Pernikahan Impian

Pernikahan Impian

Iffah Nurul Izzah
Karya Iffah Nurul Izzah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juni 2018
Pernikahan Impian

"Seperti apa pernikahan impianmu?" tanyamu mengusik lamunanku.
"Tak ada" singkatku.
.....

Menikah bukan hal mudah. Tidak, bukan maksudku nikah itu sulit.
Bukan, bukan. Bukan soal walimah yang dipersulit atau urusan mahar.

Kala itu aku mengurung diriku di kamar. Ada sajadah yang kuhampar dan isak tangis yang coba ku redam dengan dua lengan.
Ia mengetuk pintu kamarku, mencoba mencari tahu ada apa.
"Atur nafasmu.. ayolah!" titahku.

Kejadian kala itu membuat rumah tak lagi seperti rumah, tidak saja bagiku, tapi bagi kami.
Aku sempat kehilangan ia, sosok pahlawan, seorang figur kebanggaanku.
Ibu bilang, "Jaga adik-adikmu".
Hidup menuntutku menyingkirkan kabut-kabut gelap itu sesegera mungkin.

Dulu. Ah, ku harap itu hanya kisah lama saja. Tak perlu berulang lagi.
Sebagaimana kisah di negeri dongeng yang selalu berakhir bahagia bagaimana pun jua.
Meski ku tahu itu tabu, "happilly ever after". Aih, kuno.

Ujian tak datang sekali. Fitrahnya hidup dipenuhi ujian, memang begitu.
Aku tau, terkadang bahkan mungkin seringnya tak mudah. Setidaknya aku belajar.
Dan jangan khawatir, ada Syurga menanti bagi para nahkoda ulung.

Ibnu Qoyyim berkata, "Jika kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu. Niscaya kamu akan meleleh karena cinta kepadaNya."

Aku tahu persis, ada rasa manis diantara rasa lainnya dalam permen nano-nano.

Menikah memang bukan hal mudah. Butuh tenaga super ekstra untuk merawatnya.
Butuh kesabaran dan kecermatan untuk menemukan dia yang mau dan mampu memberikan tangannya jika kelak kau lupa malah memberinya duri.

Menikah bukan sebuah ajang perlombaan siapa cepat.
Ini sebuah maraton teramat panjang yang finishnya di dalam Syurga.

Menikah bukan soal foto berdua, pergi berdua, dunia milik berdua.
Menikah adalah soal berbagi dunia untuk diarungi bersama-sama.

Menikah bukan soal mewahnya walimah, gaun apa, sewa WO, berapa ratus, ribu atau juta undangan yang disebar dan lainnya.
Menikah soal menerima.
Ya, saling menerima apa yang bisa satu sama lain berikan.

Menikah itu mewujudkan visi bersama.
Menikah itu juga sunnah Rasul.
Teladani ia dalam menjalani juga dalam menanti dan menjemputnya.

.....

"Masa tidak ada?" tanyamu sekali lagi.
Aku balas tersenyum.

Jika menjadi Fatimah tak kunjung membuatmu melangkah. Menjadi seperti bunda Khadijah pun sama-sama mulia.
_______

"Enggak usah nanya dia serius atau engga sama kamu. Lihat aja bukti dan usahanya. Kalau dia serius pasti bakalan melangkah. Kalau enggak serius ya mundur selangkah demi selangkah"
- @anidamirak -

  • view 86