Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 27 Juni 2018   22:24 WIB
Kehendak

Boleh jadi, manusia keliru menangkap petunjuk-petunjuk Ilahi...

_________

Islam mengatur hubungan individu dengan aturan yang sangat suci dan menjadikannya mulia.
Ada hubungan persaudaraan, hubungan persahabatan dan ada pula hubungan pernikahan.
Miitsaaqon gholiidzhon begitu dalam firmanNya yang agung, "Perjanjian atau ikatan yang kuat".

Kerap kali doa ini terucap tatkala sepasang insan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
"Sakinah, mawaddah, warahmah" menjadi impian setiap keluarga dan dzurriyah thoyyibah menjadi idamannya.

Dalam bahasa Arab, sakinah berarti ketentraman, lalu mawaddah adalah cinta dan rahmah ialah kasih sayang.

Pernikahan bukan hanya mengubah yang haram menjadi halal.
"Aku akan meng-halal-kanmu", membuat kaum hawa tersenyum sambil tersipu.
Bisa kau bayangkan? Tidakkah itu menyenangkan?
Jujur, Aku juga tersenyum geli membayangkannya hahaha.

Anjuran pernikahan dalam Islam bukan sekedar untuk kepuasan biologis semata, ghorizah nau' istilahnya.
Akan tetapi, Islam telah mengatur agar pernikahan ini juga dalam rangka pewarisan nilai untuk melanggengkan peradaban dunia.

Bukankah wanita adalah tonggak peradaban dunia.
Dari rahimnyalah lahir para ksatria, alim ulama, juga para durjana.

Dari pojok lensaku, harapan itu terlihat membayang.
Tinta merah bertulis 2019.
Tahun depan, tak akan terasa.
Rencana itu begitu meyakinkan bagi iman.
Namun..

Percakapan kami tadi siang membuatku menelan ludah.
Entah darimana datangnya ide pembicaraan itu. Tiba-tiba saja.

"Kak, wanita itu dinikahi karena 4 hal. karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah yang taat beragama, niscaya kamu akan beruntung.”

Aku mengangguk tanda paham. Memiliki ke empatnya sekaligus adalah cita-cita.

"Begitu juga memilih suami. Pilihlah yang sholeh. Tapi bukan sekedar sholeh saja. Walaupun mendapatkan yang sholeh juga sudah beruntung. Lihatlah juga hartanya, keturunan juga parasnya.
Hafizh, kaya, keturunan baik-baik plus ganteng hehe"

Ah, andaikan nikah itu tak usah dipersulit..
Tak semudah itu menjaga diri.
Menjaga jarak dari laki-laki.
Mempertahankan kehormatan hati dan pikiran agar tidak berpeluang zina.
Menjaga perasaan tetap dalam jalurNya.

"Ya Allah jauhkan hamba dari cinta yang salah.." lirih, terucap begitu saja tatkala bayangan seorang lelaki berkelebat dibenakku.

Katanya, cinta orangtua adalah salah satu bentuk cinta Allah bagi kita.
Tak ada orang tua yang ingin anaknya merasakan sakit seperti yang dideritanya, merasakan kepayahan hidup.
Mereka selalu berharap anaknya hidup lebih layak darinya.
Dan mendapatkan laki-laki dengan kriteria sempurna bagi puterinya, orangtua mana yang tak ingin.

Satu tahun, tidak akan terasa.
Apakah aku mampu menjadi selevel dengan laki-laki seperti itu?
Satu tahun, tidak akan terasa.
Akankah dia mampu menjadi laki-laki itu?
Atau seperti apakah rencana sang Kholiq?

Aku gusar. Ku alihkan pandanganku ke ujung jendela disampingku, mencoba memahami jalan takdir Ilahi.
Mencari-cari kisah yang bisa ku ingat dalam memori untukku belajar meneladani.

Konon, Fatimah menyimpan rahasia tentang Ali begitu lama. Begitu lama dan begitu rapat.
Hingga pada akhirnya Allah menyuruh ayahanda Fatimah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam, untuk menikahkan Fatimah dan Ali.
"Ahlan Wa Sahlan!" ucapnya pada Ali.
Rasul menolak pinangan Abu bakar dan Umar lalu menerima Ali !
Padahal Ali sempat berpikir bahwa ia tak begitu pantas bagi fatimah.
Tapi Allah punya kehendaknya sendiri.

Jika takdir Allah bersebrangan atau tidak sejalan dengan mau kita. Jangan terburu-buru memvonis Allah tak adil atau Allah tak memberikan kita yang terbaik sesuai pinta kita.
Sebab, boleh jadi manusialah yang telah keliru menangkap petunjuk-petunjuk dariNya.

Kau tahu? Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita.
Maka berdoa saja agar takdir Allah bertemu dengan pinta kita.
Sejalan. Lalu SAH!

Bukankah doa dapat mengubah takdir!

 

Bandung, Juni 2018.
20 y. o

Karya : Iffah Nurul Izzah