Romansa

Iffah Nurul Izzah
Karya Iffah Nurul Izzah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Maret 2018
Romansa

Kamu bercerita banyak hal sepanjang perjalanan, sambil menyusuri pematang sawah, jalanan panjang, hamparan hutan, perbukitan. Seperti biasa aku tersenyum mendengarkan dengan khusyuk. Kau mengenalku sebagai orang yang tak banyak bicara. Sesekali semangatku terbakar, sesekali perih terasa, sesekali terbang dalam romansa. Kisah-kisah para ksatria dan salafus shalih rasanya telah kau khatamkan. Gambaran kejayaan Islam, terpetakan dalam benakku, lewatmu. Bak ensiklopedia berjalan, pikirku lucu. Sesekali ceritamu menyimpang, candaan yang mengocok perut atau malah kisah hidupmu yang kau ceritakan seolah kau seorang tokoh masyhur. Sempurna, pikirku.

Ku nikmati suguhan alam di sekitar. Ku tarik nafas dalam-dalam tanda begitu dalamnya nikmat harus ku syukuri. Udara dingin gagal menembus relung yang tengah meng-hangat. Tanpa matcha latte hangat kali ini, hanya karena Dia dan kamu, sukses total!

 Derap kakimu berhenti seketika. Aku terhenyak. Ada apa?!

"Bawa mushaf? kita duduk di sini"

Baiklah, apa lagi mau si tuan pintar ini.

"Tolong, halaman pertama surah maryam. aku ingin dengar" pintamu.

"Kaaf Ha Ya 'Aiin Shaad, ... "

Kamu tersenyum sambil menatap langit di atas kita,

"Seperti itulah kebesaran Allah, menganugerahkan Yahya bagi Zakariya dan istrinya, sebagai kehidupan, jawaban kerinduan yang mendalam.

Aku memilihmu atas harapan ini. Yahya dari rahimmu, sebagai kehidupan bagi umat yang hampir mati ghirohnya, jawaban dari kerinduan yang mendalam akan bisyarah Rasulullah. Berjanjilah pada RabbMu, seperti aku, jika Allah mengabulkan doa kita, menjadikan dia diantara anak-anak yang shalih, maka akan kita wakafkan anak kita di jalan Allah, sebagai mujahid, sebagai syuhada. Bisa?" Senyummu mengembang, kau ulurkan tanganmu padaku seraya bangkit berdiri.

Aku tak mampu menjawabnya, aku tersentuh cinta. Anggukanku dan simpul dibibirku, sudah cukup menyatakan kesanggupankukan? Diam bagi wanita itu iya, dan kau paham bahwa aku mendengarkanmu meski tak banyak bicara.

 Ku pandangi ia yang kini berjalan di depanku. Aku berlari kecil menghampirinya. Surgaku bersamanya.

  • view 92