Starlight

Iid Aida
Karya Iid Aida Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
Starlight

Ida's note:

Cerita ini pernah dipublikasikan di akun wattpad?orangeida?dengan penulis yang sama.

Cr. picture by inspirasiida

?

****

?

Jika ibu adalah sinar mentari dan ayah adalah sinar rembulan, maka saudara adalah sinar bintang yang tetap bercahaya di tengah kegelapan, meski aku tak pernah melihatnya.

Ayah dan ibu berpisah ketika aku masih remaja belasan tahun. Ibu memenangkan hak asuh atasku dan saudara perempuan kembarku, Rima. Namun, saat menginjak bangku kuliah, Rima memutuskan untuk tinggal bersama ayah. Hal itu membuatku berpikir bahwa Rima sama sekali tak menyayangi aku dan ibu. Meski ibu sama sekali tak keberatan dengan keputusan yang dia ambil, namun tetap saja membuatku kesal setiap kali aku memikirkannya.

Hingga, di sore yang basah kami tidak sengaja bertemu. Aku yang hendak pulang ke rumah dari sekolah tempatku mengajar tak sengaja menemukan sosoknya di halte bus, duduk sembari memainkan ponsel. Awalnya aku enggan mendekat, namun naluri seorang saudara menggiring tubuhku padanya. Memusnahkan rasa jengkel yang selama ini menyelimuti diri.

Ia terkejut begitu aku menempatkan diri di sampingnya tanpa suara. Namun detik berikutnya kedua sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum yang juga membuat kedua sudut bibirku terangkat.

"Kak Rama, apa kabar?"

Ya Tuhan ... sudah berapa lama aku tidak mendengar suara Rima? Suaranya sama sekali tidak berubah meski dia sudah memasuki usia kerja. Lembut, hangat, dan manja.

"Aku baik, Rim. Kamu sendiri bagaimana?"

"Aku juga baik. Kakak habis pulang ngajar, ya? Gimana rasanya jadi guru?"

"Iya, habis ngasih pelajaran tambahan untuk kelas dua belas yang mau unas. Jadi guru ternyata nggak segampang yang terlihat, meski begitu tetap menyenangkan kok."

Detik selanjutnya diisi dengan obrolan khas seorang kakak dan adik. Berbicara tentang kehidupan masing-masing pasca dia meninggalkan aku dan ibu. Dia sekarang sudah mandiri, bekerja di sebuah perusahaan penerbitan sebagai editor. Dari dia aku juga tahu mengenai kondisi kesehatan ayah yang semakin menurun. Katanya beberapa hari lalu baru pulang dari rumah sakit.

Pembicaraan sore ini mengikis pemikiran burukku tentang Rima. Juga mengobati kerinduan yang bertahun-tahun kupendam.

Bunyi klakson yang nyaring menandakan bahwa bus akan segera tiba. Rasanya seperti oksigen dicuri dengan paksa dari paru-paruku. Sesak begitu Rima berdiri.

"Kak Rama, ingatlah selalu bahwa aku dan ayah selalu menyayangimu, juga ibu. Sampaikan salamku buat ibu, aku merindukannya."

"Lain waktu aku akan datang, menengokmu dan juga ayah. Sampaikan salam rinduku juga untuk beliau."

Kami berpelukan sebelum akhirnya berpisah, lagi.

?

END

  • view 92