Sepenggal Cerita dari Grup WA (WhatsApp)

Fauzan Nur Ilahi
Karya Fauzan Nur Ilahi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2017
Sepenggal Cerita dari Grup WA (WhatsApp)

Malam ini, bulan tak begitu gagah memperlihatkan kilauannya. Banyak gumpalan awan-awan brengsek yang menghalangi sesuatu yang menjadi “jenggernya”. Walaupun sebenarnya sinar itu hanya bias dari sinar matahari, tetap saja ia menjadi kebanggaan. Ia akan dilupakan oleh manusia jika tidak memilikinya. Andai saja awan-awan pengganggu itu segera mencair menjadi titik-titik hujan, tentu  jumawalah bulan. Ahh, sayang siklus hujan tak bisa ia atur.

Malas aku memikirkan nasib bulan yang bernasib malang malam ini. Biarlah ia sengsara karena sinar yang menjadi jenggernya itu tak nampak. Kuraih telepon genggam temanku yang sedari tadi tergeletak disampingku, ditinggal oleh pemiliknya. Mungkin bosan melihat pemberitahuan yang meraung-raung minta dayanya dipulihkan. Kutekan menu, kulihat berbagai aplikasi hasil berbagai pemikiran orang-orang modern. WhatsApp menarik perhatian. Ku“klik” saja. Berbagai pesan memenuhi layar tampilannya. Iseng, kulihat riwayat pesan dari ujung atas sampai pesan yang menjadi juru kunci. Mataku berheti bergerak, terfokus pada pesan salah satu grup WA – singkatan dari WhatsApp. Pesan dari grup yang mempunyai sekitar 50 anggota ini tidak ada yang menarik, kutaruh HP kembali.

Tidak sampai satu menit, bunyi “KRINGGG!!” terdengar. Pertanda ada pesan baru masuk. Ragu sebenarnya aku membacanya, cuma daripada aku kembali memikirkan nasib bulan, kuambil HP kembali. Ternyata ada salah satu anggota dari grup tadi yang di HP temenku diberi nama @Qoy menyebarkan tulisan tentang daerahku: Madura. Aku sudah lupa susunan kalimat per-kalimatnya, redaksi per-paragrafnya. Namun aku masih ingat betul apa judulnya: Dari Madura Untuk Indonesia. Pun dengan apa yang hendak penulisnya utarakan: Madura akan menjadi tuan rumah Piala Presiden 2017. Madura akan kedatangan tamu-tamu tanpa diundang namun diharapkan, bukti bahwa aspek olahraga di daerah ini sudah mulai dilirik.  Dengan tanda Achsanul Qosasi – ketua umum Madura United – sebagai penulisnya.

Tulisannya memang menarik, memaksa mata untuk terus bergerak membaca. Ada sekitar duabelas paragraph. Kubaca dari paragraph yang pertama, lanjut yang kedua, lanjut yang ketiga, lanjut yang.. “KRINGGG!!”. Fokusku buyar. Bunyi itu sedikit memberi efek kaget. Tulisan itu bergeser sedikit ke atas, pertanda ada pesan baru lagi. Tidak aku gubris. Tetap aku lanjut membaca sampai paragraph terakhir. Sungguh menarik. Mata sudah tidak terfokus pada layar terpa. Khayalku mengawang-ngawang membayangkan Madura akan dijajaki oleh manusia-manusia baru, para pendatang. Entah dari belahan pulau sebelah mana, entah dengan maksud apa.

Kufokuskan mataku ke HP kembali. Kulihat pesan yang menggangu perhatianku ketika membaca tadi. Ternyata hanya komentar dari anggota yang akunnya bernama @Hafiluddin’S. Kubaca saja dengan malas. “Apakah para pemuda sudah siap dengan hal ini?” begitu bunyi komentarnya. Ternyata menarik. Untuk sekejap, pikirku kembali mengawang. Lalu kulihat kembali layar HP. “Apanya yang tidak siap? Tafsirannya saja yang terlalu wah wah wah. Yakin siap!” Bunyi komentar setelahnya dari anggota lain yang akunnya dalam HP temanku diberi nama @Kak Halil. Lalu banyak komentar bermunculan dari bawah. Respon para anggota cukup gandrung terhadap tulisan ini. Grup menjadi ladang diskusi empuk. Berbagai argumen terlontar tanpa rambu. Komentator pertama membalas. “Perlu kita sadari bahwa datangnya para manusia baru ini akan juga membawa kebudayaan-kebudayaan anyar ke dalam daerah kita”. Aku melihat adanya kekhawatiran akan terkikisnya norma-norma islami di Madura dalam balasannya tadi. Lalu akun yang diberi nama @Sulaiman menanggapi, “Kehadiran budaya lain akan memperkaya kebudayaan kita. Jalinan kebudayaan mereka dan kita akan terjadi. Kita boleh khawatir tapi tak mungkin menghindar” . AF-IC geger dengan adegan saling balas-membalas argumen. “Tidak menjadi masalah mengadopsi budaya orang lain asalkan budaya sendiri tak ditinggalkan, tapi saya perhatikan pemuda kita lebih cenderung mengitimasi budaya lain dan melupakan budaya sendiri” balas @Hafiluddin’S. @Sulaiman, “Apa yang kita anggap budaya sendiri sebenarnya tidak selalu murni “milik kita”. Kebudayaan selalu lahir sebagai interaksi dengan kebudayaan lain. Misalnya, tidak ada kebudayaan yang asli yang asli kebudayaan Madura karena yang disebut kebudayaan Madura merupakan interaksi dari berbagai kebudayaan nenek moyang kita yang kita tak pernah tahu darimana mereka sebenarnya berasa: mungkin Arab, mungkin Jawa, mungkin dari tradisi berbagai agama (Islam, Hindu, Buddha), mungkin tradisi yang lain” balasnya.  Sementara aku memilih menjadi pembaca yang setia.

Dari beberapa komentar yang aku aku tulis, seperti kita lihat, terdapat dua kubu dalam menanggapi tuliisan ini: pertama, adalah sudut yang menolak adanya pendatang baru dikarenakan ketidaksiapan para masyarakat Madura dan mereka menilai hal ini berpotensi mengikis budaya-budaya lokal karena pengaruh budaya luar. Kedua, adalah sudut yang mendukung dengan hadirnya para pendatang ke Madura. Beberapa alasannya adalah karena perkawinan antara dua atau lebih kebudayaan tidak selamanya bersifat negatif, tetapi juga positif.  Dan juga dengan adanya pendatang, justru akan membuat Madura semakin kaya dengan kebudayaan. Entah sudah berapa bunyi “KRINGGG!!” yang aku dengar. Ternyata diskusi menjadi sedikit alot, tapi seru dan cukup “hangat”.  Entah kalian di sudut mana.

Pesan terus saja bergeser ke atas. Respon, tanggapan dan argumen-argumen terus bermunculan yang tak lain adalah penguatan dari argumen sebelumnya atau untuk memplintir argumen-argumen “lawan” yang sebelumnya. Aku teringat pada apa kata Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu karyanya yang berjudul Anak Semua Bangsa (roman tetralogi Pulau Buru), dia menulis:

 “Mengejek ini (meniru kebudayaan) adalah tidak belajar dari sejarah perkembangan. Meniru apa saja yang baik dan bermanfaat  justru tanda-tanda kemajuan, bukan suatu nista seperti diejekkan oleh beberapa pendapat kolonial. Semua pribadi dan bangsa memulai dengan meniru sebelum dapat berdiri sendiri….Kan meniru hanya satu babak dalam kehidupan kanak-kanak? Tetapi pada suatu kali kanak-kanak ini akan dewasa juga?”

Ejekan itu pada masanya diajukan pada bangsa Jepang oleh sebagian kolonial sebagai bentuk penolakan terhadap bangsa Asia, bangsa yang bukan bangsa Eropa. Pun terhadap segala kebudayaannya. Dengan sikap ekslusif ini yang pada suatu kali, meminjam istilah Pram, bangsa yang pada awalnya berguru ke Eropa namun hanya untuk mengambil atau kalau dalam kutipan diatas “meniru” ilmu pengetahuannya saja, bangsa Jepang, dapat mengalahkan bangsa Eropa hanya dengan masa yang tak lama. Lalu sekarang akankah kita menjadi pribadi-pribadi yang  dilabeli pribadi yang tidak belajar pada sejarah perkembangan oleh Pram? Akankah Madura ketololan karena menganggap meniru kebudayaan adalah suatu nista? Bukankah modern adalah suatu keniscayaan bagi kita untuk menerima? Bukankah menyesuaikan adalah suatu langkah yang adil? kalian menjawab apa, itu hak masing-masing kepala.

Kugeleng-gelengkan kepala, menghempaskan segala macam terkaan yang ada. Entah berapa jam sudah berlalu. Kembali aku melihat layar HP, ada pemberitahuan bahwa pengisian daya sudah selesai, baterai sudah mencapai 100%. Kubuka kabel charger yang seakan menjadi tali pusar antara charger dan HP ini. Aku baru menyadari kalau tumpang-tindih argumen mereda. Bunyi “KRIINGG!!” sudah jarang terdengar. Sementara aku tetap menjadi pembaca yang setia.

 

 

Ciputat                       

07-Februari-2016        

  • view 173