ASAL USUL SANTRI

Iftah Dhotul
Karya Iftah Dhotul Kategori Sejarah
dipublikasikan 27 April 2016
ASAL USUL SANTRI

Kata “Santri” muncul setelah adanya pesantren. Seorang santri berawal dari anak biasa dari segala keturunan dan latar belakang orang tua yang berbeda-beda. Orang tua santri bermacam-macam, ada yang asli punya garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW, ada yang orang biasa tapi punya tekad yang kuat untuk mendidik anaknya lebih baik, ada yang ingin anaknya bisa mendoakan kedua orang tuanya ketika sudah meninggal, ada yang ikut-ikutan karena gengsi, ada yang ingin seimbang antara ilmu dunia dan akhiratnya, ada yang tidak sanggup mengahadapi anaknya yang nakal, manja, dan tidak patuh pada orang tua, ada yang sudah menjadi tradisi keluarga, dan ada yang hanya digunakan sebagai status dalam kehidupan sosialnya.

Seorang yang menjadi santri prosesnya sangat panjang dan butuh perjuangan serta iman yang kuat. Karena orang menjadi santri tidak hanya yang masuk pesantren atau tinggal di pesantren, namun mereka yang mengikuti semua kegiatan di pesantren, mematuhi semua aturan pesantren dan syari’at- syari’at agama, dan menjalani semua proses yang terjadi di pesantren. Gelar awal seseorang adalah santri yang bisa berubah menjadi ustadz/ustadzah, kyai/b. yai, alim ulama’ dan ahli sufi. Semua itu dengan satu tujuan yaitu untuk selalu dekat dan mendapat ridho Allah SWT. Dengan tekun mempelajari ilmu agama, mengamalkan dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari itu yang dapat merubah status seseorang dari yang biasa menjadi luar biasa.

Hal penting yang harus kita ketahui adalah jangalah terlalu bangga dengan status yang kita dapatkan di dunia. Karena gelar ustadz/ustadzah, kyai, dan ahli sufi itu hanya gelar yang diberikan sesama manusia karena akhlak, ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Namun banggalah ketika gelar itu kita dapatkan langsung dari Allah. Karena di zaman modern ini banyak orang yang mendapatkan gelar tersebut namun perilakunya dan akhlaknya tidak sesuai dengan ilmu yang diperolehnya. Bahkan mereka selalu menawar syari’at-syari’at agama dan mereka lebih takut pada manusia daripada pada Allah SWT. Sehingga mereka akan tenang jika perbuatan maksiyat yang mereka lakukan hanya mereka dan Allah saja yang tahu. Padahal Allah Maha Tahu dan semua status atau gelar manusia di dunia ini sama, yang membedakan adalah iman dan taqwanya.

  • view 331