Memurnikan Fenomena Novel Baswedan dan Kentut Tak Berbunyi

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Politik
dipublikasikan 20 April 2017
Memurnikan Fenomena Novel Baswedan dan Kentut Tak Berbunyi

Publik baru-baru ini dikagetkan dengan adanya penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Kabarnya, penyiraman itu terjadi selepas salat subuh di salah satu kediaman Novel di wilayah Kelapa Gading, oleh seseorang yang tidak dikenal.

Banyak  pihak menilai bahwa kasus ini adalah akibat dari kiprah Novel dalam menangani kasus-kasus besar terkait dengan korupsi. Terakhir, adalah dibongkarnya kasus korupsi e-KTP yang lagi-lagi ditangani oleh Novel. Demikian peran Novel membongkar kasus korupsi menyebabkan pihak-pihak tertentu merasa terganggu.

Dalam kasus e-KTP tersebut terbilang besar, hingga menyeret nama-nama politisi kelas kakap seperti Anas Urbaningrum, Muhammad Nazaruddin dan Setya Novanto. Pada nama yang terakhir disebutkan adalah sosok yang paling dicurigai sebagai dalang di balik kejadian penyiraman air keras kepada Novel. Sebab secara logika kausalitas, tak ada asap bila tak ada api, dan tak ada api bila anda tidak bermain api. Setya Novanto pun hingga kini masih nikmat menghirup udara bebas bahkan setelah kasus “Papa Minta Saham”. Berbeda dengan dua karibnya yang kini sedang mendekam di dalam penjara.

Opini ini menggiring stigma publik menyudutkan Setya Novanto. Apalagi, kepercayaan publik padanya memang sedang turun-turunnya, sebagai akibat pemberitaan media sebelumnya yang mengaitkan namanya dengan kasus Papa Minta Saham. Tapi, benarkah Setya Novanto ada kaitannya dengan kasus penyiraman air keras pada Novel Baswedan? Pun sampai sekarang belum ada kejelasan dari pihak kepolisian terkait pelaku penyiraman tersebut.

Untuk mengambil kesimpulan bahwa Setya Novanto adalah dalang di balik kasus penyiraman air keras, adalah langkah yang terburu-buru. Banyak hal yang masih perlu dipertimbangkan secara matang. Seorang filosof ternama, Martin Heideger pun menyarankan hal itu, agar jangan gegabah mengambil kesimpulan. Salah dalam menentukan premis mayor akan berimbas pada tidak matangnya bangunan konklusi.

Budi Hardiman, seorang penjelas dari karya Martin Heideger mengilustrasikan, bahwa suatu penyakit tidak akan langsung menampakkan dirinya sebagaimana adanya. Penyakit yang memasuki tubuh biasanya diawali dengan demam. Dokter pun dalam menentukan jenis penyakit itu, tidaklah dengan gegabah, melainkan melihat indikasi-indikasi yang sebenarnya masih bersifat spekulatif.

Begitupun dalam dunia fenomena, seorang seyogianya memisahkan antara anggapan umum dengan kemurnian fenomena yang sebenarnya. Tujuannya agar fenomena itu akan nampak sebagaimana adanya tanpa ditafsirkan oleh orang lain. Karena itu, mencermati kasus penyiraman air keras ini, semestinya kita tidak melihat hanya pada tafsiran kausalitas kasus sebelumnya, yaitu keterlibatan Setya Novanto pada korupsi e-KTP. Biarkan fenomena penyiraman air keras terhadap Novel dilihat semurni mungkin. Oleh Heideger, sikap seperti ini disebut reduksi fenomenologis, yaitu sikap dalam ke-seakanan.

Seharusnya sikap seperti ini dimiliki oleh semua pengadil, baik dalam tataran pengadilan, maupun sebagai pribadi sendiri. Kesalahan salah satu Hakim Mahkamah Agung, Artidjo Alkostar, adalah terlalu membenci koruptor sehingga fenomena murni tertutup oleh kebencian. Beliau tidak lagi menerapkan adversary system, atau bersikap sebagai orang ketiga.

Kita sebagai pengadil di luar pengadilan, setelah melihat fenomena semurni mungkin, barulah melihat indikasi yang non-partikular. Memang benar Setya Novanto sebelumnya tersangkut kasus Papa Minta Saham dan saat ini kasus e-KTP. Namun pernahkah terlintas di pikiran kita, bahwa unsur pelaku penyiraman air keras itu, tidak ada kaitannya dengan Novanto, tapi justru sebaliknya, lawan politiknya. Lawan politk ini melihat peluang bahwa presepsi publik pasti menjastifikasi dan menjatuhkan Novanto ketika terjadi penyerangan terhadap unsur KPK, dalam hal ini adalah Novel.  Pernahkah terlintas?

Terakhir, biar seperti anak SMA yang mengikuti Ujian Nasional. Saya berikan pertanyaan ilustrasi: ketika sedang nongkrong bersama kawan, salah seorang kemudian mengeluh karena mencium bau kentut berdendang yang sepertinya menyambar tinja. Anda pun mencium bau kentut itu. Kira-kira, di antara kawan-kawan itu, siapa yang patut anda curigai sebagai pelaku yang tidak bertanggungjawab mengeluarkan bau busuk kentut tak berbunyi?    

  • view 49