Persamaan Santri Dan Pasukan Katak

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Persamaan Santri Dan Pasukan Katak

Rasa-rasanya bukan hal tabu lagi bila menyebut nama pasukan katak. Namanya laksana bunga kembang yang selalu harum. Bukan saja lantaran harumnya membawa kebanggan akan bangsa dan tanah air, tapi juga keharumanannya membuat banyak angkatan militer lainnya yang cemburu lantaran pasukan ini seperti diduduk istimewakan oleh opini-opini yang berkembang.

Dengan melihat realitasnya, memang pasukan katak merupakan pasukan yang terlatih dan didik hingga terbiasa tertekan sampai titik kemanusiaan. Mereka dilengkapi dengan insting-insting pemburu seakan hilang rasa kemanusiaannya. Hasilnya, pasukan ini beberapa kali membawa kebanggan tersendiri dalam negara akan kinerjanya yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Lihat saja dalam kasus pertempuran batas wilayah negara Indonesia. Mereka berhasil menyelundup masuk ke dalam pasukan musuh tanpa terdeteksi yang telah berani masuk di wilayah teritorial negara Indonesia yang berdaulat.

Jadi wajar saja apabila seringkali keharuman merajai angkatannya sebab didikan yang diterima juga berbeda.

Diantara latihan tekanan fisik dan mental yang dialami oleh pasukan katak, ternyata ada oknum yang tak terlihat juga merasakan bagaimana kerasnya perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh paskat tersebut. Mereka adalah santri-santri bebal yang telah dilatih oleh alam bagaimana bertahan hidup ditengah gempuran senior-senior dan ustadz sehingga menyebabkan mereka terlihat lebih gendut dari yang biasanya, hahaha.

Tapi bukan berarti bahwa semua pesantren menerapkan sistem kekerasan dalam mendidik santri-santrinya agar mendengar dan taat terhadap aturan. Hanya ada beberapa saja pesantren yang menerapkan latihan kekerasan militer. Nah, mungkin pesantren yang dulu kutempati berlabuh masuk dalam kategori ini. Dan alhamdulillah, saya dididik oleh alam pesantren ala militer ini.

Jadi, ini adalah cerita tentang bagaimana santri-santri bebal yang berusaha melawan rezim yang berkuasa dalam hal ini kakak-kakak senior dan ustads. Kita mulai dari malam hari.

Masih ada yang belum tahu defenisi malam hari? Baiklah mari saya jelaskan. Jadi maksud dari kata malam hari adalah waktu dimana matahari telah tenggelam sehingga tidak menimbulkan cahaya yang terang lalu menyebabkan kami seusai makan malam mencari  tempat gelap untuk menghisap beberapa batang rokok. Nah kira-kira begitulah defenisi malam hari.

Namun untuk mencapai hisapan rokok itu, bukan perkara yang mudah. Sebab, banyak rintangan dan halangan yang menghalang. Tapi itu bukan menjadi beban pikiran (eh, mirip lagunya kera sakti yah). Ada banyak senjata laras panjang dan sniper yang dipasang ustads dan kaka senior, sehingga kami harus berhati-hati. 

Jadi kalau mau merokok harus mencari tempat yang gelap dan aman. Dimana tempat aman itu? Ya di luar area pondok lah. Kalau mau saya ceritakan, pondok saya itu terletak dipertengahan dan diapit oleh kebun jagung, sawah berudak-undak dan lintasan air sungai berular. Jadi tinggal pilih mau lewat mana. Kalau lewat kebun jagung, rintangannya adalah kawat tiga susun yang beraliran listrik. Sekali sentuh bisa bikin rambut geriting. Kalau mau lewat sawah, maka harus siap kotor sebab becek dan licin. Boleh dan sering terjadi di antara kami, banyak yang terpeleset ke sawah karena saking gelapnya. Nah, kalau mau lewat sungai jangan ditanya lagi, harus basah!

Tapi malam itu kami memlih lewat kebun jagung dengan pertimbangan, bahwa lebih sedikit rintangannya. Usai makan, berangkatlah kami dengan mengenakkan sarung lengkap dengan kopiahnya. Lewat di samping asrama, kami merayap, meraung-raung, eh, makan rumput, eh, jungkir balik hingga akhirnya hilang di rimbunnya belukar.

Masuk area belukar, kira-kira jaranknya sekitar sepertiga kila dari kebun jagung, kami mulai merengsek masuk namun dengan tetap menatap awas. Dengan keperluan lampu seadanya, lebih tepatnya hanya menggunakan perasaan saja, kami susuri jalan yang penuh dengan rumput liar.

“aw”

“kenapa?”

“ada semut hitam”

“itu biasa”

“loh kok biasa?”

“yang digigit kakimu, bukan jantungmu. Masih jauh toh?”

Kami berjalan lagi, lalu akhirnya, sampailah kami di tempat yang dituju. Tempat tersebut sangat strategis. Sebuah pondokan kecil yang terletak di tengah area perkebunan yang ditutupi oleh batang pohon jagung. Tadi sewaktu hendak melalui kawat berlistrik, Deri, maaf kusebut namamu kawan, menemukan rumus fisika: apabila kutub negatif dipertemukan dengan kutub positif, maka akan membawa dampak letusan dan turbulensi. Jadi kawat bagian paling atas dipertemukan dengan kawat di pertengahan dengan instrumen kayu—sebab tidak mengantarkan listrik., Deri berhasil membuat kami terpukau akan keahliannya.

“Dari mana kau belajar?”

“Dari kampung.”

“Kampung? Bukannya dikampungmu, hampir setiap rumah tidak dialiri listrik?”

“Iya betul.”

“lalu?”

“Jadi rumus positif negatif itu dipake buat mencuri burung merpati yang ada di rumah pak lurah. Daripada kesetrum di atas loteng, mending dirusak aja sekalian.”

“Ooo, pencuri toh.”

 Kami duduk seraya membagi rokok. Bercerita sebentar, gosip, seputar info bola, sampai ngambil barang di koperasi. Kami asik bercanda dan ngelantur kesana kemari. Sampai pada waktunya Anggi—maaf kusebut namamu kawan—mendongak ke atas lalu menemukan benda aneh yang disebut kelapa. Kepalang tanggung, Deri sebagai ahli fisika dan pencuri langsung memanjat dan menjatuhkan beberapa buah. Untuk membukanya tidak perlu menggunakan parang atau benda tajam sejenisnya. Cukup dengan membenturkannya di dinding pondokan maka keluarlah airnya setetes demi setetes. Maka cerita kemudian berlanjut.

Ditengah perbicangan, sekilas ada lampu sorot yang mengarah ke kami. Lampu sorot itu terlihat dari arah yang jauh, jadi menurut perhitungan kami, siapapun yang menyorot dengan lampu itu, tidak akan mampu melihat dengan pasti siapa yang berada di pondokan ini. Maka cerita kembali berlanjut.

Barang sebentar, kami kembali terdiam sebab terdengar ada suara langkah kaki yang terseok-seok. Suaranya semakin jelas ketika kami membiarkan kesunyian berlalu. Dan tibalah, masa yang paling ditunggu. Tiba-tiba lampu sorot itu kembali menyorot dengan jarak kira-kira empat meter dari pondokan kami. Apa yang terjadi, duar! Kami bersamaan melompat tak tahu arah. Semua berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Anggi secara tidak sengaja mengikutiku dari arah belakang seraya tertawa bercampur ngos-ngosan. Mau tidak mau aku juga ikut tertawa.

“Siapa yang tertinggal di pondokan?”

“Cori!” maaf kusebut namamu kawan.

“Astaga!”

Memang saat kami telah meminum air kelapa, Cori telah terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya ingin jadi pengusaha katanya. Dia hanya mengingatkan agar membangunkannya ketika kami akan pulang kembali ke pesantren. Tapi bila keadaan seperti ini, mana sempat kami membangunkannya?

Kami berlari, mencaci si tukang kebung, bahwa istrinya tidak akan hamil-hamil. Hap, Anggi berhasil melopati pagar kawat berlistrik, masih takut kalau-kalau listriknya masih aktif. Kemudian disusul oleh saya, dengan gaya lompat spiderman. Tiba di tanah, langsung tancap gas masuk menyusuri belukar dan rerumputan berduri tanpa alas kaki.

“Aw”

“Aw”

“Aw”

“Aw”

Kira-kira begitulah suara erangan kami.

Sampai di asrama, agar tidak tercium keributan oleh ustads dan pihak penjaga asrama, kami masuk lewat jendela belakang dengan kaki dipenuhi duri.

Paginya, penjaga kebun masuk ke pesantren dan melaporkan atas pencurian kelapa yang telah dilakukan oleh santri. Sialnya, Deri tertangkap dan memberi pengakuan siap saja pelaku yang terlibat. Kami semua dipanggil berjejer di tengah lapangan sekolah lalu mulut kami dipasangkan rokok empat batang setiap mulut.

“Hisap!”

Ditengah hisap-menghisap itu, aku mencari Cori.

“Mana Cori?” kataku dengan suara buram.

“Moana akubb tahubb.” Kata Deri.

Usai hukuman itu, kembali ke asrama, Cori tertelungkup tidur di bawah ranjang dengan nyaman dan rileks. Ketika bangun kami bertanya:

“Kamu tidak tertangkap semalam?’

“Tidak.”

“Bagaimana bisa?”

“Waktu kalian pada lari, aku langsung tersadar. Seketika itu aku bersembunyi di bawah tumpukan kayu di samping pondokan. Tidak kelihatan kan? Hehehe”

Nah kira-kira begitulah latihan militer yang sedikitnya telah dialami oleh santri. Jadi, masukan saya buat angkata militer terkhusus pasukan katak, cobalah rekrut manusia-manusia santri bebal itu sebab mereka telah terlatih dengan pendidikan kemiliteran. Hehehe.  

 

  • view 211