Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 29 Juni 2018   00:33 WIB
Inilah Cinta

Sadarkah kalau setiap hari mata, telinga, hati dan akal pikiran selalu dijelali dengan hal-hal terkait dengan cinta? Mulai gombalan sepasang kekasih, film-film romantis dengan original soundtrack-nya , buku penuh bahasa kiasan menggugah hati, sampai foto atau gambar yang sengaja dibuat lalu disisipkan kalimat-kalimat indah layaknya pujangga. Begitu indahnya cinta.

Allah SWT menganugerahkan rasa cinta terhadap setiap manusia. Entah cinta terhadap pasangan, hewan kesayangan atau benda favorit. Perasaan yang sanggup membuat gairah seseorang melebihi kebiasaannya, mampu membuat sesuatu menjadi lebih indah. [1]
Namun jangan pernah tanyakan apa itu cinta, karena ulama berpendapat bahwa itu adalah perasaan yang tidak bisa didefinisikan. Dia hanya sebuah perasaan yang tidak bisa digambarkan namun bisa dirasakan. Kata para ulama jatuh cinta itu luapan perasaan paling indah setelah beriman kepada Allah. Seorang penulis berkebangsaan Perancis di abad ke-15 mengungkapkan, “true love is like a ghosts, which everyone talks about and few have seen.”

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Imran ayat 14 yang artinya :

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”


 
Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya. [2]
 
Jadikan sebuah cinta berlandaskan iman dan taqwa. Jangan sampai cinta itu menjadi jurang pemisah antara manusia dengan Khaliq-nya dan menyebabkan antara pecinta dengan yang dicintainya jatuh ke dalam perbuatan nista. Ketika kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah, itu merupakan sebuah masalah besar. Contoh realnya, kita akan buru-buru mengecek hp kita saat ada notifikasi dari orang yang kita suka atau cintai, namun ketika adzan berkumandang apakah kita segesit itu menanggapi panggilannya?  Ketika WA (WhatsApp) kita cuma diread, kita akan marah atau kesal, tapi ketika panggilannya diacuhkan, perintah dan larangannya tidak didengar, pernahkah kita bertanya pada diri kita “Apakah Allah tidak marah atau cemburu?”. Pernahkah telintas dipikiran kita ketika kita bersandar kepada selain Allah, bahwa apa yang kita lakukan itu adalah perbuatan syrik?

Allah itu pencemburu yang baik, ketika kita mencintai makhlukNya melebihi cinta kita kepadaNya. Allah bisa saja mengambil apa yang kita cintai, kapan pun, dimana saja, mau tidak mau. Lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah daripada kehilangan Allah karena sesuatu.   Da Allah mah apa atuh ya, bahkan ketika kita menduakan atau bahkan mentigakanNya, Allah masih memenuhi kebutuhan hidup kita, masih membiarkan kita bernafas. Bayangkan kalau Allah sudah menjadi cinta tertinggi kita, betapa nikmat dan indahnya hidup ini, betapa cinta sejati yang akan kita dapatkan.

Maka jadikan cinta tertinggi kita hanya pada Allah, dan jadikan cinta yang kita miliki lillah-karena Allah. Maka setiap hati kita mulai dagdigdug seer karena cinta yang salah, katakan pada diri kita innii akhofulloh (sesungguhnya aku takut pada Allah) [3].


Allah dulu, Allah lagi, Allah terus..

Innaa sholaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii li-llahi rabbil ‘aalamiin- Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah ,Tuhan semesta alam. [4]

Footnote:

[1] Ust. Tengku Hanan Attaki, http://pemudahijrah.com/falling-in-love-syariah/

[2] Ibnu Qayyim rahimahullâh, kitab ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat)

[3] Q.S. Al-Hasyr : 16

[4] Q.S.Al-An’am : 162

Karya : Iffah Nurul Izzah