September Ends

Siti Solihat
Karya Siti Solihat Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2017
September Ends

September Ends

 We keep this love in a photograph

We made these memories for ourselves

Where our eyes are never closing

Our hearts are never broken

And times forever frozen, still

Ed Sheraan - Photograp

 

Aang pasti akan balik kok yang. Sabar yaa

Love youu

Aku mematikan ponselku dan menyusut air mata yang meleleh kembali. Secepat itukah Tuhan?  Lirihku dalam isak tangis.

Ada sesuatu hal yang selalu orang dambakan, yaitu kembali. Bukannya setelah pergi pasti kembali? Ya. Aku yakin sepenuhnya bahwa dia pasti akan kembali setelah menyelesaikan study S2 nya di London, Inggris. Kekasihku, Anggra mendapatkan beasiswa penuh atas study nya itu. Perjuangan juga pengorbanan yang ia kerahkan semaksimal mungkin ternyata membuahkan hasil. 

"I'm so proud of you baby."  Ucapku penuh bangga saat aku mengantarkannya menuju bandara.

"I'm so proud of you too baby. Jangan cengeng, sayang harus kuat. Rajin ibadahnya ya. Jangan lupa jaga toko."  Balas Anggra sambil tertawa kecil. 

"Ii.. Itu pasti." Jawabku manja sambil memencet hidungnya gemas. 

Anggra tertawa. "Tapi kamu janji sama aku, setelah lulus kamu bakal balik lagi ke Indonesia kan? "  Tanyaku meminta kepastian darinya.

Anggra menarik nafas panjang lalu meletakkan kedua tangannya di kedua pundaku. Anggra menunduk sedikit lalu menatap penuh pasti pada kedua bola mataku. "Tia, I swear. I will come back to Indonesia soon after I graduate in there. So, wait me. I promise."  

Aku hanya diam tak bisa bilang apa-apa lagi. Air mataku meleleh dan aku langsung memeluknya erat.  "I will always wait you Anggra. Thanks for trust me. And I trust you."  Ucapku menahan isak tangis.

Anggra melepas pelukannya. "Don't cry, please. Enggak akan lama kok perginya. Cuma satu tahun. Tia harus janji sama Anggra buat belajar yang rajin biar cepet lulus dan dapet nilai cumlaude."  Anggra tersenyum dan kedua jemarinya menghapus air mataku yang tumpah. Aku mengangguk pelan.

"Oh ya, before I go. I have something for you." Anggra mengeluarkan sebuah hadiah dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku. "Anggra harap Tia bisa memakainya setiap hari. Jangan buka sekarang. Nanti kalau Anggra udah take off."

Aku tersenyum senang. "Ok,"  kataku.

"Take care yourself baby!" 

"Also  baby." 

21 September 2016. Untuk terakhir kalinya lambaian tangan itu tercipta. Lambaian tangan yang mengisyaratkan bahwa kau pergi dan pasti kembali.

***

Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku dan Anggra menjalin long distance relationship. Kami hanya bertegur sapa lewat media sosial. Chatingan, video call, voice call, voice not. Hanya itu yang bisa kami lakukan setahun terakhir ini. 

13 September 2017

Me :

Miss you baby..

Kapan pulang??

Cepeet balik sayangggg..

Pengen ketemuu

 Anggra

Soon sayang. Sabaar.. 

Tanggal 23  Aang balik.

Tunggu yaa. Aang pasti pulang.

Aku menangis lagi membaca chat itu. Chat terakhir yang dia kirimkan sebelum pergi untuk Hiking. 

Hari-hari yang ditunggu serasa lama. Aku tak sabar menantikan kepulangannya. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri mengunjungi rumahnya yang jaraknya tak jauh dari rumahku.

"Belum pulang Nak. Tunggu saja. Anggra pasti akan pulang." Bapak Anggra selalu menjawab dengan jawaban yang sama tiap kali aku menanyakan, "Apa Anggra pulang lebih dulu?".

Sampai di waktu sore itu. Saat hari ke 3 dia hiking bersama satu orang temannya aku hilang kontak. Berkali-kali aku menghubunginya namun gagal. Satu notification masuk. Sebuah email. Aku mengerutkan kening. Email? Siapa yang kirim email?

 

From : studentslondonxxxx

Subject : Urgent

To : tiaxxxxx

Dear Tia,

We infrom to you that Anggra Anugrah had accident in Mont Blanc, Italy on September 17th 2017. Now, He was in Medical Hospital. The chronology we sent in this picture. Please share this information to his family.

We are sorry to hearing about that. May God give him healty. Please pray for Anggra.

Regard,

Koor. Students London

Anggra?

Kecelakaan?

Hipotermia?

****

Anggra mengalami hipotermia hebat setelah tersesat dan sampai digunung lain yang sedang turun badai salju.

Aku lemas mendengar kabar itu. Bagaimana bisa?

"Sebelum Aang balik ke Indonesia, Aang mau ngerayain kelulusan Aang di sini dengan mendaki gunung."

Itu yang Anggra katakan sebelum pergi mendaki gunung.

Kondisi Anggra saat ini mengalami koma. Mohon doanya dari teman-teman semua.

Kabar buruk mulai berdatangan. Aku terus berdoa untuk keselamatannya. Ingin rasanya aku terbang ke sana dan menjaga disampingnya. Tapi aku tak bisa melakukan itu. I just ordinary girl, no richgirl.

"Inget lagu photographnya- Ed Sheraan ya. Wait for me to come home."

Itu terakhir kali pesan yang dia kirimkan untukku.

Hari ini, hari Jumat 22 September 2013

Aku menantikan kabar darinya. Aku berdoa semoga Anggra lekas sembuh dan segera menempati janjinya untuk pulang ke Indonesia, besok. Dengan mulut penuh doa aku berdoa demi keselamatannya.

Tia yakin, Aang pasti sembuh dan besok akan pulang ke Indonesia. Aang enggak akan mengkhianati janji Aang kan? Aku bertanya pada fotonya sendiri yang kusimpan dalam figura di atas meja belajarku. Bukankah Aang sudah berjanji akan merayakan kelulusan kita bersama disini?

Hari itu adalah hari Jumat, 22 September 2017. Satu hari menjelang kepulangannya ke Indonesia sesuai janjinya 23 September 2017.

Lama aku memandangi fotonya sampai sebuah notifikasi muncul dilayar ponselku.

Innalillahi wa Inna ilahi rojiun.

Aku diam, tubuhku membeku dan nyaris kehilangan keseimbangan..

Ya Tuhan.. Aang?

***

Kamu benar-benar menempati janjimu untuk pulang di hari ini, sayang. 

Tangisku pecah saat jenazah Anggra sampai dirumah duka. Aku memeluk tubuhnya yang sudah dingin, tak bernyawa itu.

Seandainya aku tahu bahwa yang kau maksud adalah pulang selamanya, maka tak akan aku izinkan kau mendaki gunung itu. Tapi bagaimana lagi? Seandainya itu sudah menjadi waktumu untuk pulang pada Tuhanmu, aku tak bisa berbuat banyak. Isak tangisku pecah diantara para pelayat. Orang tua Anggra juga sama, mereka sangat terpukul dengan musibah yang menimpa putra sulungnya itu.

"Yang, lihat. Ini adalah kado pemberian darimu. Aku sudah menggunakannya sesuai permintaanmu. Jilbab ini, yang kau minta untuk selalu aku gunakan. Aku telah menempatinya, tapi mengapa waktumu begitu cepat berlalu? Tak bisakah kau berada disini, satu tahun lagi?"

Aku benar-benar hilang kendali saat itu.

Sampai dipemakaman, aku memeluk nisannya erat. Ya Tuhan inilah akhir dari cerita kami?

***

Aku tak pernah membayangkan, jika foto bersama dibandara satu tahun kemarin itu akan menjadi foto bersama yang terakhir kalinya. Tanggal 23 September, kamu bilang kamu akan pulang? Ya Tuhan. Aku fikir itu akan menjadi moment terindah dalam hidupku. Melihatnya kembali dalam hidupku dan aku bersamanya akan merajut kembali cinta kasih ini tanpa ada halangan jarak dan waktu lagi. Tapi semua harapan itu musnah. Bukan lagi jarak dan waktu yang memisahkan, tapi dunia kita juga sudah berbeda. 

Selamat jalan sayang. Terima kasih untuk tahun-tahun terakhir ini yang telah kau berikan padaku. Terima kasih Aang sayang, sampai kapanpun Tia akan tetap mencintaimu. Terima kasih untuk support yang selalu Aang kasih buat Tia, semua yang Aang lakukan buat Tia is never change. I love you always and always. 

NB : Cerita ini terinspirasi dari Mahasiswa Indonesia yang gugur dalam mencari ilmu di Inggris, Kak Syahri Anggara. Selamat jalan Kak, semoga amal ibadah kakak diterima oleh Allah SWT dan untuk keluarga yang ditinggalkan semoga Allah berikan ketabahan hati. Dan untuk Kak Ayi Mulyadi ini terima kasih untuk postingan di snapgramnya. Semoga Allah memberikan Kakak kekuatan ya :) Keep smile. Allah always be there.

Tasikmalaya, October 2sd, 2017

at 11.30 pm

Ihat Azmi

 

  • view 71