Penghukuman

Ifatul Khasanah
Karya Ifatul Khasanah Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 04 September 2016
Penghukuman

Hal terbaik yang perlu dilakukan oleh seorang pembuat kesalahan adalah tekad untuk tidak akan melakukannya lagi. Setelah itu, apapun metode kuratifnya itu terserah yang melaksanakan. Terserah yang menghukum. Jika pada saatnya dia harus dihukum mati –dan mengakhiri segalanya begitu saja– ya silahkan. Jika dihukum secara temporal, menjeranya, ya mangga juga.

—— 

Pagi yang sendu membungkam sarapan kita. Menenggelamkan ribuan tanya yang sebenarnya ingin diungkap, ditembakkan pada sesamanya. Tapi kita bungkam saja. Diam, hanya suara penggorengan yang mendesis saat kaumasukkan kentang basah ke minyak panas.

Pagi sudah pergi tapi sendunya masih disini. Kita masih tak bicara apapun, meski kau tetap menyelesaikan pekerjaanmu, membereskan tiap kamar rumah kita, mencuci piring sarapan, memandikan anak kita yang sedang lucu lucunya. Tapi kau diam saja selama itu kepadaku. Meski kau tetap berusaha bahagia di depan anak bayi kita. Kau tetap menimangnya dan menyanyikan lagu saat memakaikan baju gambar panda.

Saat jam makan siang, kau menyiapkan semuanya. Nasi dan sayur asem, tempe goreng, ikan asin, sambal dan kerupuk. Kau siapkan dua piring, untukku dan untukmu, juga kursi bayi di salah satu sisi meja makan, untuk anak kita. Kau ambilkan untukku nasi dan pauknya, dengan takaran porsi yang pas. Kau masih sama seperti biasanya, masakanmu masih pas-pas an rasanya, tapi kau diam saja. Belum pula bicara padaku, sepatah katapun. Kau suapi anak kita dengan adonan bubur, brokoli dan daging ayam. Kau bersihkan pipi besarnya dari sisa sisa suapan. Tapi kau tak membersihkan apapun dari aku.

Kau masih melakukan semuanya, tapi tak bicara. Tak menanyai proyek apa yang sedang kukerjakan di depan laptop, juga baju apa yang akan digunakan rapat esok hari. Kau diam, dan bagiku, diammu adalah bencana yang tak mampu kuapa apakan.

Selama aku mengenalmu, kau tak pernah berbicara dengan nada tinggi. Kau tak pernah membentak siapapun. Aku tau kau selalu berusaha untuk menjaga nada suaramu. Tapi bagiku, diam mu adalah manifestasi segalanya. Sungguh, aku lebih suka kau menangis berjam jam di dadaku sambil menceritakan kekesalanmu atasku, daripada diam yang menyiksa ini.

Apakah aku perlu dihukum? Pastinya. Biarlah aku dihukum. Biarlah aku menebus semuanya. Tapi kumohon beri aku kesempatan untuk menangis di pelukanmu, meminta maaf dan berjanji tak mengulanginya lagi. Tapi kau diam saja. Dan anak kita menatapku sambil tersenyum tanpa dosa, mempermaikan jempol tangan kanannya. Ya Tuhan, ayah macam apa aku ini yang tega mengkhianati wanita sebaik ibunya.

  • view 170