Menjemput Jodoh, Sibuk Memperbaiki Diri Bukan Sibuk Mencari Yang Baik

Indrasmara Ilham perdana
Karya Indrasmara Ilham perdana Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Menjemput Jodoh, Sibuk Memperbaiki Diri Bukan Sibuk Mencari Yang Baik

Jika jodoh tak kunjung datang, melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya pribadi dalam menjemput jodoh yang saya idam-idamkan. insyaAllah jika diizinkan saya akan berbagi satu per satu apa yang saya siapkan untuk menjemput jodoh idaman, dan semoga bisa membantu teman-teman yang merindukan menikah namun jodoh tak kunjung datang.

Tulisan pertama saya akan membahas, “SIBUK MEMPERBAIKI DIRI, BUKAN SIBUK MENCARI YANG BAIK”

Perlu kita tanamkan dalam hati kita bahwa sebelum kita dilahirkan ALLAH sudah menentukan seberapa banyak rizqi kita, kapan kita mati, kapan kita menikah dan bahkan dengan siapa kita akan menikah. Jadi jodoh kita sudah ALLAH tentukan sebelum kita terlahir di dunia. Jadi buat yang masih belum menemukan jodohnya, selalu berkhusnudzon bahwa ALLAH sudah menyiapkan jodoh untuk kita, hanya perlu bersabar hingga waktu yang telah ALLAH tentukan itu tiba.

Sebelum lebih lanjut saya bercerita, ada sepenggal firman ALLAH yang saya rasa sudah banyak teman-teman yang mengetahuinya, surah An Nur ayat 26.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),……….”

Firman ALLAH inilah yang menjadi fokus saya ketika hendak mencari jodoh. Dulu saya menginginkan jodoh seorang wanita yang agamanya baik, selalu melaksanakan perintah ALLAH didalam setiap sendi kehidupannya, yang menjaga penampilannya, pokoknya shalihah gitu aja hehehee nah setelah udah menentukan kriteria seperti apa jodoh saya, hal selanjutnya yang saya ikhtiarkan bukanlah membuat “list wanita shalihah” yang akan dijadikan sasaran buat ta’aruf, apakah fulanah ataukah si dia ataupun yang lainnya . Karena saya yakin bahwa jodoh saya adalah “dia”. “dia” yang saat itu menjadi cerminan diri saya. Tapi saya mencoba memposisikan diri menjadi cerminan kriteria wanita shalihah yang ingin saya nikahi, yaitu dengan berusaha untuk mensolehkan diri. Karena saya yakin jodoh saya sudah pastilah “dia”, dan jodoh saya nantinya adalah cerminan diri saya. Jadi saya meyakini jika saya bukanlah orang yang sholeh maka saya akan tetap dipertemukan dengan “dia” wanita yang tidak sholehah, dan jika saya berusaha mensolehkan diri maka saya akan tetap dipertemukan dengan “dia” wanita yang juga sedang berusaha untuk menshalehkan dirinya. Jadi intinya adalah memantaskan diri dengan kriteria pasangan yang kita inginkan. Karena kebanyakan tidak ada laki-laki soleh datang untuk berta’aruf dengan wanita yang masih gemar mengumbar auratnya kemana-mana, dan juga tidak mungkin seorang wanita yang sholehah akan menerima tawaran ta’aruf dari laki-laki yang masih gemar meninggalkan perintahNya. Jadi sibukkan diri kita untuk memperbaiki diri, mensolehkan/mensholehahkan diri kita, agar calon teman hidup kitapun juga berproses untuk meperbaiki dirinya. Karena yang menggerakkan hati manusia itu adalah ALLAH yang jiwa kita dalam genggamanNya, jadi mudah bagi ALLAH untuk membalikkan hati kita ke arah ketaatan dan membalikkan hati calon teman hidup kita ke arah ketaatan.

Dan alhamdulillah saat ini saya dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sedang bersama-sama selalu berusaha untuk selalu melaksanakan segala perintahNya dalam setiap sendi kehidupan. 

Dan ternyata apa yang saya yakini sebelum menikah terjawab semua setelah saya menemukan jodoh saya. Jodoh kita adalah cerminan diri kita. Setelah pernikahan saya sedikit mengulik tentang masa lalu istri saya. Dan ternyata saat kami jauh sebelum menikah, kami sama-sama masih banyak tidak melaksanakan perintah ALLAH. Misalnya, sebelum menikah istri saya masih suka pakai celana jeans meskipun memakai kerudung, dan saya pun begitu dulu masih gemar keluar rumah menggunakan celana pendek yang jelas kalo buat gerak-gerak bisa menampilkan sebagian aurat laki-laki. Namun ketika saya mengetahui akan aurat laki-laki dan berusaha untuk selalu menutupnya, ALLAH pun menggerakkan hati istri saya untuk memperbaiki penampilannya sesuai dengan syariat, mulailah dia latihan menggunakan rok dan kerudung yang lebar. Dan saat saya berusaha untuk memperbaiki diri saya dengan banyak mengikuti majelis ilmu, ALLAH pun juga menggerakkan hati istri saya untuk sering-sering menghadiri majelis ilmu. Maka bernarlah firman ALLAH pada surah An Nur ayat 26 tadi. 

Jadi jika teman-teman menginginkan suami/istri yang soleh/sholehah maka tanyakan pada diri kita masing-masing, sudah pantaskah kita memiliki suami/istri yang soleh/sholehah?

Indrasmara ilham perdana

Tanjung, 9 agustus 2016

  • view 1.7 K