Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 26 Januari 2018   16:41 WIB
Puncak Impian

"Memilihmu sebagai teman hidup aku yakin tak salah. Bersamamu menciptakan kenangan yang semoga akan kembali bisa diputar di dalam surga." Suara riuh mungkin akan menggema jika waktu itu aku ucapkan di depan banyak orang saat kita sama-sama mengulas pertanggungjawaban atas amanah 1 tahun yang telah berjalan.

"Sebentar. Kamu jangan salah paham. Kalian jangan berfikir macam-macam. Dengarkan aku dulu. Sedikit saja kali ini dengarkan dan pahami baik-baik. Prasangka kalian tak beralasankan hanya karena sebuah ucapan. Padahal kepalamu dan kepalaku saja berbeda. Kamu masih sering membuat asumsi sendiri, jadi tolong sedikit kamu menelisik ucapanku lagi." Sambil tersenyum mungkin hal itulah yang akan aku coba katakan kembali jika hal itu benar-benar aku ucapkan kala aku mengingat sepotong memori di suatu dataran tinggi yang kala itu kita tapaki.

"Puncak yang lain menanti. Bendera ini menantikan puncak yang lainnya", ucapmu beberapa hari sebelum kita memang menapaki tempat yang tidak cukup tinggi tapi menguras tenaga itu. "Bismillah, ini adalah hutangku", begitulah kamu melanjutkan perkataanmu yang sebelumnya.

Kita telah menapaki jalan yang cukup melelahkan bukan ? Kita telah berjuang menaiki tanah yang sebenarnya hanya sedikit meninggi. Lalu kita menuruninya. Kita telah melewati banyak rintangan bukan ? Di tengah rerumputan dan pohon yang ada dikelilingi tebing yang tinggi. Kita telah saling memarahi satu sama lain bukan ? Saling menyalahkan, bahkan menyakiti.

Tapi sebentar, kita juga telah membuat tempat itu menggema dengan suara dari kita yang tertawa, membuat senyuman lalu kita merasakan apa itu bahagia. Andai saat itu langsung turun hujan, entah hal apa yang akan aku panjatkan agar terijabah selain tetap bersama kalian.

"Sudah ya, ini janjiku yang kemarin", ucapmu. Ucap salah satu rombongan.
"gak mau. Bukan puncak ini yang aku mau." Sambil menahan nafas karena lelah aku memncoba menyeringai membantah ucapan.

Kita semua ber 26 sudah berjalan. Entah puncak mana yang akan kita tapaki, yang akan kita gapai selain puncak yang paling tinggi di akhir kehidupan ini. Kita semua masih mementingkan ego kita masing-masing meski satu tahun berjalan. Iya itu bukan waktu yang lama memang. Hanya memang begitulah.

"Muncak ke Andong yok"
"Bukannya itu mainan anak-anak itu yang muter pake lagu itu ya ?", perempuan manis berjilbab besar yang paling kecil di antara kita menyela
"Andong itu bukannya kalo bayi di andong itu ya ?", ucapmu yang masih sama selalu garing tak bisa melucu.
"Apaan sih", balasku.
Hujan mulai turun dan kita ada di motor kita masing-masing. Aku meninggalkan tempat dengan rasa yang yang enggan untuk pergi. Ini mungkin menjadi tempat terakhir kita bersama membuat memori. Kita pergi meninggalkan tanpa bekas selain tangkapan dari kamera-kamera handphone yang mulai canggih.

Kita pergi. Kita telah menggapai puncak yang kita impikan. Aku tidak bilang satu-satunya. Tapi hanya salah satunya. Adakah goresan memori dan nama yang telah kita sebut dalam doa ? Adakah kita untuk mengucap kata, merayu Allahagar kita dipertemukan untuk menggapai puncak yang paling tinggi bersama. Merayu Tuhan, merayu Allah agar hati kita masih terpautkan sampai nanti.

Tentang mimpi yang kita coba akan ambil. Yang masih kita perjuangkan.
Mimpi untuk menggapai JannahNya. Jannah yang paling indah.
Bersama.
Puncak mana yang masih bisa kita tapaki ?
Maukah kita bersama ke sana ? Menggaungkan, mengetuk pintu Ilahi.
Ya bersamamu.... bersama kalian.

Salam dari balik hujan, dari sepotong memori yang akan mulai kusimpan.
IKE WIJAYANTI

Karya : Ike Wijayanti