Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 4 Juli 2018   23:50 WIB
Seindah di Zaman Rasulullah

Sebuah notifikasi muncul di layar handphoneku.
Pesan baru di WhatsApp.
Kak Haura!

Setelah obrolan pengantar tidur itu, aku semakin penasaran. Membuat kelopak mata ini enggan beristirahat,"seperti apa kiranya pernikahan anak pejabat itu". Mendengar sedikit kisahnya saja sudah lantas membuat aku berdecak kagum.

Dengan girang aku meminta kak Haura memforward kisah mereka, "Kirim kak, kirim ke WhatsAppku!"

"Pernikahan Menawan Putri Iman"

Oleh: M. Anwar Djaelani

Iman menikahkan putri sulungnya di Masjid Manarul Ilmi ITS. Acara di Sabtu 23/06/2018 itu, berhasil “Mengembalikan kebersahajaan dan kejujuran dari sebuah prosesi pernikahan,” kata Ismail Nachu – Ketua ICMI Jatim. Kemudian, hadir di acara itu, “Terasa seperti dikembalikan ke zaman Rasulullah Saw,” kesan Yulyani - aktivis dakwah dan pengusaha. Tak berlebihankah apresiasi itu?

Mudah dan Indah
Iman, sapaan dari Ir. Iman Supriyono, MM. Dia, Konsultan Manajemen Senior di SNF Consulting. Bagi sahabat dan relasinya, Iman –yang telah menulis 10 buku dan ratusan artikel itu- punya sisi menonjol: Agamis, menomorsatusakan efisiensi, dan tak lelah berkampanye agar kita selalu tepat waktu.

Maka, seperti apakah konsep dan pelaksanaannya saat dia menikahkan Izza, putri sulungnya? Banyak ketidaklaziman yang Iman lakukan. Misal, cara mengundang. Iman tak mencetak kartu undangan. Sebagai gantinya, secara pribadi dia kirim via Whatsapp (WA) berupa Pdf dari kartu undangan. Fotmatnya, cukup menarik.

Di undangan itu, banyak tertera hal yang tak biasa. Misal, undangan ditulis dalam empat bahasa (Indonesia, Arab, Inggris, dan Cina). Digunakannya bahasa Cina karena Izza menyelesaikan S1 di “Chinese Literature Jiangxi Normal University”, setelah dia menamatkan SMP Luqman Al-Hakim Surabaya dan SMA Al-Hidayah di Johor - Malaysia.

Di undangan, ada rincian acara dari menit ke menit. Juga, kabar bahwa tamu tak perlu membawa hadiah dalam bentuk apapun. Tak hanya itu, ada yang “mengejutkan”, yaitu adanya kalimat agar tamu datang sebelum acara dimulai pada pukul 7.00 dan Tuan Rumah sudah siap pada pukul 6.00.

Undangan yang “disebar” pertengahan Ramadhan 2018 itu, di beberapa hari setelahnya, diikuti kiriman WA berikutnya. Bahwa. “Untuk membantu keluarga mempelai mengorganisasikan acara, mohon mengisi konfirmasi kehadiran pada link: https://goo.gl/forms/wxJO6UOQioU8w9zi2. Hasilnya? Dari semua yang terundang, yang mengonfirmasi kehadiran 517 orang dan dengan tambahan keterangan bahwa ada yang menyatakan akan hadir sendirian, berdua, bertiga, dan ada yang bersepuluh.

Lalu, tibalah, Sabtu 23 Juni 2018. Pukul 6.00, Iman, istri, dan sejumlah anaknya bersiap menerima tamu di tangga masjid ITS sisi utara. Para tamu-pun berangsur berdatangan. Setelah bersalaman, tamu melewati teras sebelum masuk ke Ruang Utama Masjid ITS. Di teras itu, tampak Photo Booth yang sederhana.

Undangan laki-laki dan perempuan dipisah oleh pembatas. Sisi kanan atau utara untuk laki-laki dan di sebelahnya untuk perempuan. Terlihat, rata-rata tamu, begitu masuk masjid langsung menunaikan shalat Tahiyatul Masjid dan Dhuha.

Sahabat dan relasi Iman banyak. Maka, tamu-pun terdiri dari banyak kalangan. Misal, ada yang berprofesi Satpam, pendidik, dan pengusaha. Dari sekitar 1400 orang yang hadir, yang banyak tampak -antara lain- adalah aktivis dakwah dan pendidik. 

Sambil menunggu acara dimulai, para tamu akrab berbincang. Ada suasana “Halal bil Halal” karena memang masih di pekan kedua bulan Syawal.

Sesuai agenda, pukul 7.00, Iman masuk Ruang Utama masjid. Dia duduk di depan mihrab tempat akad-nikah. Tepat pk 7.10 Pembawa Acara memulai.

Setelah khutbah nikah, pukul 7.30, ijab-kabul berlangsung. Ringkas, total hanya 20 menit. Pukul 7.55 Pembawa Acara menyilakan hadirin menikmati jamuan di teras sisi timur masjid.

Ada sejumlah meja dengan aneka makanan sederhana. Nasi dan lauknya, disediakan dalam kemasan berbungkus: Ada yang berbungkus daun, mika, dan kertas bungkus coklat seperti yang biasa kita lihat. Menunya, ada nasi krawu, nasi campur, nasi uduk, nasi jagung, nasi jajan, dan nasi bakar. Ada juga penganan seperti kacang rebus, pisang rebus, lemper, dan lain-lain.

Para tamu sangat menikmati. Setelah mengambil makanan, mereka duduk dalam lingkaran-lingkaran kecil. Rata-rata mereka makan dengan tangan, tanpa sendok. Sambil makan, mereka berbincang ringan. Sesekali tampak, sebagian lalu pindah ke lingkaran yang lain untuk meluaskan silaturrahim.

"Nuansa kebersamaan kuat karena banyak Ustadz, Guru Besar, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat umum makan bersama. Mereka lesehan di teras masjid. Ini pemandangan yang jarang kita temukan di Walimahan," kata Misbahul Huda – penulis buku “Bukan Sekadar Ayah Biasa” dan Motivator Leadership Spiritual.

Acara ini Islami, sebab –misalnya- tak ada yang makan sambil berdiri. Tak ada yang mengambil makanan lebih dari yang dibutuhkannya. Tak ada sisa makanan yang terbuang. Juga, terasa beradab, sebab tamu bisa rileks berbicara –menyambung silaturrahim- karena tak ada gangguan suara musik yang menggelegar.

Banyak yang terkesan. “Konsep acaranya efektif, khusyu’, khidmat, dan berusaha maksimal menerapkan prinsip-prinsip pernikahan syar'i,” tutur Jauhari Sani – Direktur Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF).

Berkah, Berkah!
Kembali ke paragraf pertama tulisan ini. Berikut kutipan lengkap dari Ismail Nachu, Ketua ICMI Jatim. Bahwa, acara itu berhasil “Mengembalikan kebersahajaan dan kejujuran dari sebuah prosesi pernikahan sebagai pondasi penting dalam membangun rumah tangga, yang selama ini terasa hilang terseret budaya populer yang hedonistik dan penuh pencitraan alias tak sejati”.

"Saya bahagia dan terharu hadir di pernikahan ini. Hadir di acara ini serasa dikembalikan ke masa-masa Rasulullah Saw, sederhana dan penuh kekhusyu'an. Damai dalam keberkahan. ‘Tuan Rumah’ telah menghadirkan konsep pernikahan yang Islami. Saya suka sekali dan kabar tentang ini langsung saya kirim ke anak-anak saya yang masuk usia pernikahan. Bagaimana respon mereka? Suka,” kata Yulyani - Muslimah yang aktif di dunia usaha, sosial, dan politik ini.

Alhasil, “Acara pernikahan ini sangat berkesan dan bisa menginspirasi banyak orang. Bagi yang belum menikah, jangan takut menikah hanya karena merasa tidak mampu menyelenggarakan resepsi yang megah, misalnya. Menikah itu mudah dan murah.
Hal yang kita pentingkan, keberlimpahan berkah,” simpul Anandyah Retno Cahyaningrum – pengamat masalah pendidikan dan keluarga.

Maasyaa Allaah! Kagum!
Tanpa menunggu nanti. Aku sebarkan kisah pernikahan mereka melalui pesan grup juga pesan pribadi kepada teman-teman.

"Ah, kurang! Tulisan ini juga harus aku sebarluaskan lagi. Ini benar-benar bagus untuk mengedukasi umat."

Jadilah, tulisan ini terbit di layar anda.
Kalau anda berkenan membagikan pesan ini kepada kerabat atau keluarga, silahkan bagikan.
Ini bukan tulisan saya, bukan juga karangan fiktif. Ini nyata!

#HalalJourney

Karya : Iffah Nurul Izzah