Pelukis, Sastrawan, dan Manusia Tradisional: Perlawanan Terhadap Akal

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Budaya
dipublikasikan 30 Maret 2016
Pelukis, Sastrawan, dan Manusia Tradisional: Perlawanan Terhadap Akal

Manusia, jangan sekali-kali menyepelekan apalagi membuatnya sederhana. Kata-kata ini setidaknya yang kupahami dari seorang Pramudya dalam Tetralogi Pulau Buruhnya. Meskipun Pram tidak mengenal siapa saya, tempat nongkrong dimana saya, pake sepatu warna apa, tapi lewat kata-kata itu dia seperti menuduhku. Menuduh bahwa aku layaknya orang yang sangat menyepelekan manusia. Meskipun Pram tak ada niat untuk menuduhku seperti itu, aku tahu, tapi kata-kata itu bukan miliknya lagi. Itu milikku, milikmu, dan milik semua manusia yang membacanya. Karena milikku, maka bebas tafsiran saya hendak membawanya kemana.

Memang realitas kita tak bisa menyepelekan manusia. Mulai dari pemikirannya, perwajahan hatinya, hingga kelakuannya. Kalau lebih jauh, akan sampai pada pembahasan alam sadar dan alam bawah sadar manusia. Alam bawah sadar lebih kompleks dari alam sadar, sebab daya ingat masa silam selalu tersimpan di dalamnya.

Terutama pada perwajahan perasaan manusia, tak ada yang mampu menebak bagaimana penggambaran tepatnya. Manusia masa lampau misalnya, yang terpaut beberapa ribu bahkan jutaan tahun dengan kita, dalam mengungkapkan perasaan takjubnya pada inmateri atau metafisika, mereka menggambarkannya dalam bentuk rupa-rupa di gua. Lalu kita yang hidup pada masa sekarang ini, menemukan lantas mengamati gambar tersebut, juga mencoba untuk menerka-nerka bagaimana perasaan manusia-manusia masa lalu.

Demikian mafhum kita pada masa modern saat ini. Masa lampau memang selalu dihantui oleh perasaan gaib dan aura mistik. Karena penasaran yang tinggi sekaligus takjub, maka mereka mencoba untuk menyentuhnya, mempersonalisasikannya, agar manusia yang terbatas kemampuannya dapat memahami dan menyentuhnya, namun tidak pernah bisa menggapainya. Hanya sepintas untuk meraba-raba tanpa tahu kepastiannya. Tapi yang pasti, begitulah cara mereka menggambarkan perasaan mereka.

Memasuki era modern, dimana acuan dalam pembacaan realitas adalah kemajuan. Hal tersebut berimplikasi pada pengetahuan yang bersifat objektif, bebas nilai, tak ada yang salah dan tak ada yang benar. Pengetahuan tersebut menekankan pada titik akal di atas segalanya. Sehingga dengan demikian, dalam menjawab sesuatu yang bersifat ?metafisika?, selalu mengacu pada jalan materi dan sains. sederhananya, menjawab sesuatu haruslah ilmiah, masuk akal.

Dampak yang ditimbulkan adalah kecendrungan manusia modern yang kehilangan perasaan spiritual sebagaimana yang dirasakan manusia pada masa lampau (tradisional). Meskipun peradaban semakin maju, namun hati menjadi kering dan rapuh.

Sebenarnya, saya terpukau dengan pernyataan Karen dalam buku ?Sejarah Tuhan? yang mengatakan bahwa persamaan manusia tradisional dengan para sastrawan dan para pelukis itu sama. Manusia tradisional dalam menumpahkan perasaannya melalui gambaran rupa-rupa di gua, sementara sastrawan dan pelukis menumpahkannya melalui pena dan coretan warnanya sebagai mediasi bahasa perasaannya. Bila dihadapkan pada pertanyaan, apakah kita bisa mengerti perasaan sastrawan dalam menggurat kata-kalimatnya, dan perasaan pelukis dengan coretan warnanya?

Menurut saya tidak. Kita akan sulit menggapai perwajahan perasaan sastrawan dan pelukis hanya dengan mencermati kata-kalimat dan coretan warna, sebab hal tersebut belum lagi mencapai semua perasaannya. Demikian halnya dengan manusia tradisional, kita tak akan mampu menggapai perasaan takjubnya.

Tapi biarlah kita jangan memahaminya. Biarkan saja ia tak terbatas makna. Dengan begitu, meraba-raba menggunakan hati akan meneguhkan kekayaan spiritual kita.

Akhirnya, saya pribadi menentukan pilihan pada jalur manusia tradisional. Sebab bila ditimbang-timbang, mending kaya spiritual dibanding mempertuhankan akal dan pengetahuannya. Seharusnya, manusia pengusung modernis kembali merekontruksi ulang atas pembacaan realitasnya dengan menempatkan kekayaan spiritual sebagai fondasi awalnya.

  • view 183