Belajar dari Yo

ikrima gufron
Karya ikrima gufron Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Agustus 2016
Belajar dari Yo

Yo.. yaa, sebut saja Yo, ia adalah seorang anak tetangga di lingkungan rumah mertuaku -di Pondok Indah Mertua lebih tepatnya- . Ia tak pernah absen menggoda putri kecilku setiap kali melintas di hadapannya. Sejak bayiku masih merah yang masih tak paham atas candaannya, lalu beranjak menjadi bayi yang menggemaskan yang selalu tersenyum merespon candaan siapapun yang menggodanya termasuk Yo.. hingga kini beranjak batita, senyum sumringah kala bayi itu berganti jadi rasa takut setiap kali Yo berusaha menggodanya seperti kebanyakan orang yang selalu gemas melihat seorang batita lucu dihadapannya.

Ia sama saja seperti yang lain. Hanya yang membuatnya berbeda adalah kemampuan berjalan dan bicaranya yang tak seperti kebanyakan orang seusianya. Tak ada aktivitas yang ia lakukan, selain duduk manis di ‘singgasana’nya di depan pintu rumahnya sambil memegang peci yang selalu ia gunakan sebagai jurus andalannya untuk menggoda putri  kecilku  –walau kini itu tak lagi ampuh- .

Entah apa yang ada di dalam hatinya, dengan segala kondisi yang ditakdirkan Allah SWT kepadanya. Pun orang tuanya, masih seperti orang tua jaman dahulu yang mengkondisikan ‘anak spesial’ mereka dengan tidak memberikan banyak bekal yang layak untuk masa depannya seperti bersekolah atau terapi Sensori Integrasi atau apalah,,, yang mungkin memang mereka tak paham dan kala itu belum marak orang tua yang memahami kebutuhan khusus anaknya seperti sekarang.

Hari itu, ketika adzan isya berkumandang, sekembaliku dari tempatku bekerja, aku melintasi mesjid depan gang rumah mertuaku. Berpapasanlah aku dengan Yo. Ini bukan kali pertama. Tapi entah kenapa hari ini hal itu, begitu menamparku. .. ah.. membuatku berucap dalam hati, mungkin Yo lebih beruntung dari aku.

Lima waktu yang ku lalui tak satupun ku habiskan di mesjid dengan tepat waktu, untuk tepat waktunya saja, mungkin hanya di waktu subuh itupun karena keharusan bangun lebih pagi agar dapat naik kereta commuter line lebih nyaman. Coba saja jika hari libur tiba, hmm.. ketika matahari hampir muncul barulah beranjak berwudhu. Belum lagi aku baru saja tertinggal waktu maghribku yang entah jamak takhirku nanti akankah diterima.

Kadangkala..

Mensyukuri atas apa yang sudah Allah SWT beri saja aku tak mampu. Bahkan masih menuntut banyak atas apa yang belum aku peroleh. Astaghfirullaah..

Itulah mengapa aku berpikir Yo lebih beruntung.

Ia terlihat sulit melangkahkan kakinya, namun segala keterbatasannya, tak membuatnya sulit untuk melangkahkan kakinya menuju mesjid.

Tak harus menjadi Yo..

Tak harus bernasib seperti Yo..

Seharusnya aku.. Berusahalah perbaiki diri dan berikhtiar karena dengan apa yang telah Allah SWT beri untukku saat ini dan hingga kini, aku mampu berbuat lebih banyak dan lebih baik dari apa yang telah Yo perbuat.

  • view 135