Enime

Ika Rosita
Karya Ika Rosita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
Enime

Jam pelajaran selesai, seluruh siswa bergembira, setelah berdoa, berhamburlah para siswa, ada yang langsung ke parkiran motor, ada yang masih menunggu sampai sepi baru pulang, ada juga yang berlari kearah asrama pondok, bahkan ada yang berjahil-jahilan dengan teman-temannya, berjalan santai, ngobrol ngalor ngidul.
 
Berpisahlah keempat sahabat ini, melambailkan tangan dan “Daaa, sampai ketemu besok” kata mereka serempak.
 
Bergegas Enime menuju gerbang sekolah, takut kalau-kalau Mas Marwannya lama menunggu, tepat di gerbang pintu, tak ada ayah mau pun masnya. Clingak-clinguk, mengintai, mencari-cari, hasilnya nihil. Segera Enime mengambil ponsel, hendak menelpon mas Mar atau ayahnya.
 
Aduh! Hpnya lowbet lagi ni. Pekik Enime dalam hati.
 
Enime mulai gelisah, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 kurang, namun belum ada tanda-tanda penjemputan. Ingin naik angkot, tapi ia tak memiliki uang sisa, pikirnya mau di jemput, dihabiskanlah uang sakunya.
 
Enime mulai mengerutu, sebal dan raut wajahnya murung. Ia berharap ada tumpangan yang membawanya pulang. Setengah jam menunggu, tak ada tumpangan, semua penuh, teman-temannya yang pada lewat, berboncengan semua. Mereka hanya mengatakan “ Duluan ya!” kala melewati Enime yang sedang duduk-duduk menunggu.
 
Bersedihlah, hati Enime. Dengan perasaan kecewa, pulanglah Enime dengan berjalan kaki. Berjalan dengan menunduk, rasa kesal, malu, marah menjadi satu. Malu, kalau-kalau ada orang yang mengatakan “Kasihan ya, anak itu jalan”, kesal karena ia tak dapat tumpangan, Marah, ingin sekali sesampainya di rumah memarahi semua orang yang ada.
 
Huh! Nyebelin banget sih, awas ya mas Mar, pake nggak jemput segala. Coba nanti lihat alasannya apa kok ndak jemput, pasti bilang gini, “Maaf Enime, mas lupa, maaf Enime mas baru pulang kerja, capek,” dan bla-bla- bla! Begitulah Enime menggerutu, sambil mempraktekkan, seakaan-akan ia sedang berdialog dengan kakaknya.
 
2km sudah Enime berjalan, namun tak ada sama sekali, seseorang yang menawarkan tumpangan untuknya. Seakan mereka tak melihat ada Enime sedang berjalan kecapek an. Bus seluas, bus Fajar, Kopada merah, saling berseliweran, bus-bus itu penuh semua, ada satu bus berhenti menawarkan jasanya. Tapi Enime hanya menggeleng. Kakinya terasa pegal-pegal, perutnya bernyanyi keroncong sejak pelajaran terakhir tadi. Enime memasang wajah muram, semuram langit yang menghitam. Benar saja, langit gelap gulita, mendung seperti tak ingin bergeser, barang sebentar saja. Ia sudah keberatan beban ingin menumpahkan tumpukan garam yang diserapnya ketanah sanggau ledo. Enime berharap semoga tak turun hujan sampai ia dirumah.
 
“Ya Allah, semoga nggak hujan.” Katanya dalam hati.
Tetapi Allah berkehendak lain, Allah membiarkan alam berjalan sesuai keinginan-Nya, bukan keinginan Enime.
 
Byuuuurrrrr! Geluduk-gluduk, jedeerrrr! Weeerssss! Hujan turun dengan tiba-tiba, diiringi gelegarrr Guntur, petir dan kilat, mereka saling bersahutan, bersorak seperti menertawakan Enime yang cemberut.
 
Ah! Hujaaann! Enime berlari, menepi dan menaiki anak tangga menuju ke sebuah bengkel kecil, tapi bengkel itu tutup. Enime berdiri di emperan bengkel, mendekap tasnya agar tak kena hujan. Kakinya bergetar-getar, perutnya semakin gencar terasa lapar. Kruek-kruek-kruk! Terdengar oleh Enime suara perutnya menyanyi riang. Ia tersenyum, mengelus perut dan berbisik “Sabar ya perut”.
 
Hampir 15 menit, Enime menunggu, tapi hujan tak juga reda. Tanpa pikir panjang, Enime melanjutkan perjalanan pulang, langkah demi langkah, diberengi dengan rintikan hujan membuatnya tak merasakan capek. Bukan tak merasakan, tapi memang tak dirasakan. Seperti dingin yang mulai menjalar, basah kuyup, sebentar-sebentar mengusap wajah. Gigi mulai bergetar tek tek tek tak tertahankan, jika ada kendaraan lewat, Enime segera menepi. Takut kalau-kalau airnya nyiprat mengenei bajunya. Tapi buat apa? lha wong dia saja sudah basah kuyup, biarpun kecipratan tetap saja bajunya akan basah kuyup.
*****

  • view 167