Puisi Juga Bisa Berkisah

Muhammad Ihsan
Karya Muhammad Ihsan Kategori Buku
dipublikasikan 24 Maret 2016
Puisi Juga Bisa Berkisah

Kampung Halaman

Imam Budiman

Waktu, demikianlah kita menamainya tanpa pernah bisa menyentuh apalagi memegang gangangnya untuk berhenti barang sejenak. Dia akan terus berlalu tanpa pernah pamit pada manusia, kecuali ada secuil kisah yang tersimpan dalam lembaran kertas, dibaca dan direnungi maknanya, maka waktu biarlah terus berjalan, sementara kisah yang tersimpan dalam lembaran kertas itu bercerita bagaimana waktu memperlakukan manusia.

Adalah Imam Budiman, si anak waktu, menjadi pelaku yang hendak berkisah melalui karya buku terbarunya, ?Kampung Halaman?. Buku ini adalah karya kesekian yang pernah ditulis oleh Imam. Sebab yang lalu-lalu, buku pertamanya yang berjudul ?Perjalanan Seribu Warna? adalah karyanya yang mengisahkan warna-warni hidupnya.

?Kampung Halaman? adalah kumpulan puisi yang bertebaran di berbagai media cetak maupun online kemudian dijadikan satu buku. Di dalamnya tertera jelas pembabakan puisi-puisinya antara tahun 2014-2015. Meskipun demikian, saya meyakini bahwa puisi-puisi itu ditulis bukan hanya pada tahun 2014 sampai 2015, tapi jauh sebelum tahun itu. Sebab, kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa, bukan lahir begitu saja, tapi dia lahir dari anak menjadi dewasa, sehingga menimbulkan rasa yang dalam yang sulit untuk dibahasakan, kemudian dapat dinikmati pada tahun 2014 sampai 2015.

Dalam karyanya ini banyak mengisahkan serpihan perjalanan hidup yang coba untuk dilukiskan dengan puisi-puisi. Tapi bukan mudah untuk memahami maksud dari puisinya, sebab seringkali kita terjebak dalam arus narasi ceritanya, lantas lupa untuk menangkap apa maksudnya. Hal ini dapat dilihat dari salah satu puisinya pada halaman 13 yang berjudul ?Anak Capung?. Begini Imam Menuliskannya:

Lama tak kulihat capung yang sekali dua kali / Menyentuh-nyentuh genangan air; berkecipak

Di masa kecil kita dulu, kita sorak menamainya anak kesisiur / Entah apa yang dilakukannya, mungkin ia tengah melepas dahaga / Atau juga ia tengah mencoba bersahabat pada dua kuntum betina pagi / Capung itu berdelik, lantas menjauh terbang, pergi

Dan katamu, capung itu adalah patahan sayap malaikat yang lengah

Bagi saya, yang nista ini, memahami kisah masa kecil Imam adalah lumrah dan bisa saya rasakan sebab pernah pula saya lalui. Namun menjelang kalimat akhir puisi ini, saya digemparkan dengan kalimat capung adalah patahan sayap malaikat yang lengah. Dari situ kemudian timbul pertanyaan, bagaimana seharusnya memahami akhir kata puisi ini? Haruskah pembaca mengambil tempat sebagai orang ketiga? Pada pertanyaan terakhir itu saya menolak, sebab puisi adalah karya yang paling otoriter, bebas makna, nilai dan suasana.

Dari yang kuketahui bahwa pemahaman pembaca tak akan jauh dari pengalaman hidupnya. Apalagi ketika menemukan kalimat-kalimat yang mengantarkan pada ingatan masa lalunya. Dalam hal yang menggambarkan suasana contohnya, maka penggambaran itu akan dicocok-cocokkan dengan kata-kata puisi yang dibacanya sehingga kadang pembaca menganggap dirinya adalah orang pertama, kadang pula menjadi orang kedua. Dan memang, puisi-puisi Imam Budiman yang dihimpun dalam ?Kampung Halaman? ini, kebanyakan berkisah masa lalu hidupnya, membuat cerita tersendiri di benak pembacanya.

Selain dari kisah perjalanan hidupnya, juga terdapat puisi-puisi yang bernada sarkasme dan kritik atas kejadian yang membuatnya gelisah. Seperti puisi dengan judul ?Kampung Kami?, ?Lacur-Lacur?, ?Telunjuk?, ?Honorarium Menulis?, dan masih banyak lagi. Ajaibnya, puisi-puisi itu dalam menyebut objek tertuduh, Imam menuliskannya secara sedikit tersirat, dan lagi-lagi membuat pembacanya berimajinasi, mencari makna yang paling pas untuk dipahami. Tapi itulah yang menjadi ciri khas dari Imam Budiman, dia mampu menangkap kejadian kecil, mengangkatnya dalam sebuah puisi sederhana tapi penuh arti.

Akhirnya, sebagai seorang penulis yang aktif bergelut dalam dunia sastra, memang seharusnya banyak menimba berkaca dari para penyair ulung. Demikian halnya dengan Imam, juga banyak berguru kepada seorang yang disebutnya sebagai Mahaguru, Sapardi Djoko Damono. Dalam pertemuan-pertemuannya, Imam mengabadikannya menjadi sebuah karya berjudul ?Ruang Tamu Sapardi, I?. Berikut beberapa penggalannya: ?Aku datang kemari dan mencatat apa saja / yang melompat, tersedak, luap-meledak / dari sarang suaramu, tuan / kuraba-raba serak napas dan masa lalu, hingga / aku merasa segan mempersoalkan mengenai ?nokturno?-mu dan ?nocturno? kepemilikan / si jalang kata; Khairil Anwar.

Kalau boleh sedikiti saran, Imam, jangan ajak saya beragama pada bambu.

  • view 386