Be Understand!

Iid Aida
Karya Iid Aida Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
Be Understand!

Ida's Note:

Cerita ini pernah dipublikasikan di akun wattpad?orangeida?dengan penulis yang sama.

Cr. picture by inspirasiida

?

****

?

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kegagalan merupakan lampu hijau menuju kesuksesan. Rima baru saja tersandung gagal. Statusnya kini memang guru PPL. Namun, begitu melihat nilai ulangan harian murid-muridnya yang tidak lebih dari enam puluh lima membuat ia mendesah kecewa. Bukan, ia bukan kecewa pada murid-muridnya, ia kecewa pada diri sendiri yang telah gagal dalam mengajar.

Astaga! Ia yang selama ini tak terlalu peduli dengan masalah nilai mendadak tercekik oleh sebuah kenyataan. Beginikah yang dirasakan seorang guru begitu melihat hasil belajar siswanya yang jauh dari ekspektasi?

Rima menimpakan punggungnya pada sandaran kursi. Pelipisnya ia pijat perlahan untuk mengurangi sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Kedua mata beriris cokelat kehitaman itu terpejam, pikirannya merenungkan banyak kemungkinan. Apa cara mengajarnya salah? Atau siswanya sama sekali tidak menikmati pengajaran yang ia lakukan?

"Kamu kenapa, Ma? Sakit?"

Rima menoleh dan mendapati Rama--rekan PPLnya--yang baru usai mengajar duduk di kursi yang bersebelahan dengannya.

"Nggak pa-pa. Cuma pusing sedikit," jawab Rima sembari mengulas senyum tipis. "Gimana hasil ulangan kelasmu, Ram?"

"Alhamdulillah bagus-bagus. Meski banyak yang mepet sama KKM dan beberapa harus remidi. Tapi aku cukup puas."

Mendengar jawaban itu, sontak membuat Rima semakin kecewa. Jelas saja kelas yang diajar oleh Rama nilainya bagus-bagus, secara lelaki itu mengajarnya juga enak, muridnya pasti menikmati pembelajaran.

Sedangkan ia, dengan melihat hasil belajar siswanya saja sudah mengindikasikan bahwa ia tak bisa mengajar. Tidak layak disebut sebagai seorang guru. Lalu, pertanggungjawaban macam apa yang akan ia berikan pada guru pamongnya?

"Ma, kok ngelamun? Ada apa?" tanya Rama yang sejak tadi menyadari gurat kesedihan di wajah Rima. Ia mengenal gadis itu lebih dari siapapun. Persahabatan yang terjalin sejak bangku SMA hingga berkuliah di prodi dan kampus yang sama cukup untuk mengerti dan memahami watak gadis itu.

Rima masih diam. Ia ragu harus bercerita atau tidak pada Rama. Namun, mengingat kondisi yang ia alami, rasanya ia butuh seseorang untuk memberi wejangan bagaimana selanjutnya.

"Bisa bicara sebentar?" pintanya yang dijawab anggukan oleh Rama. "Tapi nggak di sini."

"Di taman? Mau?"

"Oke."

-
-
-

"Kenapa?"

Rima menyerahkan setumpuk kertas yang merupakan jawaban ulangan harian siswanya yang sudah ia beri nilai.

Rama menerima kertas itu. Lalu melihat satu per satu nilai yang tertulis di sana. Kemudian menatap sahabatnya yang menunggu komentar darinya. "Ini nilai ulangan kelas kamu?"

Rima mengangguk. "Iya," jawabnya. "Dan seperti yang udah kamu lihat nggak ada yang lebih dari enam puluh lima. Padahal KKM untuk pelajaran Matematika di sekolah ini delapan puluh."

"Jadi karena ini ...," Rama mengangkat kertas di tangannya, "kamu merasa sedih?"

"Bukan karena itu, Ram. Aku sedih karena diriku sendiri."

"Apa? Karena kamu?"

"Iya, aku sedih karena nggak bisa ngajar siswaku dengan baik. Nggak bisa bikin siswaku nyaman belajar bareng sama aku. Yang akhirnya nilai siswaku jauh di bawah KKM. Aku ... aku ...."

"Ma, tenang!"

"Aku harus gimana, Ram? Apa kata Bu Endah nanti pas tahu nilai-nilai itu?"

Rama menghela napas kasar. Ia menatap mata Rima dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Dengerin aku, Ma. Sejauh yang aku tahu, cara mengajarmu udah bagus. Kamu selalu memikirkan bagaimana konsep-konsep Matematika bisa diterima oleh siswamu. Dan, aku ingat betul waktu ikut kelas kamu, siswamu begitu menikmati pembelajaran yang kamu lakukan. Jadi, sekarang stop mikirin penyebab nilai-nilai yang jauh di bawah KKM adalah salah kamu. Bukan itu yang harusnya kamu lakukan."

Lelaki itu berhenti sejenak untuk mengambil napas. Lalu melanjutkan, "Coba kamu perhatikan mereka," Rama menunjuk sekumpulan siswa yang tertawa lepas, "sudah berapa banyak masalah yang mereka hadapi dalam belajar Matematika?"

Rima mengernyit. "Maksud kamu?"

"Begini, Ma. Siswa kita sebenarnya sudah dihadapkan pada masalah Matematika sejak kecil. Ketika mereka mengalami kesulitan, apa kamu pernah berpikir bagaimana mereka menyelesaikan kesulitan yang mereka hadapi? Mereka tetap menjalani hidup dengan bahagia. Tanpa beban, pikiran, dan keadaan. Meski kesulitan-kesulitan lain menghampiri mereka, tidak hanya dalam Matematika, tapi juga pelajaran lain. Tidakkah kamu berpikir bahwa mereka yang dicap sebagai siswa yang tak pintar, sebenarnya begitu tangguh? Mereka bisa melewati kesulitan-kesulitan tanpa perlu tahu apa yang seharusnya mereka lakukan.

"Kita tak bisa memungkiri bahwa sebagian besar siswa di Indonesia lebih memiliki pengetahuan Matematika prosedural, bukan konseptual. Mereka hanya tahu saja, tidak mencoba menerapkannya dalam aplikasi-aplikasi kehidupan nyata. Dan itu menjadi tugas pendidik dan calon pendidik Matematika seperti kita untuk membiasakan siswa menerapkan konsep-konsep yang mereka terima.

"Untuk sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah menyelami dunia mereka, mencoba memahaminya, kemudian mendampingi mereka untuk belajar menjadi problem solver melalui Matematika. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dan itu tantangan buat kita.

"Jadi, Ma, berhenti nyalahin diri sendiri. Kamu harus tetap berpikir positif supaya ke depannya bisa lebih baik lagi. Jangan gampang down hanya karena nilai siswamu jauh dari ekspetasi. Justru, gunakan itu menjadi titik balik untuk pembelajaran yang lebih baik."

Rima menyimak dengan seksama penjelasan dari sahabatnya. Ia sama sekali tidak pernah memiliki pikiran seperti apa yang dikatakan Rama. Ia harus mengakui bahwa ia kurang memahami kepribadian siswanya. Bukankah sudah menjadi tugas seorang pendidik untuk paham bagaimana keadaan siswanya?

"Makasih, ya, Ram, udah membuka pikiran aku. Kamu benar, menjadikan mereka sebagai problem solver adalah tantangan buat kita. Dan sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan."

"Jadi, berhenti membuat diri kamu sebagai penyebab semua ini. Dekati mereka, lalu cari tahu kenapa mereka bisa memperoleh nilai-nilai itu."

"Iya, Ram. Makasih banyak."

Nada bermelodi lagu doraemon itu terdengar ke segala penjuru sekolah. Menandakan jam istirahat berakhir dan dimulainya lagi kegiatan belajar mengajar.

Rama dan Rima meninggalkan taman, bersiap untuk aktivitas selanjutnya, dengan harapan dan tekad baru: menjadikan siswa mereka menjadi problem solver melalui Matematika.

?

END

  • view 81