Merayakan Kegendutan

Ikhyari Fatati Noryana
Karya Ikhyari Fatati Noryana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Juni 2017
Merayakan Kegendutan

Berbicara tentang kecantikan memang membingungkan. Di satu sisi, kita sering mendengar berbagai macam nasihat yang menenangkan kita: bahwa kita tak perlu mengkhawatirkan penampilan, karena pada dasarnya, kata mereka, “Semua perempuan itu cantik.”

Sebenarnya menurut saya pribadi, ucapan ini ada benarnya. Siapa yang tidak kagum, misalnya, melihat perempuan yang punya cita-cita  dan berusaha gigih untuk mewujudkannya, Berbakti kepada orang tua ataupun perilakunya yang peduli terhadap sesama. Jika kecantikan memang ada banyak jenisnya, tentu perempuan-perempuan seperti mereka bisa kita panggil cantik. Cantik hati. Cantik tekad dan tentu Cantik otaknya.

Namun kita pun tentu harus mengakui di sisi lainnya, Jenis kecantikan perempuan yang selama ini paling banyak ditampakkan di media, yang dijual sebagian besar pengiklan di sana, dan yang paling sering kita puji di kehidupan sehari-hari adalah jenis kecantikan fisik. Jarang sekali ada kaitannya dengan kecerdasan otak, kegigihan mengejar cita-cita, atau kebaikan hati kita. Dan ketika kita melihat lebih dekat lagi. Kecantikan fisik yang selalu ditonjol-tonjolkan ini tak pernah jauh-jauh dari kulit yang terang, wajah kebarat-baratan, Badan langsing bak model metropolitan, dan rambut yang hitam panjang. Padahal, tak semua dari kita memiliki atribut-atribut ini.

Sadar atau tidak, selama ini kita hidup dalam standar ganda. Rasanya seperti sedang membaca sebuah majalah remaja yang menurunkan artikel berisi ajakan untuk menerima diri kita apa adanya, kemudian melihat iklan produk pelangsing badan di halaman sebelahnya

Berbicara mengenai berat badan, mempunyai berat badan yang berlebih pastinya merupakan hal yang gak baik di dalam lingkungan kita. Semacam sudah ada pasal pasti kalau “Kurus itu cantik dan gendut itu jelek”, Menjadi gendut adalah suatu hal yang diejek dan dibully , sudah pasti. Sudah menjadi prasangka lingkungan kalau orang gendut dikira rakus karena doyan makan, sudah sering memang. Sebagai orang yang terbilang masuk kategori gendut Menunjukkan kalau berat badan berlebih itu bukanlah sebuah rintangan, namun jalan terbaik menuju kesuksesan. Percaya diri dan selalu berpikiran positif pun menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka yang sudah terbiasa dibully.

Cause Big is beautiful. Big is the power of successfull

            Berbicara mengenai berat badan, untuk ukuran tinggi saya yang kira-kira 158 cm, dua bulan lalu, saya mempunyai berat badan hampir enam puluh kilo dan kayaknya sekarang naik lagi,  dan banyak teman-teman saya yang komplein mengenai hal itu, “ Wah, kalau cari baju bakalan susah nih”, “Nanti gak ada cowok yang deketin kamu loh”. “Jangan makan banyak-banyak nanti tambah gembrot kamu” dan segudang statement-statement yang lebih annoying heuheuheu. Kalau saya pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan sih,

“Cz When People are starting to go on about my weight. But, i’m not going to change my size because they don’t like the way i look”

Oke kita tinggalkan berat badan saya yang tak penting untuk dibicarakan, bukannya saya minder atau bagaimana ya, saya banyak teman-teman yang menurut saya proporsional (menurut saya) yang lebih suka komplain “ aduh pipi gue tembem banget”, “aduh lengan gue besar banget”, apalagi tuh ohya “aduh betis gue kaya tales bogor”. That’s why yang bikin saya sedikit jengkel, bahwa kita harus mensyukuri apa yang ada.

Menyoal wanita yang curvy seperti itu, saya mempunyai beberapa idola berbadan curvy  . Yang pertama adalah kemalasari. Intan kemalasari merupakan seorang selebgram sekaligus jurnalis dari salah satu media online terkenal di Indonesia. Dengan follower yang banyak, dia berbagi tips-tips OOTD (Outfit Out Of The Day), Belajar bahasa korea sampai tips-tips kecantikan disana, kamu bisa follow instagramnya di @kemalasari. And she is the one of all inspiring women in my life heuheueu

Dalam salah satu berita dari media, mbak intan ini pernah yang mengaku sering mendapat bullyan menyatakan bahwa : Bagaimana mungkin hinaan boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal? Jika wanita berkulit putih, bertubuh tinggi, berbadan langsing layak mendapat pujian cantik, lantas apakah secara otomatis wanita yang tidak seperti itu pantas menerima komentar-komentar negatif?

“Aku ingin wanita Plus Size bisa lebih berprestasi dan menunjukkan bakat mereka, bukan cuma jadi observer yang malah bikin diri mereka jadi minder", tegas Intan saat ditanya tentang aspirasinya untuk wanita-wanita bertubuh besar. Oh I Love You Mbak:*

Wanita lain yang menjadi sosok inspirasi adalah Lizzie Parra. makeup junkies pasti udah tahu siapa Lizzie Parra atau lebih akrab dipanggil Kak Icil. Kalau masih ada yang belum tahu atau merasa pernah dengar namanya tapi lupa di mana, Lizzie Parra adalah Professional Makeup Artist sekaligus beauty blogger dan vlogger dari Indonesia yang story nya tak pernah sekalipun saya lewatkan, ya gimana ya.. selalu menarik untuk dilihat sih, mbak lizzie parra ini juga orang yang keliatannya sangat humble dan lucu sekali. Kutipan dari dia yang sangat terkenang sampai saat ini yaitu “Embrace your skin color, embrace your body curve always grateful. Yang penting sehat!”

Dalam public speaking, saya banyak belajar dari sosok  Ucita Pohan. Mengawali karier dari aktif di sosial media, membuat Ucita yang biasa disapa Uchiet menjadi sorotan beberapa netizen. Gaya berpakaiannya yang khas dan diimbangi dengan sense di dunia fashion, juga ampuh membuat Uchiet makin digemari. ini sudah membuktikan kalau Uchiet sama sekali tidak minder dengan berat badan. Justru dia PD banget! Salut, Mb Uchiet.

Jangan hidup untuk mengejar kesempurnaan, hiduplah demi menemukan kebahagiaan! Tidak ada orang yang sempurna, tapi semua orang bisa hidup bahagia.

Aku Gemuk. Aku Cantik. Aku Bahagia. Aku Berharga

 

 

 

 

 

  • view 98