Catatan Hati Seorang Tkw

Ika Rosita
Karya Ika Rosita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 September 2016
Catatan Hati Seorang Tkw

Catatan Hati Seorang TKW

Bismillah ….

Dengan cinta dan kasih-Nya, atas rahmat dan karunia-Nya. Rasa syukur yang tak terhingga, tak luput dari menyebut asma-Nya. Ya Rabbku, kumengeluh padaMu melalui catatan hati kecilku ini. Hamparan rizki dan luasnya kasih sayang-Mu, sekali lagi, tak mengurangi rasa syukur atas nikmat yang telah Engkau limpahkan, hingga detik ini.

Miris! Begitu kata yang spontan keluar dari bibirku, kelu dan kaku, rasanya tak banyak kata yang dapat aku ucapkan setelah mendengar penuturan salah seorang ibu rumah tangga beranak dua. Kisahnya yang mengguncang jiwa membuat seluruh rasa di dada membuncah tak keruan.

Yah, curhatan seorang ibu rumah tangga yang dapat aku jadikan pelajaran berharga, serta jeli dalam memilih pasangan hidup, karena menikah hanya sekali dalam seumur hidup.

Ibu Parlina, seorang ibu rumah tangga yang pernah mengalami masa sulit dalam kehidupannya, beliau tidak hanya menjadi ibu, namun sekaligus ayah bagi anak-anaknya, dalam artian pengganti ayah dalam menafkahi keluarganya.

Berawal dari sebuah percakapan kecil antara ibu Parlina dan suaminya.

“Bu, orang-orang di kampung kita sudah banyak mengalami perubahan dalam hidupnya, itu karena mereka menjadi Tkw di luar negeri, bukankah ibu tahu sendiri, kalau gaji di luar negeri sangat besar, sementara kita?! Untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi kita masih harus menyekolahkan anak-anak.”

Ibu Parlina yang kala itu sedang menggoreng tempe, sesaat termangu. Ia tahu maksud dari ucapan suaminya, meski dadanya terasa sesak sebab ucapan sang suami, ibu Parlina berusaha tenang menanggapinya.

“Lantas? Apa bapak ingin, kalau ibu pergi menjadi Tkw?”

“Maksud bapak bukan begitu bu, bapak hanya membandingkan antara mereka yang keluar negeri dan kita yang hanya serabutan di kampung saja, bu.”

Ibu Parlina tersenyum, beliau dengan sabar menanggapi penuturan suaminya yang tak masuk akal tersebut.

“Bapak, hanya kurang bersyukur dengan keadaan kita. Ibu sudah menerima berapapun pendapatan bapak, dan selama ini ibu tak pernah menuntut bapak harus begini dan begitu,”

Tapi ketika itu, pak Sujadi tak menanggapi apapun tentang pendapat istrinya.

Dan sejak percakapan itu pula, pak Sujadi mulai berubah sikap serta perilakunya. Tak jarang pak Sujadi memarahi istri dan anaknya tanpa sebab.

Pernah suatu ketika, Risna (Putri sulung pak Sujadi)  membuatkan semangkok indomie untuk sang ayah, tapi ketika itu Risna lupa untuk menyediakan sendok dalam mangkok indomie tersebut,

“Ris, mana sendoknya?”

“Iya, pak, sebentar Risna ambilkan sendoknya di dapur,” ucap Risna seraya melangkah ke dapur, namun baru saja Risna beranjak, pak Sujadi merasa tidak sabar, serta merta ia melempar mangkok berisi indomie ke arah sang anak.

Praaankk!!! Hancur mangkuk dan indomie yang menumpahi tubuh Risna.

Mendengar aduan sang anak, bu Parlina tak tahan lagi, beliau nangis batin. Rasanya hilang harapan yang beliau bangun sejak dulu. Pak Sujadi yang awalnya lembut, penuh kasih sayang terhadap keluarga, tiba-tiba saja berubah menjadi seorang yang sangat menakutkan dan mengerikan.

Semakin hari keluarga ini semakin tak harmonis, semua beban hidup rumah tangga dillimpahkan kepada ibu Parlina yang hanya menjajakan gorengan di kampung. Pak sujadi menjadi tak peduli dengan keadaan anak dan istrinya.

Bila petang tiba, pak Sujadi bersiap-siap untuk pergi dari rumah entah kemana, dan saat pagi buta, pak Sujadi kembali pulang dan menggedor-gedor pintu rumah dengan bau alcohol di mulutnya.

*****

Pagi itu, suasana masih sepi, penjajak sayuran, ibu-ibu yang sedang sibuk memilah sayur mayur dan beberapa pedagang merapikan dagangannya.

Kali ini pak Sujadi terlihat melamun di teras rumah, secangkir kopi dan sebatang rokok bebarengan mengepulkan asap dengan aroma yang berbeda. Pak Sujadi menatap kosong jalanan yang di hadapannya, ia terlihat tak peduli dengan apa dan siapapun yang melintasinya,

“Selamat pagi, pak Sujadi …” teriakan seseorang dari seberang jalan membuyarkan lamunan lelaki berambut gondrong tersebut.

Pak Anton! Dengan wajah sumringah pak Sujadi menyambut lelaki yang tengah berdiri di depannya dengan jarak sekitar sepuluh meter. Lengkap dengan tas koper dan topi bulat ala-ala orang barat. Pak Anton adalah salah satu orang terkenal di kampung itu, Ia  terkenal sebagai penyalur tenaga kerja wanita (TKW). Sudah banyak para ibu rumah tangga yang mengadukan nasib ke negeri orang melalui jasa pak Anton. Tak tanggung-tanggung pak Antoni memberi iming-iming uang dan penghasilan besar terhadap targetnya.

Pak Sujadi merupakan salah satu korban dari iming-iming agar mau membujuk istrinya untuk pergi menjadi seorang TKW.

“Eh, pak Anton, mari pak silahkan duduk,” begitu kata pak Sujadi sesaat tersadar kalau yang di depannya adalah si Penyalur TKW. Setelah panjang lebar mereka berbicara akhirnya percakapan selesai pada titik finish. Pak Anton megeluarkan segepok lembaran uang kertas berwarna merah, bersama beberapa lembar surat kontrak kerja untuk ditandatangani oleh ibu Parlina dan pak Sujadi, selaku pemberi izin atas sang istri untuk bekerja di luar negeri menjadi TKW.

Awalnya bu Parlina menolak untuk menandatangani surat kontrak tersebut, tapi karena atas desakan dan paksaan dari sang suami, bu Parlina pasrah dan mangiyakan untuk menjadi seorang TKW di negeri orang, yang sama sekali tidak beliau kenali.

*****

Di ujung malam terakhir di penampungan para TKI, bu Parlina termenenung dan mengadu pada sang Maha Pemberi Rejeki. Beliau membayangkan nasib anak dan suaminya selama tiga tahun di tinggal merantau. Apalagi di kampung halaman bu Parlina, ada sebuah sejarah tentang seorang istri yang dipaksa bekerja menjadi TKW dan hingga akhirnya perceraian terjadi pada rumah tangga mereka.

Mengapa mereka bisa bercerai? Bukankah kehidupan materi mereka terpenuhi? Anak-anak bisa sekolah sampai kuliah, rumah dibangun megah bertingkat, apa yang kurang dari itu, sehingga mereka bercerai? Tanyaku setengah jengah mendengar kisah ibu Parlina.

Tidak! Itu semua tidak menjamin bahagianya sebuah rumah tangga, melainkan kehancuran yang tiada henti-hentinya.

“Sejujurnya, tiada berkah rejeki yang diambil secara tidak halal, sebanyak apapun harta yang dikumpulkan, semua itu hanya akan menjadi boomerang bagi diri.”

“Maksud ibu? Saya belum megerti?!” Sekilas tanyaku mencari tau, maksud dari kalimat ibu Parlina. Sesaat ibu beranak dua tersebut tertegun sejenak. Memandangi selasar rumah yang kian tergerus jaman.

“Kebanyakan hasil yang kami dapatkan tidak murni dari gaji kami yang seharusnya, gaji 3jt hampir setiap bulan suami meminta kiriman dengan berbagai alasan, katanya biaya sekolah, uang bayar listrik, uang belanja harian dan lain sebagainya. Bahkan kami sendiri tidak tahu pasti untuk apa uang yang kami kirimkan setiap bulannya, sementara itu tak ada pula tabungan yang tersimpan barang sedikit.” Terang ibu Parlina mengusap air mata yang tak terasa sudah membuat aliran anak sungai dari pelupuk mata yang mulai menua itu.

Hah! Bagaimana mungkin? Apa para suami yang ditinggalkan tidak merasa kasihan, dengan istrinya yang rela siang malam tanpa lelah membanting tulang demi mereka yang ditinggalkan. Suami macam apa mereka!

“Bahkan ada diantara kami yang rela melakukan hal bodoh demi mendapat uang tambahan. Begitu banyak kesedihan dan kesulitan yang saya alami selama berada di negeri orang, tak jarang jika saya melakukan sedikit kesalahan saja, segala macam cacian dan hinaan tak hentinya menggoreskan luka di segumpal darah ini, meski tak secara fisik, hal itu cukup untuk menghancurkan mental saya. Hendak pulang ke kampung halaman, tapi apalah daya diri ini terhalang tembok kontrak kerja selama 3 tahun, mau tak mau saya harus menjalani pahitnya hidup seorang diri,”

Aku menggeleng kaku, tak menyangka hidup beliau sepahit itu, memang benar kata orang tua terdahulu “Seenak-enaknya di negeri orang, lebih enak dan damai di negeri sendiri”

Lantas untuk apa adanya seorang suami di dalam rumah tangga? Bukankah, adanya seorang suami sebagai imam, pemimpin dalam rumah tangganya, mengayomi, melindungi dan bahkan bertanggung jawab penuh atas diri setiap anggota dalam rumah tangganya.

“Pahitnya kehidupan tidak hanya selama saya menjadi TKW, tiga tahun merantau cukup bagi saya pribadi untuk mengetahui perubahan watak asli dari suami saya (Pak Sujadi). Awalnya saya tidak percaya dengan kabar yang berhembus dari negeri tercinta ini, setiap kali ibu, kakak, dan saudara menelpon via skype atau seluler, mereka selalu menceritakan tentang keburukan yang dilakukan oleh suami, sering mabuk-mabukan, berjudi, anak-anak tak terurus dan entah apalagi yang suami saya lakukan, hati saya terasa mati jika mengingat-ingat hal itu, pernah ibu saya bercerita, entah disengaja atau tidak, tapi kala itu saya mendengar bahwa suami saya membawa seorang wanita ke dalam rumah kami.”

Kembali ibu Parlina mengusap air matanya, beliau sesenggukan. Segera aku merangkul tubuh yang mulai renta itu, aku ikut merasakan ke dalam kisah ibu Parlina. Sungguh tiada gunanya suami yang dulu sangat beliau cintai. Dua sejoli yang dulu saling berkasih sayang, saling bertegur sapa dan hangat dalam berbicara, kini berubah menjadi sebuah tembok pemisah yang durjana, meluluh lantakan setiap bangunan yang pernah mereka bangun dengan segenap jiwa raga.

Untuk tersenyum di hadapan dudanya saja, ibu Parlina merasa tak sanggup. Beliau kini mati rasa akan cinta dan sayang yang pernah suaminya berikan. Memori, kisah indah bahkan terindah sekalipun ibu Parlina berkata, “Aku enggan mengingat masa itu, semua hilang, hilang tak pernah kembali dalam ingatanku barang sedikitpun.”

Untuk sekarang dan nanti yang paling berharga dan tetap berharga sampai mati adalah kedua putri Ibu Parlina yang beliau sendiri membiayai mereka, dengan tangan lemahnya namun kokoh perjuangannya.

Alhamdulillah, Risna kini telah menjadi seorang ibu rumah tangga bersama lelaki yang sayang padanya. Harapan sang ibu, semua anak-anaknya tidak akan pernah mengalami kisah seperti apa yang ibunya alami. Sementara si bungsu sedang menjalani proses skripsinya di kota pelajar, Jogjakarta.

*****

 

 

 

  • view 471