Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 21 September 2017   19:09 WIB
Apakah Wanita Mempunyai Masa Kadaluarsa?

Kondangan melulu, kapan dikondangin?

Untuk bulan-bulan kawin seperti ini, pasti kata-kata tersebut sangat laris manis akrab di telinga kita. Dan untuk wanita seumuran saya dan di Jawa Pula, umur 21 tahun seperti saya ini sudah pantas untuk menikah dan juga lekas punya momongan. Begitu pula ibunda saya yang sudah mencerca saya dengan pertanyaan, “Mana nih pacarmu? Kok gak dikenalin ke ibu”, yaelah bu. Pacar saja belum ada, pikir saya dalam hati

Bagi menurut saya pribadi, mempercepat pernikahan ini bukan merupakan prioritas saya saat ini? So what is my priority now? Sepertinya sudah pernah saya jelaskan. Jadi gak usah diulang lagi yaa, heheheh

Berbicara mengenai usia pernikahan, untuk di Pulau Jawa sendiri usia 20 tahun merupakan usia yang lumrah seorang wanita untuk menikah (jika mereka bekerja ataupun tidak melanjutkan studi), namun untuk wanita yang kuliah, masa lajang mereka lebih longgar yaitu sampai mereka lulus kuliah, setelah itu akan ada masa-masa panik yaitu sekitar umur 25 tahun ke atas (ketika seorang wanita Jawa belum menikah). Bahkan ada beberapa literasi yang telah saya baca bahwa pada periode 1950-1970 an di Jawa, jika ada seorang gadis yang belum menikah pada usia 17 tahun, ia akan dicap sebagai perawan tua dan akan membuat malu orangtuanya. Untuk mengindari malu, orangtua pun berusaha mencarikan jodoh untuk anaknya. Pada saat itu, pernikahan adalah urusan orang tua, bukan pilihan pribadi

Saat ini pun, Perempuan di Indonesia khususnya di Jawa masih “terpagari” dengan berbagai hal dalam kaitannya dengan pernikahan. Pagar yang dimaksud adalah produk berupa nilai-nilai dan keyakinan masyarakat tentang perempuan dan pernikahan misalnya istilah perawan tua, usia ideal menikah dan lainnya . Ketika seorang wanita jawa belum menikah saat dia berumur 25 tahun atau lebih, maka wanita tersebut seperti dianggap kadaluwarsa untuk menikah. Karena secara biologis wanita dianggap terbatasi waktu dalam hal kemampuan reproduksinya. Artinya jika makin dewasa usianya, makin mendekati waktu “kadaluwarsa” sehingga memperkecil kesempatan  untuk mendapat jodoh. Itulah stigma yang berkembang di masyarakat saat ini

Ketika saya di Thailand sebulan yang lalu, saya bertemu dengan salah satu dosen dari sana, namanya Miss Tookla. dia terbilang cukup cantik, baby face, pintar pula. Dia pun sudah PhD. Tau  kan? PhD atau kepanjangan dari Doctor of Philosophy merupakan gelar akademik tertinggi pada banyak bidang keilmuan. Gelar PhD yang diterapkan di berbagai negara setara dengan gelar doktor di Indonesia. dan apa status Miss Tookla saat ini ? 32 tahun dan masih single, Tapi  jikalau saya membayangkan dia tinggal di Indonesia, segala prestasinya segala penemuannya di bidang keilmuan tersebut, seakan tidak dianggap, karena statusnya yang masih jomblo di usia yang melewati tiga dekade tersebut.

Menyedihkan ya? Bukan Miss Tookla yang menyedihkan, tapi masyarakat yang masih mempunyai steorip negatif itu hlo. Seakan-akan wanita 32 tahun dan belum menikah itu dosa besar. Namun saya sedikit lega, beruntunglah dia tinggal di Thailand karena kalau dia tinggal di Jawa, dia pasti akan menjadi omongan di tetangga hahahaha.

 Berbeda pula dengan di Aceh yang mempunyai sedikit adat yang berbeda. Untuk diAceh wanita tidak dibatasi usia yang seketat itu, namun semakin tinggi tingkat pendidikan wanita tersebut, maka semakin tinggi pula harga maharnya , sekarang saja untuk mencapai 15 mayam (atau sekitar 20 juta rupiah) – Info dari teman sekamar pada saat saya di Thailand

Berbeda lagi dengan masyarakat Tionghoa.  Salah bentuk bakti wanita Tionghoa kepada orang tua mereka adaah dengan menikah, dan para wanita china sangat dianjurkan untuk menikah sesegera mungkin. Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar kata Sheng Nu.  Sheng Nu adalah istilah untuk perawan tua. Yang merupakan wanita lajang yang berusia diatas 25 tahun. Masyarakat disana pun akan memandang sebelah mata dan akan memberi tekanan secara sosial bagi kalian yang sudah cukup umur namun belum menikah jua.sampai-sampai di sana pun ada pasar Jodoh Shanghai dimana para orang tua akan memajang foto dan profil anak perempuan mereka mulai dari profil pekerjaannya, berapa penghasilannya, apakah dia punya mobil atau tidak dll. Tidak menikah adalah bentuk kedurhakaan pada orang tua

Yaaah akhir kata

Saya pribadi sih setuju-setuju aja dengan nikah muda. Malah bukan cuma itu, nikah di usia matang, atau nikah di usia terlalu matang, atau nikah saat mata udah rabun pun saya setuju-setuju aja. Nggak mau menikah pun oke juga. Jalan hidup kita tidak ditulis berdasar hasil copas hidup orang lain, toh?

Dan karena ilmu kita yang pas-pas-an ditambah beban hidup yang makin menyudutkan, maka kita butuh teman berbagi, teman yang menjadi alas(an) untuk tetap berjuang, teman yang selalu mengingatkan bahwa, meminjam lirik lagunya Wali band, hidup ini indah bila mencari berkah

Sekian. Wassalamualaikum warahmatullah Wabarakatuh

Karya : Ikhyari Fatati Noryana