Menjemputmu Kembali

Siti Solihat
Karya Siti Solihat Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 April 2017
Menjemputmu Kembali

Menjemputmu Kembali

By : Ihat Azmi

            Sudah seharusnya perempuan sepertiku bersegera untuk menikah. Ibu, ayah, keluarga, sahabat, juga teman-teman di sekolah, semuanya sering menasihatiku untuk segera menikah. Bahkan sahabat dan teman-temanku disekolah siap sedia untuk membantuku mencari jodoh. Aku hanya tersenyum tipis tiap kali menanggapi tawaran juga nasehat mereka. Untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada karier guruku dan juga program beasiswa untuk kuliah S2 yang sedang aku ikuti. Usiaku saat ini adalah 26 tahun.

            “Hanifah, sampai kapan kamu akan terus menyendiri seperti ini?” Ratih, sahabat terbaikku untuk kesekian kalinya mengingatkanku. Saat ini kami sedang berada di ruang guru, di jam istirahat ke dua.

            “Sampai jodoh menemukanku,” jawabku singkat dengan senyum tipis.

            “Kalau nunggu jodoh menemukanku, as you said ya gak bakalan datanglah. Jodoh itu harus dijemput. Ada usaha buat nyarinya gitu.”

            “Udah selesai ceramahnya?” kataku menahan senyum ‘kesal’ lalu berdiri dari tempat duduk menuju jendela. Dari balik jendela, diluar sana aku melihat kerumunan kecil: murid-murid dilapangan sekolah yang tempatnya tak jauh dari ruang guru. Di siang terik seperti ini? Ada apa? Tanyaku dalam hati. Dan jarum jam tepat menunjukkan waktu pukul 13.00. Saat aku hendak berbalik menuju meja kerjaku, Ratih menahan lengan kananku dari belakang.

            “What happened Hanifah?” Berbarengan dengan pertanyaan Ratih, mataku menemukan seseorang dari balik kerumunan itu.

            Ya Tuhan..

            Mataku terbelalak..

            Dadaku sesak..

            Memoriku seolah sedang ditarik kembali, pada garis yang sudah lama ku tinggalkan.

***

            “Kak, I want to tell you about something,” patah-patah aku mengatakannya dalam bahasa inggris. Aku masih ingat di sore hari, untuk kali pertama aku memberanikan diri berbicara padanya. Saat itu aku masih kuliah tingkat 3 akhir, saat itu aku sedang ppl. Diruang guru, saat semuanya sudah pulang dan yang tersisa tinggal aku dan dia. Dia yang sedang membereskan buku tugas anak-anak langsung terhenti kegiatannya, menoleh sedikit padaku yang berdiri tepat dibelakangnya dengan jarak kira-kira 10 cm.

            “Aku tahu kak, kejadian itu sudah lama berakhir. Tapi aku tak bisa membohongi akan perasaanku. Apalagi saat ini, saat Tuhan mempertemukan aku dengan kakak di dunia nyata untuk pertama kalinya. I still loving you. Kakak enggak usah jawab atas pernyatannku. I just wanna tell about what I feel. I’m sorry, if I disturb you.” Tuturku cepat, jelas, dan penuh emosi itu. Entah mendapat keberanian dari mana aku bisa mengucapkan hal itu. Selama mengatakan hal itu aku hanya menunduk, tak berani menatap matanya. Aku buru-buru berbalik arah menuju meja kerjaku, bergegas siap untuk pulang.

            “Tidak ada yang salah dengan apa yang telah terjadi. Itu hal manusiawi. Yakini saja, jika berjodoh Allah akan mempertemukan kembali,” jawabnya tenang.

            Aku hanya terdiam.

            Tersenyum kecut.

            Bukan jawaban itu yang ku harapkan.

            Mempertemukan kembali?

***

            Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah membiarkan orang asing masuk dalam kehidupanku lalu aku terpedaya olehnya dan dia berhasil mengambil setengah hatiku. Padahal sama sekali, waktu itu aku dan dia belum pernah bertemu. Kenal lewat sms, itupun karena nomor handphoneku diberikan oleh teman sekolahku padanya, yang ternyata temanku itu adalah saudaranya dia. Saat itu aku kelas 2 SMP dan dia kelas 3 SMP. Aku dan dia menjalin sebuah hubungan tanpa status. Alasannya karena aku dan dia belum pernah bertemu. Sms dan chatting di facebook. Itu saja yang selalu kami lakukan. Telefon hanya pernah satu kali. Dulu aku tidak begitu mengerti tentang cinta. Oh cinta.. ahh!! Hingga akhirnya aku telah terlanjur jatuh hati padanya dan disaat itu pula dia justru meninggalkanku. Dan Tuhan kabulkan do’a kami dulu untuk bertemu, saat aku kuliah tingkat 3 ketika aku sedang  ppl. Sekolah yang kutempati saat ini adalah tempat pplku dulu yang ternyata pemilik yayasan sekolah ini adalah ayah dari seseorangku itu.

            “Hai, apa kabar?” tanyanya tepat dihadapanku. Sama disore hari. Persis saat aku mengungkapkan isi hatiku, dulu 4 tahun yang lalu. Aku yang sedang membereskan perlengkapanku di meja kerja sekilas menengok kearahnya.

            “Aku baik,” jawabku pendek. Ngomong-ngomong dia baru pulang dari kuliah S2 nya di Malaysia.

            “Oh ya, saya punya sesuatu untukmu.” Dia menyerahkan sebuah amplop biru padaku. Cantik, dengan pita berwarna pink yang mengikat amplop itu agar tak terbuka. Aku menerima amplop biru itu dengan tangan gemetar. Ku buka pelan amplop biru itu.

            “Apa ini?” tanyaku. Saat tanganku mengambil isi dari amplopnya, baru setengah kertas yang terlihat..

            The Wedding..

            Ervan &...

            Belum tuntas aku membacanya..

            “Datang ya,” ucapnya tersenyum manis sekali. Tak tahan dengan apa yang telah aku baca, aku langsung memasukkan kembali isi amplop itu dan pergi begitu saja meninggalkan dia. Aku langsung berlari-lari kecil menuju gerbang sekolah, menyetop angkot yang lewat. Ingin rasanya aku berteriak. Memaki-maki apa yang telah terjadi barusan. Tapi akal sehatku masih berjalan, mengingatkanku bahwa ini adalah tempat umum.

            “Hanifah! Hanifah! Tunggu..!!” teriaknya dari belakang mencoba mengejarku. Dan untuk pertama kalinya dia memanggil namaku langsung. Namun teriakkannya kuhiraukan.

            “Kamu mau menikah kak?”

            “Menikah? Kenapa tidak denganku?”

            “Perasaannku masih sama kak, tak pernah berubah.”

***

            Sesampainya dirumah aku langsung masuk kamar. Mengunci pintu rapat-rapat. Ku lemparkan amplop biru itu ke tong sampah. Dan aku menjatuhkan diri ke kasur dengan tangis pecah.

            “Kak Ervan jahat! Kak Ervan jahat!!” teraikku disela tangis. “Aku masih sayang kak, berharap kakak yang akan menjadi imamku,” Huhuhu.. tangisku menjadi-jadi. Itu adalah jawaban dari kenapa aku belum saja menikah. Ketukan pintu kuhiraukan. Dari balik pintu kudengar suara ibu memanggil-manggil namaku. Sampai akhirnya tangisku membuatku tertidur lelap.

***

            “Ibu, ibu kok bisa masuk kamar?” tanyaku saat aku bangun. Ku lihat jam dinding dikamar menunjukkan waktu pukul 20.00.

            “Ibu yang dobrak,” jawab ibu pendek. “Sana turun kebawah. Ada seseorang yang dari tadi nungguin kamu.”

            “Seseorang? Siapa bu?” tanyaku sembari mengerutkan kening.

            “Udah sana cepetan,” ibu mendorongku secara paksa untuk keluar dari kamar. Oh iya, jangan-jangan Ratih sudah menungguku dari tadi. Ya Tuhan.. aku kan punya janji sama dia malam ini. Aku langsung menuruni anak tangga saat mengingat hal itu. Aku bahkan tak perduli dengan penampilanku yang acak-acakkan. Dan aku masih menggunakan seragam sekolah. Aku hanya merapikan kerudung instan yang ku pakai.

            “Lho, kok kak Ervan?” aku terkejut saat ku lihat ternyata yang datang itu bukan Ratih, melainkan..

            “Mau ngapain kakak kesini? Bukannya kakak mau nikah?” tanyaku sewot. Dari mana dia tahu alamat rumahku? Apa dia masih mengingat alamat rumahku? Untuk pertama kalinya dia datang ke rumah. Ada rasa sakit yang mengiris hati. Dia datang bukan seperti yang kuharapkan, yaitu datang untuk melamarku. Karena aku tahu dia akan segera menikah dengan orang lain.

            “Kamu sudah baca isi amplop itu seluruhnya?” tanyanya tenang.

            “Sudah.” Jawabku ketus.

            “Yakin sudah?” dia meyakinku.

            Aku diam, sejujurnya aku belum membaca isi amplop itu seluruhnya. Aku hanya baru membaca The Wedding Ervan &... eh tunggu! Bukannya di undangan itu aku tidak membaca siapa calon perempuannya?

            Dia tersenyum menahan tawa, seolah tahu apa yang sedang aku fikirkan.

            “Amplopnya masih ada kan? Coba dibaca ulang lagi.” Pintanya.

            Aku kembali ke kamarku, memungut kembali amplop yang tadi kubuang ke tong sampah.

            The Wedding

            Ervan &...

            Ku buka lembaran selanjutnya.

            Maha suci Allah yang telah mempertemukan kami kembali.

            Hatiku mulai deg-degan tak karuan.

            Hanifah, maukah kamu menulis namamu di dalam undangan ini? Di samping namaku? Jika kamu bersedia, segera tulis namamu dititik-titik yang telah saya sediakan. Lalu kirimkan segera amplop itu kepada saya. Agar saya bisa datang kerumahmu dengan membawa kedua orangtua saya untuk mewujudkan undangan ini.

            Gemetar aku membaca isi amplop biru itu. Tanpa kusadari kedua orangtuaku dan juga kak Ervan sudah berdiri di depanku.

            Aku menatap Kak Ervan, mencari-cari kesungguhan dimatanya. Aku takut kenangan itu tercipta kembali. Saat aku benar-benar jatuh cinta dan kau pergi meninggalkanku.

            “Hanifah, saya datang kembali dalam hidupmu untuk menjemput kenangan kelam darimu. Mewujudkan semua kerinduan yang selama ini menyiksamu. Saat kamu berkata I still loving you, dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya juga masih merasakkan hal yang sama. Hanya saja saya tak ingin buru-buru mengatakan hal itu di waktu yang tak tepat. Saya takut kamu terlalu berharap pada saya, sementara takdir Tuhan kita kan tidak tahu. Cukup kesalahan itu saya lakukan dulu, ketika SMP. Dan itu benar-benar menjadi kenangan buruk bagimu bukan? Maka di waktu yang tepat ini, di hadapan kedua orangtuamu saya meminta dengan kseungguhan hati untuk mempersuntingmu untuk menjadi istri saya.” Ucapnya tegas, jelas dan juga sungguh-sungguh. Aku menelan ludah saat mendengar penjelasan darinya.

            “Will you marry with me?” Pintanya dengan menggunakan bahasa inggris, persis seperti cita-citaku dulu ingin dilamar dengan menggunakan bahasa inggris. Dia masih ingat dengan cita-citaku?

            “Kak Ervan..” jawabku gugup.

            “Ibu, ayah..” aku menatap kedua mata mereka secara bergantian meminta persetujuan mereka. Dan kedua orangtuaku tersenyum, menganggukkan kepala. Tanpa kusadari air mataku banjir membasahi kedua pipiku. Aku terharu sekaligus bahagia atas hal ini.

            Sementara itu Kak Ervan tersenyum manis padaku.

***

            Hari yang telah direncakan akhirnya tiba juga. Alhamdulillah acara pernikahan kami berjalan dengan lancar. Keluarga, sahabat dan juga teman-temanku turut hadir dalam acara pernikahanku. Tak lupa mereka juga mendo’akan kami agar pernikahan kami sakinah, mawadah, warohmah.

            “Akhirnya kamu nikah juga!” ucap Ratih sahabatku sambil memelukku erat. “Aku seneng banget lho dengernya. Suaminya enggak jauh-jauh. Ternyata dari masa lalu, eh.” Celotehnya dicampuri tawa kecil bahagia.

            “Hus, kamu ini.” Aku mencubit lengannya geram.

            Sementara itu, Kak Ervan yang berada di sampingku yang kini menjadi suamiku terseyum bahagia.

            “Kamu mungkin dulu berfikiran kalau saya ini jahat. Meninggalkanmu saat kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada saya. Padahal saat itu juga saya sudah jatuh cinta padamu. Hanya saja saya sadar bahwa jalan yang dulu kita tempuh adalah salah. Dulu jalan kita masih panjang. Saya bahkan belum yakin kamu adalah jodoh saya. Maka dari itu saya memutuskan untuk meninggalkanmu. Karena saya tahu semakin lama kita bersama maka kenangan itu akan semakin banyak. Kamu tahu Hanifah? Hubungan yang ada sebelum menikah itu dilarang oleh agama? Karena hubungan yang dulu pernah tercipta diantara kita itu mengantarkan kita pada jurang zina. Saya tahu kamu sangat sakit hati dan kecewa. Begitu juga dengan saya. Namun, hal itu saya lakukan karena saya tidak mau kita masuk pada hal yang dibenci oleh Tuhan. Dari sana saya belajar untuk mengikhlaskan semua padaNya. Menyerahkan semua urusan hati pada sang pemilik hati yang sesungguhnya. Dan saya memiliki keyakinan jika kamu adalah takdir saya maka akan ada banyak cara untuk Tuhan mempertemukan kita kembali. Dan jika kamu bukan takdir saya maka sama, akan ada banyak cara yang menghalangi agar kita tak kembali bersama. Dan Maha Suci Allah yang telah mempertemukan saya denganmu dengan cara yang di ridhoiNya yaitu pernikahan.” Tutur kak Ervan.

            Aku terdiam membisu, mataku sedikit demi sedikit menitikkan air mata. Forgive me God. Selama ini aku sudah salah menilai semuanya. Dan  terima kasih Tuhan atas kado terindah ini. Terima kasih telah menghadirkan dia kembali dalam hidupku dengan cara yang Kau ridhoi. Terima kasih karena dia telah menjemputku kembali.

 

Tasikmalaya, 9 April 2017

At. 06.10 pm

  • view 162