Dari Depan Kelas

Ida Kholifa
Karya Ida Kholifa Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 18 Maret 2017
Dari Depan Kelas

Dari Depan Kelas

            Dentum-dentum  detik jam dinding bundar itu bermain nada dengan alunan rintik-rintik hujan di luar kelas. Seperti ruang kelas pada umumnya, ada meja-meja kayu lengkap dengan coretan pena atupun tipe-x, coretan-coretan tak bertema. Juga kursi-kursi yang sebagian mulai usang, berjajar sepasang tiap satu meja.

            Dan aku. Ialah aku, Sebuah papan tulis di depan kelas. Dari sini aku dapat melihat wajah generasi pertiwi. Dari sini aku mampu mengamati gerak-gerik mereka. Dari sini jua aku dapat merekam sebagian kecil ragam cerita anak bangsa dari masa ke masa. Untuk suatu saat dapat ku senandungkan tiap bait kisahnya pada pertiwiku tercinta.

            Pagi. Sebelum memulai kegiatan belajar, seluruh siswa melaksanakan doa bersama. “Siap grak!” seru ketua kelas. Sebagian siswa seketika diam, bersiap melantunkan asma’ul khusna. Tak jarang sebagian yang lain masih sibuk dengan gurauan teman sebangkunya, atau bincang-bincang tentang sinetron malam tadi. Tapi saat sang ketua kelas dengan tegas dan penuh wibawa  berkata “Berdoa, dimulai” Semuanya melantunkan 99 nama-nama Allah yang baik itu. Ada yang diam menunduk meresapi, menurutku mereka itu yang disebut generasi berkarakter. Ada yang kupikir setengah khusyuk, ya karena saat berdo’a kulihat mereka sesekali bergurai. Bagiku mereka tak terlalu istimewa, biasa saja.

            Ya, pernah terlintas di benakku mereka dalam satu ruangan yan sama, dalam sebuah sekolah yang sama, juga warna seragam yang melekat ditubuh merekapun sama. Ah,perbedaan memang tak dapat dipungkiri. Namun ada kesamaan nyata antara mereka, mereka lah putra-putri pertiwi. Masa depan tanah air ada pada pundak mereka.

            Suatu hari, kelas 8 ini digunakan untuk pemadatan materi kelas 9. Ironis, beberapa siswa yang nyatanya berada  pada ambang pintu lulus-tak lulus itu berulah. Ada yang menyobek kamus yang tertinggal di laci meja pojok belakang. Ada juga yang merusak buku catatan yang entah tertinggal atau sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya di laci meja depan, tepat samping dinding sebelah kiri. Serta tangan usil yang mengambil uang bergambar gadis yang tengah menenun, di laci nomor dua dari depan, entah dari mana asal uang itu. Melihat itu semua, aku gemas. Ingin aku menegur, namun aku hanya mampu menyaksikan dan merekamnya dari sini. Dari depan kelas.

            Tepat keesokan harinya, ada siswi merengek karena kamusnya terbagi dua. Atau entahlah terbagi menjadi berapa bagian. Juga siswa yang tak tau bagaimana bisa bukunya rusak sedemikian itu. “Lantas, kenapa tak ada yang merengek kehilangan uang lima ribu???!” gumamku. Desas-desus buku dan kamus itu sampai ke telinga para guru. Hari itu juga, sebelum bel istirahat pertama berdering, guru bagian kesiswaan menggiring tiga siswa yang nakal itu, masuk ke ruang kelas ini.

            “Ayo, akui kesalahan kalian! Kalian itu sebentar lagi UN! mbok yo prihatin! Apa kalian nggak takut, seandainya perbuatan memalukan yang kalian anggap sepele itu menjadi sebab tidak lulusnya kalian? Kalian mau?!!” Bentak wanita yang berperawakan tak terlalu tinggi, tapi begitu telaten menindak lanjuti kenakalan siswanya. Ketiga siswa yang sedari tadi menundukkan kepala mereka, diam beribu bahasa. Mereka menggeleng pelan. Tangan mereka gemetar. “Nah, sekarang cobalah bersikap bertanggung jawab terhadap  apa yang sudah kalian lakukan. Mulai dari kamu!” Ibu guru menunjuk seorang siswa dari ketiga begundal kecil itu yang berdiri paling ujung, sebut saja  namnanya  Nanang. “Saya menyobek buku catatan yang ada di laci itu bu!” kata Nanang, sambil menunjuk meja depan, tepat samping dinding sebelah kiri. Itu tempat duduk Azka, wakil ketua kelas. Dan Azka juga, pemilik buku itu.”Sa...saya minta maaf ya..” sambung Nanang lirih. “Bagaiman Azka? Kamu mau memaafkan kakakmu ini?” tanya Bu Tsani. “I..iya bu, saya ikhlas” jawab Azka. Selanjutnya Nannag menyanggupi mengganti buku Azka, dan tentu siap menyalin catatan di dalamnya ke buku catatan yang baru.

            Selanjutnya siswa berperawakan tinggi yang berdiri di sebelah Nanang, Dika. “Sa..saya merusak kamus terjemah Bahasa Inggris di meja itu!” kata Dika yang jelas terlihat canggung, sambil menunjuk ke arah meja Rani. “Sa...saya minta maaf” sambung Dika. Rani mengangguk. Selanjutnya Dika berjanji akan mengganti kamus Rani dengan kamus baru.

            Terakhir, Adit. “Saya mengambil uang di laci situ  bu!” Ujar Adit, menunjuk ke arah Mira. “Berapa?” tanya bu Tsani. “Lima ribu rupiah” jawab Adit. “Saya minta maaf” sambungnya lagi.”Benar begitu Mira?” tanya Bu Tsani.  Mira berdiri dari tempat duduknya perlahan, menarik nafas perlahan sambil tersenyum dan menghembuskannya. “Maaf  bu, itu bukan uang saya” seisi kelas hening. “Sudah hampir satu minggu uang itu ada di laci saya. Tadinya saya pikir pemilik uang itu adalah salah satu siswa  ekskul marcing band, yang sering memakai kelas ini untuk latiahn not-not nada lagu baru, tapi saya tunggu sampai beberapa hari tidak ada yang menanyakan tentang uang itu ke kelas ini. Seorangpun, tidak ada.” Mira menjelaskan. “Jadi saya berniat untuk memasukan uang tersebut ke kotak amal madrasah senin depan, tapi tiba-tiba  pagi ini uang itu sudah tidak ada lagi. Ya sudah, saya pikir artinya tanggung jawab saya pada uang tersebut juga sudah tidak ada” sambungnya. Bu Tsani tak bergeming, juga orang-orang di ruang kelas itu.

            “Lihat! Dengar! Dia saja yang jelas bisa saja dengan mudah menyimpan uang itu sendiri, tidak berani mengambilnya karena tahu itu bukan haknya. Seharusnya kamu malu!” tegas Bu Tsani pada Adit. Adit mengangguk. “Ini juga menjadi pelajaran untuk semua siswa. Jangan mengambil hak orang lain, sekecil apapun itu. Sekalipun tak ada orang yang dirugikan” sambungnya.

            Aku bangga. Mira, aku bangga padanya. Oh pertiwiku, inilah setitik cerita mulia yang ingin kusampaikan padamu. Aku percaya, masih ada Mira-Mira yang lain di pelosok negri ini. Banyak kisah-kisah kecil berkilauan, cerita generasi merah putih tuk tanah air tercinta, Indonesia.

 Batang, 2015

 

 

 

  • view 65