Menjadi Orangtua Yang Mengerti Superego

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Budaya
dipublikasikan 14 Juli 2016
Menjadi Orangtua Yang Mengerti Superego

Anak pesantren, begitulah sematan nama bagi mereka yang menimba ilmu di ladang keagamaan. Sebutan lain, adalah anak pondok. Dan masih banyak sebutan lainnya.


Tinggal di lingkungan pesantren bagi mayoritas masyarakat, berimplikasi pada hal yang positif terhadap subyek yang melakoninya. Tak heran, banyak petinggi masyarakat yang menggotong anaknya berlabuh pada lingkup pesantren. Tentu, tren positif ini timbul akibat perilaku subyek yang telah melakoni dunia pesantren memberikan aura positif pada masyarakat di sekitarnya, atau, bila ditilik dari sisi ideanya, masyarakat terpaku pada dogma, bahwa agama adalah pendidikan tertinggi yang mampu membawa kepribadian seseorang lebih cermat.


Meskipun sebenarnya, banyak juga subyek keluaran pesantren yang justru memberi aura sebaliknya, negatif. Tapi rupa-rupanya dogma ajaran agama sebagai pendidikan tertinggi lebih dominan menguasai pola pemikiran masyarakat umum.


Cara pandang seperti ini saya namakan sebagai cara penilaian orang ketiga. Sebab, mereka bukanlah orang yang yang merasakan bagaimana lika-likunya berada dalam ruang pesantren. Dalam sebutan lain, cara pandangan ini tak menyentuh intelektual organik. Memang tak ada yang salah dengan cara pandang seperti ini, bagaimanapun masing-masing memiliki kriteria tersendiri, dan tak bisa dipaksakan. Namun demikian, cara pandang ini tak menyentuh nilai real sebagaimana yang dirasakan oleh sang subyek, yang dalam hal ini adalah santri.


Dalam aspek pendidikan yang diajarkan di pesantren, tak akan jauh dari pendidikan agamis, sebagaimana ajaran agama Islam. Dalam ajaran Islam, hawa nafsu merupakan musuh besar yang harus dikekang. Memperturutkan hawa nafsu sejatinya tidak akan pernah menemui titik puas. Baik itu yang bertendensi pada harta, tahta dan wanita. Bahkan, membiarkan hawa nafsu akan membawa pada kehancuran. Itulah ajaran agama yang membawa kita pada kesederhanaan. Dan, seperti itulah yang diajarkan dalam pesantren.


Kesederhanaan itu kemudian berbuah menjadi sebuah aturan tak tertulis, yang ditaati oleh hampir seluruh santri. Tapi, sebahagian kecil di antara mereka, ada juga yang tidak tunduk pada aturan itu. Inilah yang dinamakan santri bebal.


Pada mereka, diantara sedikit santri yang bebal itu, menjadi pusat perhatian saya dan menjadi alasan mengapa tulisan ini dibuat. Sebabnya: pertama, aturan yang dibuat oleh pesantren (pesantrenku dan mayoritas pesantren lain), mendasarinya dari ajaran agama. Utamanya tentang kesederhanaan untuk tidak memperturutkan hawa nafsu. Kedua, aturan tersebut tidak ditaati oleh santri yang notabenenya tinggal di lingkup internal pesantren sendiri. Bila sudah demikian, bagaimana perilaku mereka di luar lingkup pesantren?


Syukurnya, saya adalah salah satu dari santri yang bebal itu. Dan betul sangat merasakan bagaimana lonjakan kebebalan saya untuk selalu memberontak terhadap aturan yang ada. Pertentangan itu terhitung sejak saya mengenal rokok. Awalnya memang hanya sebatang rokok, tapi kemudian naik kelas ke miras, lem fox, bahkan, mencuri jagung atau kelapa milik masyarakat sekitar pondok. Semua ini perilaku yang bertentangan dengan pendidikan yang diajarkan pesantren.


Tapi itu adalah masa dimana saya masih menginjak dunia SMP (sekolah menengah pertama).


Setelah menamatkan SMP, saya melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA yang juga masih bertaraf agama, dan pesantren. Di sinilah saya mulai merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Kebebalan semasa SMP sedikit demi sedikit hilang. Saya mulai merasa sangat di bawah, dibanding dengan teman sejawat lainnya. Dari sini kemudian timbul persaingan, tentu dalam hal positif. Saya mulai gemar membaca, mengkaji, dan mendalami serangkaian pelajaran. Saya merasa memilik tanggungjawab akan kepercayaan yang diberikan orang tua terhadapku. Hal ini tak pernah kurasakan semasa SMP dulu.


Saya berpendapat, perubahan ini akibat kondisi sosial yang kemudian membentuk kepribadian. Dan, kondisi seperti inilah yang menimbulkan tren positif dalam benak masyarakat.


Berangkat dari sini, di umur saya yang sebenarnya menginjak semester tujuh di kampus, saya teringat teori anti sosial yang datang dari Sigmeund Freud. Teori ini antara lain menjelaskan tiga hal: pertama, id. Maksudnya, id adalah bentukan naluriah atau alamiah yang mana bertendensi pada sikap buruk, rakus, anti sosial, dan beragam keburukan lainnya. Kedua, ego. Maksudnya, ego adalah pemusatan yang lebih pada arah rasional atau masuk akal. Setiap laku, akan ditimbang apakah masuk akal. Ketiga, superego. Ini adalah bentukan sikap akibat kondisi sosial masyarakat di sekitarnya, yang mana berimplikasi pada rasa dan pikiran. Ujungnya akan mempengaruhi watak.


Pada kondisi semasa SMP, masa bebal, itulah masa dimana saya masih dalam tingkatan id. Setelah masuk SMA, saya memasuki babak superego, dimana bentuk kondisi sosial banyak merubah watak saya. Tingkatan superego ini yang kemudian mengantarkan saya pada tingkatan ego, atau berpikir rasional. Tingkatan ego telah berhasil mengalahkan id nya yang pernah kulakukan pada masa SMP dulu.


Maka tidak salah jika saya katakan, subyek yang masih SMP ibarat kambing liar yang baru diikat dua jam yang lalu. Setamat SMP, tentu pengalaman diikat belum membekas dalam benak subyek. Masih sempat melarikan diri ke hutan atau tercebur ke dalam sungai. Artinya pendidikan pesantren sebatas SMP saja belumlah cukup. Masih perlu untuk mencari superego.


Orang tua yang menyekolahkan anaknya hanya sebatas SMP pesantren, lalu setelah itu yakin bahwa anaknya akan memiliki kepribadian yang cermat, adalah sebuah kekurangan cermatan. Haruslah orang tua menyadari, bahwa anaknya belum menemui tingkatan superego.

 

  • view 188

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    remaja labil ada di mana-mana, baik di pesantren mau pun di sekolah umum. Sangar wajar dan sangat perlu pendampingan yang cukup dari orang tua kandung terutama, baru setelah itu lingkungan pendidikan...