Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 25 Juli 2018   11:32 WIB
100 Juta

"Terkadang laki-laki itu harus tertekan dulu supaya ia berusaha lebih keras"


--------

"Mau dikasih makan apa?!" kataku.
Sebuah pertanyaan klasik terlontar dari mulutku.

 

"Rizki itu Allah yang ngatur. Yang mutusin kita makan atau enggak ya Allah, bukan kita!"
"Kita cuma pemakan rizki, bukan pemberi." tukasnya.

 

Sebetulnya, ini cuma obrolan ringan saja pada awalnya. Tapi, kalau sudah mulai menyoal soal harta memang beresiko jadi panas.

 

Kami berkumpul di ruang tamu. Membuka dokumen-dokumen lama milik kawanku. Sebuah buku catatan kuning lusuh bertulis "surat menjurat" dengan ejaan jadoelnya, foto-foto pernikahan keluarganya dengan tampilan khas tahun 80 atau 90an. Gelak tawa mengiringi lembaran demi lembaran berwarna sephia.

 

Lima orang, kala itu.
Aku, seorang teman perempuanku dan dua saudara laki-lakinya, juga seorang teman laki-lakiku.
Kami sudah dekat cukup lama.
Boleh ku bilang, kau hampir bisa bertanya apapun tentangku pada mereka.
Sayangnya tidak full-team, beberapa berhalangan hadir saat itu.

 

Usia kami kini menginjak kepala dua, bahkan aku sudah lebih dulu dari mereka.
Terbiasa dengan obrolan tentang pernikahan sejak masih duduk di bangku mu'allimin -setara SMA kalau di pesantren. Diajari fiqih nikah oleh ustadz. Kadang membuat kami disangka sudah paham betul teori tentang pernikahan.

 

"Jangan teori melulu, kapan prakteknya? Ilmu udah ada, kalau merasa belum sempurna ilmunya kan bisa sambil jalan."
Aku mulai terbiasa dengan pertanyaan dan pernyataan seperti itu.
Meski seperti biasa aku hanya bisa tersenyum atau tertawa dan berdalih lagi.

 

Lalu, terik matahari dari beberapa jendela kotak berbingkai putih yang disusun hampir memenuhi setengah dinding itu terasa juga. Hampir jam 2 siang jika tak salah ingat. Terasa gerah.
Entah mungkin juga karena topik perbincangan kami siang itu.
Membuat aku sedikit kikuk.

 

"Gak perlulah pertanyaan macam 'mau dikasih makan apa', pasti ada jalannya. Kalau sudah menikah laki-laki pasti akan berusaha lebih keras. Kalau tertekan dia akan berusaha lebih." Protesnya. Jiwa kelaki-lakiannya mungkin terusik.

 

"Tertekan? Berarti dengan pernikahan itu dia gak bahagia?" Teman perempuanku meminta klasifikasi lebih.

 

"Bukan gitu. Inget cerita hidupnya kang Dewa di novelmu itu fif. Hidupnya sudah tertekan sejak kecil, jadi udah terbiasa berjuang, bekerja keras. Coba liat dia sekarang." Jawabnya sambil melihat ke arahku meminta persetujuan atau mungkin memintaku mengingat perjuangan hidup seorang Dewa Eka Prayoga.

 

Benakku meng-iya-kan. Betul, kang Dewa memang anak orang biasa, masalah demi masalah menghampirinya sejak kecil. Tapi masalah yang menekannya itu membuat ia tak patah arang. Tanggung jawabnya membuat ia bekerja dan berpikir lebih keras.
Bahagiakah ia selama menjalani prosesnya? Tentu saja ia bahagia tapi juga pernah merasa sedih dan sakit. Itulah episode hidup. Memangnya ada kebahagiaan yang kekal di dunia?
Bahagia itu cara hidup, bukan tujuan hidup.

 

Kang Dewa telah menjalani proses jatuh dan bangun dalam bisnisnya juga dalam kehidupan pribadinya. Dan proses itu masih akan terus berlanjut juga.
Novel "Bidadari untuk Dewa" bercerita tentang kisah nyata kehidupan beliau. Kulahap habis setiap lembarannya. Warna-warni stabilo mewarnai hampir disetiap bab. Tak habis pikir, ini satu-satunya novel yang ku stabilo seakan-akan buku pelajaran.

 

"Dia benar. Manusia memang perlu kesulitan untuk membuatnya naik derajat. Manusia memang perlu target untuk membuatnya terus berusaha. Manusia seringnya memang harus dipaksa dan ditekan dulu." Pikirku.

 

Lalu ia melanjutkan penjelasannya "Laki-laki mungkin diam, tapi kalian harus tahu bahwa dalam diamnya ia juga sedang berusaha. Dan ketika ia merasa sedang ditekan, ia akan berusaha lebih."

 

"Kalau begitu, ini seperti mahar yang diajukan pihak wanita." Aku berpendapat. 
"Sunnahnya memang wanita sebaiknya mempermudah mahar. Tapi seandainya wanita mengajukan mahar 100 juta (mahar yang memberatkan calon suami), kemungkinan ada dua alasan dibaliknya. Pertama, si wanita menyukai harta. Kedua, wanita itu ingin melihat kesungguhan si lelaki. Apa yang akan dilakukan si lelaki ketika ia tertekan dengan permintaan mahar tersebut. Berupayakah atau memilih mundur sebelum berupaya." Simpulku.

 

Mahar itu suatu pemberian terbaik dari laki-laki untuk wanita yang dipinangnya. Bukan terletak pada 'berapa' tapi 'bagaimana' kesungguhan lelaki itu terlihat dari upaya memberikan mahar terbaik. Lagipula, kami kaum hawa yang bercita-cita menjadi pendamping seorang pejuang tak silau dengan harta. Kami hanya ingin melihat pantaskah ia dikatakan seorang pejuang, untuk kami temani sepanjang hidupnya.

 

"Berarti gak salahkan ya kalau minta mahar 100 juta?" Candaku.

 

"Ya nanti tinggal cari perempuan yang lain masih banyak." Katanya dengan nada menantang. Dasar lelaki. Aku tau ia juga tak serius seperti candaanku soal mahar 100 juta.

 

"Aku jadi inget perkataannya teh Sonia istrinya Muzammil, dia tulis di caption instagramnya 'Ya Allah aku berlindung kepadamu dari pernikahan tanpa cinta dan cinta tanpa pernikahan'. Sedikit tapi dalem" Teman perempuanku menimpali.

 

Benar, bagaimana pun cinta memang bisa menambahkan kekuatan. Membuat seorang lelaki bertanggung jawab saja berubah menjadi super hero untuk orang yang dicintainya.
Tak usah khawatir jika ia belum mapan. Allah yang menjamin perutmu dan semua kebutuhanmu.
Asal ia beriman, mau bekerja keras, bertanggung jawab, ditambah cinta. Semua itu akan jadi formula ampuh untuk bersama menaklukkan dunia.

 

--------

Aku belajar banyak dari kalian sobat.
Terima kasih telah membentuk diriku.
Terima kasih sudah berbagi rahasia.
Salah satunya rahasia tentang bagaimana memahami jalan pikiran seorang laki-laki. Menarik, sungguh.
Terima kasih bin, ri. Dua abangku.
Terima kasih qis, nan, dif. Tiga wanita ku, yang tidak pernah mempertanyakan mimpi-mimpiku dan hanya sibuk mendukung dan membantu.
Terima kasih atas kesediaannya menemaniku berproses.

 

Kelak, akan ku beritahu suamiku. Kalau kalian sudah seperti keluarga bagiku dan akan selalu seperti itu.

 

Hei kamu.
Pergilah sesukamu, berkelanalah sekehendakmu.
Aku selalu yakin, bahwa sesuatu yang ditakdirkan untuk bersama, dimanapun mereka berada, meski dipojok bumi sekalipun ataupun di kolong langit, Allah pasti akan mempersatukannya.
Saat Allah sudah berkehendak nanti, aku akan bilang "Kamu kemana aja, aku nungguin kamu tau."
Tapi percayalah aku tidak akan marah saat itu, aku justru akan tersenyum lebar. Bersyukur. Hilalnya sudah tampak!

 

Karena saat ini,
Sang mata begitu mencemburui hati.
Mata tidak dapat melihat, tapi hati selalu mengaku rindu.

Karya : Iffah Nurul Izzah