Duniaku Yang Sempit

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 April 2016
Duniaku Yang Sempit

Menjelang sore. Cafe pinggir kota sudah mulai ramai. Ditingkahi suara keramaian canda dan tawa pengunjungnya. Belum lagi gemeletuk wajan, dan belender di dapur. Bising.

Nampak seorang lelaki tua, berwajah sayu, mengenakkan jas lusuh, mengambil tempat duduk di pekarangan cafe. Sesekali melirikkan matanya ke dalam ruangan cafe yang hanya dilapisi kaca. Lalu perlahan mengeluarkan buku catatanya yang sudah lapuk dimakan zaman. Diciuminya buku itu, barang tiga kali, baru kemudian membukanya secara pelan, takut ada kertas yang sobek mungkin, atau semacam ritual.

Salah satu pelayan datang menghampiri. Menanyakan apa yang hendak dipesan oleh si lelaki tua.

“Kopi susu satu.” Jawabnya singkat dan cepat. Seperti tidak ingin diganggu.

Nun jauh di sana, matahari mulai merangkak turun, memantulkan pendar cahayanya pada serumpun padi yang mulai menguning. Pun matahari sudah menguning, ingin mengakhiri kisah manusia di belahan bumi ini.

Si kakek mengamati redamnya matahari. Sedikit tangannya ditelungkupkan di matanya, silau, tapi masih tetap mengamati. Agak lama, sepertinya menikmati. Kerah bajunya melambai, ditiup angin dari arah lautan sawah di pinggir cafe ini. Baru kemudian menghirup nafas panjang, lalu kembali mengamati buku catatan tuanya, yang mungkin seusia dengannya. Entahlah.

Buku catatan itu dibuka, pada pertengahan buku tepatnya. Diamatinya dalam-dalam setiap kata yang dulu pernah ditulis di buku itu.

Karena penasaran pada pertengkaran pertanyaan di kepalaku, aku mendekat, mengambil kursi yang sejajar dengannya agar bisa melihat lebih dekat si lelaki tua ini. Dan memang aku begini, penasaran adalah jalanku untuk mengetahui.

Lelaki tua mengguratkan penanya pada lembaran buku catatannya. Tangannya bergetar ketika mulai menuliskan kata per kata, menjadi kalimat.

“Ini kopi susunya, Pak.” Sapa pelayan cafe dengan senyumnya.

“Terimakasih.” Katanya, tanpa berbalik, atau sekedar membalas senyum. Dia kembali pada pusaran imajinasinya.

Menjelang akhir kalimatnya, dia berhenti menulis, menyudutkan padangannya ke arah ruangan dalam cafe. Aku juga mengikutinya, memperhatikan setiap pengunjung yang telah mengambil tempat di dalam cafe.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara benturan keras tak jauh dari tempatku. Teriakan histeris, terdengar dari salahsatu pelanggan, seraya menunjuk ke arah jalan raya tepat di depan cafe. Si lelaki tua itu meninggal tertabrak. Aku terdiam.

Ramai para pengunjung mengerumuni tempat tabrakan lelaki tua itu. Ada yang menangis, pingsan, bahkan ada juga yang mendekat tapi menutup mata, enggan melihat darah. Aku terdiam. Semuanya begitu cepat. 

Aku berpikir, jangan-jangan, lelaki tua itu sadar telah kuperhatikan, kemudian mengalihkan perhatianku dengan memandang ke dalam ruangan cafe, dan berlari menabrakkan dirinya pada kendaraan yang melintas.

Tapi untuk apa? Semuanya menjadi tanda tanya besar, mengintaiku sepanjang malam, dan aku tahu, aku tak bisa berbuat apa-apa bila hanya mengandalkan diriku. Melihat diriku sendiri pun aku tak mampu. Aku hanya mengenal beberapa nama yang tertulis. Duniaku sempit, dihimpit oleh klise hitam dan pembatas buku.

Aku ingin berteriak, mengapa aku ditinggal di sini, di antara meja dan kursi-kursi. Juga aku ingin memohon, untuk dikeluarkan dari buku ini.  

  • view 146