Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 11 April 2016   03:22 WIB
Kopi dan Si Peka Hati

Adzan Isya mulai terdengar sayup, antara suara adzan atau teriak, si orang tua muadzzin melantangkan suaranya: “Hayya alaccalaaaa.”

Bu’i, (nama orang, untuk mengejanya ada sedikit penekanan setelah huruf U) baru saja bangun dari tidur panjangnya. Mungkin kupingnya tersadar dengan suara adzan bin teriak.

Perlahan merangkak turun dari ranjangnya, masih terkantuk, belum sadar sepenuhnya, mencari rokok yang yang ia sembunyikan di bawah tumpukan koran koleksinya. Seraya menggaruk kepalanya, dia kembali mencari rokoknya. Tidak ada. Hilang.

Dibongkarnya koran itu lalu dibuang ke sembarang tempat. Tapi juga masih tidak ada. Perlahan hatinya mendongkol, “Pasti si Boy yang sembunyiin nih.”

Segara ia menuruni tangga, masuk WC, mencuci muka, lalu setengah berlari menuju ruang tamu asrama. Didapatinya si Boy dan beberapa senior tengah duduk seraya menghisap rokok. Sedikit melirik ke arah meja, didapatinya sisa bungkusan rokoknya yang telah habis. “Kampret,” gerutunya dalam hati.

Boy barang sedikit cengengesan, ketawa seperti kucing habis curi ikan.

Bu’i, yang hatinya telah panas, mencoba untuk meredamnya, sebab, tidak etis rasanya  bila marah-marah dihadapan senior.

Seakan tahu suasana hati, Boy langsung merogoh lipatan sarung yang disampirkan di pundaknya, mengeluarkan benda putih persegi empat, lalu mengatakan, “Ini rokokmu bos, hahaha.”

***

Sangat kebetulan bisa berkumpul di ruang tamu secara bersamaan, bersama senior pula. Waktu yang tepat untuk sekedar sharing dan meminta pendapat, saling berdiskusi, dan berbagi pengalaman.

Untuk sekedar informasi, Bu’i itu adalah aku, yang sekarang tengah memasak kopi di dapur, setelah mendapat lirikan mata senior yang kelihatannya membutuhkan kopi sebagai penyambung hidupnya.

Setelah jadi, kubawa tiga gelas kopi yang kutaruh di piring, membawanya ke ruang tamu.

“Ini kopi buatan bartender, kanda.” Ucapku setelah meletakkan gelas kopi.

Nama Kanda memang hal lumrah bagi mahasiswa dari rantau Sulawesi ini. Kanda adalah nama penghormatan kepada yang lebih tua. Hanya saja, di kampusku ini, pangkat “Kanda” sering dikaitkan dengan ciri salah-satu organisasi “Hijau”. Padahal, kanda hanyalah sebuah nama. Iya, apalah arti sebuah nama.

“Bartender? Apa itu?” ucap salah satu senior.

“Sejenis peramu kopi, seperti Ben dalam cerita Filosopi Kopi, Kanda.”

“Biar sedikit kucoba.” Menghirupnya secara perlahan, lalu kembali berujar, “Kopi Toraja kan?”

Senior pecinta kopi ini namanya Kanda Duz. Entahlah siapa nama aslinya. Hanya Duz yang biasanya orang memanggilnya.

“Aih, kok tahu?”

“Jelas tahu lah, minuman andalanku. Cuman ini terlalu kental, terlalu banyak bubuknya tadi kau masukkan. Eh, kopi ini kau rebus yah? Siapa yang ajari?”

“Oh itu, lihat di internet kanda. Katanya, kalau direbus rasanya lebih mantap. Pas untuk ditemani rokok kretek.”

“Yahh, lumayanlah. Sini duduk dekatku.” Ujar Kanda Duz.

Aku duduk, mengambil kembali rokokku yang disembunyikan Boy. Kuhisap, ahhh, Nikmat rokok manakah yang kau dustakan?

“Eh, Boy, kampungmu di Makassar kan?” kata Kanda Duz.

“Iya, kanda.”

“Kemarin pembalap liarnya banyak yang ditangkap polisi.”

“Sudah biasa itu kanda. Jadi, mereka itu, kalau lagi balap tidak afdol kalau belum ditangkap polisi. Katanya di situ seninya. Cuman yang susah itu kalau motornya tidak bisa diambil dari kantor polisi, atau disuruh pegang knalpot motor yang panas sama polisi. Wehh...”

“Wih, sangar yah. Jadi kau sering ikut balap-balap juga?”

“Sebenarnya tidak sering kanda. Cuman kadang kalau habis main di Pantai Losari, biasanya singgah dulu lihat balapan. Bahkan kadang ada intel yang juga ikut menonton. Aturannya simpel, jangan sampai jatuh dari motor kalau lagi balapan. Kalau jatuh, biasanya intel langsung tangkap terus dipukul.”

Asap mulai mengepul di ruang tamu asrama. Kanda Duz sekali-kali menghirup kopinya kemudian disusul hisapan rokoknya. Aku hanya mengamati perbincangan.

“Seru berarti yah. Kalau di kampungku, Pinrang, itu orang-orangnya gampang tersinggung. Apalagi dibikin malu. Contohnya kemarin, anaknya Puang Agus yang kawin lari dengan pacarnya. Itu Puang Agus bukan main marahnya. Dikejar pakai motor anaknya sampai Palopo. Mungkin, kalau Anregurutta (Anregurutta adalah tingkatan Kiai di Jawa) tidak datang melerai, kepala anaknya sudah terbelah dua.”

Mataku melotot, telingaku kupertajam. Cerita tersebut juga pernah terjadi di kampungku. Kalau bisa sedikit kusimpulkan, rupa-rupanya sama kejadiannya. Cuman tempatnya yang berbeda.

“Jadi, bagaimana keadaannya anak Puang Agus? Menginap di mana kalau begitu?” Ujar Boy ditengah kesibukannya menghisap rokok kretek. Sesekali memegangi mulutnya, mengambil beberapa butir tembakau yang melengket di bibirnya.

“Tidak mungkin kembali ke rumah.” Kata Kanda Duz. Menandaskan kopinya.

Begitulah pertukaran ucapan hilir mudik melintasi telingaku. Seringkali terdengar ucapan bahwa suku kasar, tega dengan anak sendiri dan lain sebagainya. Karena greget, aku yang tidak mau ketinggalan, juga ikut berpendapat.

“Sebenarnya, hampir semua masyarakat Sulawesi gampang tersinggung, apalagi dibikin malu martabat keluarganya. Itulah dulu ada namanya tradisi ‘baku tikam di dalam sarung’, apabila terdapat dua belah pihak yang saling bersinggungan, dan itu dibolehkan oleh pihak kerajaan. Azas malu itu yang paling kental. Mereka tidaklah kasar, hanya hatinya yang terlalu peka. Kalau demikian, mereka sebenarnya sangat halus. Dalam bertutur, bertingkah laku, akan selalu dipikirkan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kalau sudah terlanjur tersinggung, biasanya pihak yang tersinggung tidak akan berhenti sebelum ada yang mati....lalu...”

Tiba-tiba lampu asrama redup. Memutus kelanjutan ucapanku. Serempak  suara teriakan tetangga terdengar mengutuki.

 

Pondok Cabe, 11 April 2015.

Karya : Muhammad Ihsan