Meneropong Tradisi THR

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Budaya
dipublikasikan 05 Juli 2016
Meneropong Tradisi THR

Bulan puasa, bukan sejengkal lagi. Kini kita ibarat berada dalam gerbong kereta api, yang siap untuk berangkat ke stasiun Syawal. Tentu, Ramadhan sudah di penghujung dan akan kita tinggalkan.

Tapi stasiun Syawal tidak semenarik Stasiun Ramadhan. Bukan karena Syawal tidak mempunyai babat alas, melainkan karena salah satu agama, dalam hal ini Islam, sebagai agamaku, begitu memuliakan Ramadhan.

Tidak mengherankan apabila masyarakat begitu antusias menyambut kedatangannya. Dalam banyak tradisi di Indonesia, mempunyai beragam cara besukaria menjemputnya. Ada yg mengadakan sebatas syukuran, dengan para tetangga, ada juga yg pulang ke kampung berkumpul bersama keluarga.

Begitulah kemeriahan beragam adat di Indonesia dalam menyambut bulan (stasiun) Ramadhan. Diantara banyaknya adat dan tradisi yang berlaku, terdapat satu fenomena unik yang saat ini berkembang. Apa itu? Tradisi itu, adalah menunggu Tunjangan Hari Raya, dalam bahasa Spanyol nya, THR.

Tradisi ini berkembang seiring dengan mental masyarakat Indonesia, yang kebanyakan suka menunggu, bukan menjemput. Demikian juga THR, adalah sejenis kegiatan menunggu kejutan yang akan diberikan. Menunggu di sini berkonotasi mengadahkan tangan ke ke atas, spesifiknya, meminta tanpa mengucapkan.

Tradisi THR ini bukan lahir dari tuntutan agama, bukan pula tradisi penduduk Madinah ataupun Mekkah yang akhir ini dikabarkan diliputi bom. Tradisi memang murni lahir dari mental masyarakat kita, yang sukanya mengadah dan meminta.
Demikian tradisi THR banyak beterbangan di media sosial. Sebagian diantara penggunanya bahkan mengumumkan, "Hilal sudah terlihat, tapi THR Belum nampak."

Tidak ada yang salah dalam tradisi ini bila ditinjau dari sisi agama sentris. Namun bila ditilik dari prespektif moral, tradisi ini memiliki keganjilan.

Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika kita semua memiliki mental "peminta" THR. Lantas, siapa yang akan menjadi pemberi THR? Ini yang saya maksud dengan kesenjangan moral atau etika. Maka, tak salah jika kita mengatakan, masyarakat kita, miskin etika. Tidak ada yang salah bukan?

Dari sisi seperti inilah yang mengganggu tidur malam ku. Selama kutimbang-timbang, dengan analisis seadanya, saya mencoba menghubungkannya dengan mental "PNS" yang sedang berkelindan.

Mental PNS dan menunggu THR memiliki keterkaitan yang erat, yaitu sama-sama berada di bawah, diatur, bermental tunduk, sangat mirip dengan ketundukan orang-orang Skandinavia yang gemar dininabobokan oleh mitos Thor, tanpa pernah mempertanyakan kebenarannya.

Inilah kita, masyarakat bermental tunduk.

Jalan keluarnya, mungkin bisa kita rujuk pada kisah orang-orang yang gemar berimajinasi, memberi solusi, mengambil langkah out of the box.

Bagaimana jika analoginya di balik? Anda, sebagai pembaca tulisan tidak bermutu ini, mulai sekarang bertekad tidak menunggu THR lagi, tapi turut memberi THR. Maka beruntunglah Anda bila sudah mencapai maqam demikian, maqam (derajat) orang-orang yang diberi petunjuk untuk menjadi pemberi, bukan diberi. Menjadi orang yang mengatur, bukan diatur.

  • view 270