikan perabotan rumah yang berantakan. Maka kita akan mengetahui betapa beratnya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang jarang sekali kita sentuh. Sehingga hal ini akan membuat kita lebih pengertian kepada istri kita yang menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sendirian selama kita tinggal bekerja mencari nafkah.

Nafkah itu tidak hanya berupa materi, tapi juga bisa berupa nafkah batin. Sehabis pulang kantor atau pada saat hari libur kita ikut membantu istri kita menyelesaikan pekerjaan rumah tangga maka hal itu sudah cukup membuat hati istri kita menjadi bahagia. Jika hati diselimuti kebahagiaan maka cinta akan menguat dan memunculkan romantisme keluarga. Dan balasan ucapan terima kasih yang dipenuhi rasa cinta dari istri kita akan menjadi semangat tersendiri bagi kita yang akan meningkatkan semangat kita dalam mencari nafkah untuk keluarga kita. Terlebih jika kita juga meniatkan membantu istri menyelesaikan pekerjaan rumah tangga ini untuk meneladani Rasulullah, maka insyaallah akan ada pahala dibalik semua yang kita lakukan.

Ketika pekerjaan rumah tangga hanya dilakukan oleh istri kita saja, maka akan butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Dan istri kita pun sudah kehabisan tenaganya untuk menyelesaikan semuanya. Akibatnya waktu kita berduaan bersama istri berkurang, dan istri kita sudah terlalu letih untuk bercengkrama bersama kita. Namun ketika kita bersedia untuk membantu istri, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai dan istri kita masih mempunyai banyak cadangan tenaga. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk bercengkrama bersama, saling bertukar cerita atau saling memijat pasangan kita atau mungkin hal-hal bermanfaat lainnya yang dapat menambah harmonis dan cinta di dalam keluarga kita. Bisa jadi kusutnya wajah istri kita adalah gara-gara dia terlalu letih dengan pekerjaannya dan kita terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri, akhirnya banyak cerita yang tertahan untuk diceritakan istri kepada kita.

Pandai-pandailah membagi waktu kita untuk pekerjaan dan untuk keluarga. Jangan sampai kesibukan kita akan pekerjaan kita membuat kita lalai dengan keluarga kita. Mari kita teladani manusia terhebat yang pernah Allah ciptakan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah kita terlampau sibuk melebihi sibuknya Rasulullah yang harus memimpin negara, memimpin perang, mendakwahi umat islam dan berbagai macam kesibukan sebagai seorang Rasulullah?

Karya : Indrasmara Ilham perdana